by

Novia Roziah: Di Balik Jargon Manis Pemberdayaan Perempuan

Novia Roziah, Blogger dan pemerhati keluarga
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam acara seminar bertajuk Empowering Women In The Workplace, yang diselenggarakan di Bali, selasa (9/10/2018) menteri keuangan Sri Mulyani mengungkapkan ” perempuan sangat berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di sebuah negara, sehingga peran perempuan dalam pekerjaan harus ditingkatkan. detiknews.com
Sri Mulyani menambahkan bahwa yang pertama harus dipahami dari sebuah negara itu harus ditingkatkan partisipasi tenaga kerja pereuan, baik untuk perekonomian, untuk perempuan dan untuk keluarganya. Perempuan memiliki “batas waktu” untuk bekerja, dalam artian ketika perempuan telah menikah maka ia akan mengandung dan mengurus bayi.
Setali tiga uang, hal senada juga disampaikan oleh Managing Director IMF Christine Lagarde. Perempuan dianggap sebagai warga kelas dua, dia mencontohkan perlakuan terhadap perempuan jepang beberapa tahun lalu. Tenis adalah cabang olahraga yang dipandang sebelah mata, namun hingga akhirnya ada petenis wanita asal jepang yang memenangkan kejuaraan US Open dan akhirnya tenis menjadi olahraga bernilai tinggi. ” jadi saya pikir anda (perempuan) harus masuk dulu ke tempat yang sulit dan melakukan upaya keras untuk berhasil,” jelas dia. detiknews.com
Eksploitasi Berbalut Pemberdayaan Perempuan
Sepintas, semua ungkapan dan pernyataan dari beberapa tokoh perempuan tersebut memberi harapan bagi perempuan untuk menjadi lebih kuat, berdaya dan produktif. Namun, jika kita mau menengok fakta dilapangan dengan gencarnya agenda pemberdayaan perempun ini tidak berkorelasi pada peningkatan taraf hidup perempuan dan keluarga.
Buktinya tingkat percerian dari tahun ke tahun semakin tinggi. Menurut Direktur Jenderal Bimbingan Agama (Dirjen Bimas Islam Kemenag saat membuka pelatihan indepht reporting media islam online di Hotel Lumire Jakarta maret lalu ” Dari seluruh kasus perceraian yang ada sebanyak 70 persen merupakan perceraian yang didahului istri” hidayatullah.com
Hal ini tidak lepas  dari pengaruh kemandirian finansial istri, sehingga menggeser peran suami dalam rumah tangga dan berakibat pada percekcokan dan berujung pada perceraian.
Tidak berlebihan jika kita menganggap perempuan dieksploitasi secara ekonomi dengan mendorong mereka keluar ke ranah publik, baik mengejar karier dengan harapan memiliki gaji yang tinggi, atau mendapatkan kehormatan sebagai perempuan yang mampu bersaing dalam bidang yang di dominasi oleh laki-laki
perempuan berlomba-lomba untuk mereguk secuil kebanggan dengan mengorbankan hal utama yang seharusnya menjadi fokus pekerjaan perempuan. Dengan bergesernya pemahaman perempuan yang menganggap lebih baik menghasilkan uang daripada mengurus keluarga, akan berdampak pada terbengkalainya kehidupan keluarga.
Kembali Pada Islam Perempuan Akan Berdaya
Islam memandang laki-laki dan perempuan adalah hamba Allah. Kedudukannya sama dihadapan Tuhan. Yang membedakan adalah peran mereka sesuai dengan gender yang telah Allah takdirkan untuk mereka. Laki-laki memiliki peran sebagai tulang punggung keluarga, artinya kewajiban untuk mencari nafkah dan mencukupi kebutuhan anak dan istri adalah prioritas utama laki-laki. Maka dari itu, fisik laki-laki lebih kuat digunakan untuk bekerja keras.
Sebaliknya perempuan, dia bukan warga kelas dua. Perempuan memiliki tugas yang sangat penting yakni sebagai manager rumah tangga. Yang bertugas untuk mengatur kebutuhan domestik keluarganya, sehingga seluruh anggota keluarga, baik anak dan suami akan terurus dengan paripurna
Islam mendorong terlaksananya peran ini. Islam memberikan perangkat serta aturan yang dapat memberikan jaminan bagi laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan hak nya. Seperti islam mewajibkan laki laki bekerja, disertai islam mewajibkan negara untuk menyediakan lapangan pekerjaan. Sehingga, dengan terpenuhinya seluruh kebutuhan rumah tangga tidak akan membuat perempuan meninggalkan tugasnya sebagai ibu dan manager rumah tangga.
Dengan mengembalikan makna pemberdayaan perempuan kepada islam. Maka akan kita dapati, sesungguhnya perempuan itu akan benar- benar memiliki kekuatan dan berdaya saat dia bersungguh-sungguh menjalankan peran sebagai pencetak generasi cemerlang. Generasi hasil didikan perempuan berdaya inilah yang akan memberikan sumbangsih besar bagi peradaban dunia. Wallahu’alam bisshowab.[]

Comment

Rekomendasi Berita