by

Nur Fitriyah Asri: Kontradiksi Demokrasi dengan Islam

Nur Fitriyah Asri
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –  Sangat disayangkan ketika sebagian umat Islam meyakini demokrasi adalah sistem terbaik yang tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan menganggapnya sebagai bagian dari Islam. Ironisnya demokrasi masih dianggap kompatibel (kesesuaian) untuk diterapkan di Indonesia. Padahal mayoritas penduduknya adalah umat Islam.
Pada umumnya mereka lupa bahkan buta akan sejarah. Tidak melihat latar belakang yang melingkupi bagaimana kelahiran demokrasi.
Sesungguhnya demokrasi cacat sejak lahir. 
Bahkan di negeri asalnya yakni Yunani sistem ini menuai caci maki. Aristoteles (348-322 SM) menyebut demokrasi sebagai Mobocrasy yang menggambarkan sebuah sistem yang bobrok dan dinilai rentan akan anarchisme (kebrutalan).
Ditilik dari historisnya di Barat, demokrasi lahir sebagai solusi jalan tengah dari dua sisi ekstrim yang berseteru di sepanjang abad V sampai XV M. Di satu sisi, kubu yang didominasi gerejawan yang berkolaborasi dengan para raja Eropa. Mereka menghendaki tunduknya seluruh urusan kehidupan di semua bidang yakni ekonomi, sosial, budaya, politik dan lainnya pada aturan-aturan gereja. 
Di sisi lain, para filosof dan pemikir menolak secara mutlak peran gereja (Katolik) dalam kehidupan. Karena faktanya hanya berpihak pada raja  dipakai alat untuk menghisap kekayaan rakyatnya.
Kemudian terwujudlah jalan tengah yang dikenal dengan paham sekularisme. Paham yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan. 
Agama tidak diingkari secara total, tapi diakui secara terbatas. Yakni hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya.
Lalu, siapakah yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya? 
Tentu manusia itu sendirilah yang mengatur dan membuat hukum. Bukan Tuhan atau agama. Pada titik inilah demokrasi lahir.
Menurut Abraham Lincoln, demokrasi adalah suatu bentuk  sistem pemerintahan dari rakyat,  oleh rakyat dan untuk rakyat. 
Sistem yang dilandasi sekularisme ini,  memandang bahwa manusia berhak membuat hukum (kedaulatan ditangan rakyat yang diwakili oleh anggota parlemen). 
Fitrahnya manusia tidak lepas dari kesalahan dan akalnya terbatas. Hanya Allah yang terbebas dari kesalahan. Ia pun Maha Tahu akan makhluk yang diciptakan-Nya. Di sinilah titik kritis dalam demokrasi yang bertentangan secara frontal dengan Islam.
Sebab di dalam Islam yang berhak membuat hukum hanyalah Allah Swt bukan manusia. Allah Maha Pencipta (al- Khaliq) dan Maha Pengatur (al-Mudabbir). Dalam Islam kedaulatan berada di tangan syara’.
Allah berfirman:
قُلْ إِنِّي عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَكَذَّبْتُمْ بِهِ ۚ مَا عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ يَقُصُّ الْحَقَّ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ
Katakanlah: “Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Alquran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya.Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik”. (QS Al An’am: 57). Dengan demikian demokrasi nyata-nyata bertentangan dengan Islam karena tidak bersumber dari syariat Islam.
Menurut pendapat Plato 
(472-347 SM), di dalam bukunya The Republic,  liberalisasi atau kebebasan adalah akar demokrasi sekaligus 
biang petaka yang menyebabkan negara demokrasi akan gagal selama-lamanya.
Orang kafir saja mengingkari dan menolak demokrasi karena tahu kebobrokannya yang mendewa-dewakan kebebasan. Baik kebebasan berakidah, berpendapat, bertingkah laku dan kebebasan kepemilikan. Masyarakat di dalam sistem ini hanya mengejar kebahagiaan semu dan menipu dengan memperturutkan hawa nafsu.
Inilah penyebab  rusaknya tatanan kehidupan dan hancurnya sebuah peradaban. Lihatlah negara Amerika Serikat dan negeri-negeri muslim termasuk Indonesia yang mengadopsi demokrasi.
Seperti apakah saat ini?
Demokrasi sangat kontradiktif dengan Islam karena di dalam Islam tidak ada kebebasan secara mutlak. Semuanya harus terikat dengan hukum syara’ di semua lini kehidupan, tidak terkecuali dalam tataran negara.
Allah berfirman:
 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS Al Baqarah: 208).
Dilihat dari sumbernya, demokrasi merupakan produk akal manusia, yang kontradiktif dengan Islam yang bersumber dari Allah Swt malalui wahyu yang diturunkan  kepada Rasul-Nya, Muhammad Saw. Keburukan yang menonjol dari demokrasi adalah dalam menentukan kebenaran menggunakan suara mayoritas. Ini jelas bertentangan dengan Islam.
Allah berfirman:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Artinya : “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”.(QS Al An’am:116)
Ada sebagian kalangan menyatakan demokrasi berasal dari Islam, karena disamakan dengan konsep syuro (musyawarah), amar ma’ruf nahyi munkar dan mengoreksi penguasa.
Hal ini tentu saja tidak benar karena dalam sistem demokrasi untuk mengambil mufakat berdasarkan suara mayoritas bukan berdasar haram dan halal. 
Demokrasi menggunakan standar suara mayoritas, adapun Islam tergantung dari materi yang dibahas.
1. Jika materinya menyangkut status hukum syariah, standarnya adalah dalil syariah terkuat, bukan suara mayoritas.
2. Jika materinya menyangkut aspek-aspek teknis dari suatu aktivitas, standarnya suara mayoritas.
3. Jika materinya menyangkut aspek-aspek yang memerlukan keahlian, standarnya adalah pendapat yang paling tepat (ahlinya),  bukan suara mayoritas.
Umat Islam tidak menyadari bahwa sesungguhnya demokrasi itu alat yang dijajakan kafir imperalis ke negeri-negeri muslim.
Begitu rapinya menyembunyikan  kebusukan dan kebobrokannya, demokrasi berhasil membius dan  memalingkan umat dari Islam sebagai agamanya.
Demokrasi bukanlah jalan bagi umat Islam. Menyamakan demokrasi dengan Islam sama dengan menyampurkan yang haq dengan batil.
Allah berfirman: 
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui. (QS Al Baqarah: 42).
Demokrasi merupakan sistem kufur. Menjadi sumber kerusakan, kekacauan dan kehancuran. Haram hukumnya diambil, diterapkan dan dipropagandakan.
Demokrasi harus diganti dengan sistem Islam yaitu dengan ditegakkannya khilafah ala minhajjin nubuwwah.
Sebagai jalan shahih karena merupakan janji Allah dan bisyarah Rasulullah yang akan mewujudkan rahmatan lil alamin. Wallahu ‘alam bish shawab.[]
Nur Fitriyah Asri:  Penulis Buku Opini Member Akademi Menulis Kreatif

Comment

Rekomendasi Berita