by

Peran Penting Wayang Dan Dalang Bagi Bangsa Indonesia

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Jika Dalang adalah Empu kehidupan, maka melekat dengan sendirinya tanggung jawab moral dalam diri setiap dalang, baik saat melakukan pementasan wayang, maupun dalam kehidupan kesehariannya.
“Sebagai Empu Kehidupan, dalang harus menuntun anak bangsa mencapai kehidupan yang seutuhnya. Dan ini adalah pengabdian yang tidak bisa ditawar-tawar,” tandas M. Sobary, budayawan yang menjadi salah satu nara sumber dalam ‘Sarasehan Dalang Nasional 2018’, dengan tema ‘Quo Vadis’ PEPADI, di Hotel Santika, TMII, Jakarta, Sabtu (14/04/18).
Memahami peran Wayang dan kinerja dalang, menurut M. Sobary yang kini masih aktif menulis essay, harus dilihat secara luas dalam bingkai politik kebudayaan Indonesia.
“Jika dalam kebijakan kebudayaan pemerintah harus membuat rakyat tenang, maka peran dalang dan wayangnya, jauh diatas itu. Karena
Wayang bagian dari kearifan bangsa, sementara dlang itu sendiri adalah rohaniawan, empu kehidupan,” papar M. Sobary.
Dengan demikian, sebagai empu kehidupan, lanjut Sobary, maka tugas dan tanggung-jawab dalang adalah, menemukan dan menemukan berbagai masalah kehidupan. 
“Dari situlah mereka lalu melihat kehidupan yang sesungguhnya,” jelas Sobary, yang sempat mengemukakan kekecewaannya, karena acara sarasehan di atas, tidak dihadiri Menteri Kebudayaan.
“Bukan mengecilkan arti direktur kebudayaan yang mewakili menteri. tapi peran dalang dalam kehidupan bangsa Indonesia adalah empu kehidupan, maka menteri pun harus mendengarkan para dalang,” papar Sobary, dengan nada retorik yang menggugah peserta sarasehan, yang terdiri dari para dalang anggota PEPADI dari 18 provinsi.
Melihat kinerja para dalang dalam konteks kekinian, Sobary melihat bahwa pertunjukan wayang  dan dalangnya, harus merebut perhatian dalam dunia media sosial online atau media digital.
“Kita harus merebut kembali kekuatan media sosial, karena perubahan zaman kearah digital tersebut akan terus terjadi,” terang Sobary.
Caranya, menurut Sobary, dengan merebut kembali dunia wayang, memproduksi Mahabarata atau Ramayana dalam corak wayang kulit dan wayang orang, corak komik, diproduksi sesuai karakter pengguna media sosial dan penonton youtube.
“Langgam komunikasi kebahasaan yang bisa dirancang agar bisa nyambung dengan anak muda. Jika bapaknya dalang, maka harus bisa mengajak keluarganya untuk menonton wayang,” simpul Sobar.
Sleanjutnya ia menegaskan bahwa, untuk mengalahkan dominasi Korea dalam kebudayaan pop, harus dikalahkan dengan diplomasi kebudayaan kita yang lebih kaya dan lebih kuat.
Sobary  kemudian mengusulkan agara para dalang berkolaborasi dengan sineas, untuk memproduksi film dengan  mengangkat kisah-kisah heroik dalam dunia pewayangan.
“Bisa saja dibuat film Ramayana atau Mahabarata dalam durasi pendek, kemudian di-share melalui media sosial. Dengan cara itu, wayang bisa menjelajah kesl seantero dunia. Tentu filmnya juga harus ringan dan kekinian sesuai sleera generasi milenial,” urai  Sobary melengkapi gagasannya.
Konsekuensi logis dari peran dalang sebagai Empu Kehidupan itu, tidak serta merta lahir dan terjadi begitu saja. Semuanya membutuhkan kerja keras dan optimisme yang tinggi yang muncul dari dalam diri para dalang, yang kini tersebat di 23 provinsi dibawah naungan organisasi PEPADI.
“Kita punya harapan bahwa PEPADI bisa mendekatkan seniman dalang dengan pemerintah agar bisa menjadi corong pemerintah untuk mensosialisasikan keberhasilan program-program pembangunan di Indonesia dalam segala bidang,” tansas Ketua Umum PEPADI Pusat, H. Kondang Sutrisno SE.
Melalui beberapa program, PEPADI berusaha merangkul para seniman dalang untuk meningkatkan kemampuan. Ada tiga program yang sedang dijalankan PEPADI, yakni Sarasehan, Festival dan Pagelaran.
Seni wayang sebagai `moral agent`, menurut Kondang dapat menjadi benteng dari degradasi moral yang sangat gencar dan mengancam eksistiensi kebudayaan luhur.
 “Wayang seharusnya menyampaikan pesan-pesan moral yang dapat membangun karakter bangsa menjadi lebih baik. PEPADI akan bekerja sama dengan lembaga terkait,” papar Kondang.
Dalam diskusi yang penuh antusias, Taufik Rahzeen, Staf Shli Kementerian Pariwisata, menilai bahwa hari ini, peran ideal dalang kembali dipertanyakan. Apakah masih sesuai dengan peran idealnya?
Menurutnya, fungsi utama seorang dalang adalah ‘fungsi orality’, yakni, kecapakan bicara, kecakapan budaya dan tentu saja kecakapan tekstual.
“Dalang harus memiliki culture orality dengan cara baru, dimana mereka harus memiliki kemampuan kecakapan minimal yang terus berkembang dalam masyarakat modern,” jelasnya.
Sementara itu, nara sumber lainnya, Sugeng P. Haryanto, menilai bahwa peran PEPADI sebagai organisasi para dalam pewayangan dari seluruh Indonesia, harus bersinergi dengan pemerintah seperti  yang pernah dilakukan di era orde baru, misalnya meminta kepada pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata maupun Pemerintah Daera untuk meningkatkan perhatian dan dukungan terhadap seni pedalangan.
“PEPADI harus mendesak agar wayang dan seni pedalangan bisa masuk dalam muatan lokal pada kurikulum pendidikan di tiap tingkatan,” tegas Sugeng.
Masih menurut Sugeng, sebagai pelaku seni, kita harus memasukkan wayang dalam perangkat media komunikasi modern melalui aplikasi-aplikasi yang dapat menggugah minat anak-anak dan generasi muda dalam menikmati hiburan.
“Kita harus mengemas hiburan wayang dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami serta memperpendek durasi menjadi lebih singkat tanpa mengurangi makna dan nilai yang disampaikan,” papar Sugeng.
Akhirnya, Kepala Bidang Humas Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI), Eny Sulistyowati S.Pd , MM, para seniman yang mampu mempertautkan aktivitas keseniannya dengan kekinian, dapat memberi andil memperkuat eksistensi kesenian tradisional.
“Kesenian bukan benda mati yang statis. Tetapi ekspresi para pelakunya yang dari waktu ke waktu juga mengalami perubahan. Ketidakmampuan para seniman melakukan adaptasi terhadap situasi baru, lambat laun dapat menyurutkan keberadaan kesenian tradisional. Para pendukung dan pemangku kesenian tradisional harus mampu memanfaatkan situasi kekinian,” ujarnya.[Buddy Ac]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − 9 =

Rekomendasi Berita