by

Petisi 28, Haris Rusli: Kesadaran Seseorang Tidak Bisa Dibeli

Haris Rusli.[Nicholas/radrindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA
– Pasca pemetapan ahok sebagai tersangka (TSK) kasus penistaan agama, Haris Rusli dari Petisi 28 menyampaikan,
ditinjau dari aspek hukum dan sosial, kondisi ini semacam pukulan telak,
kalau di permainan sepakbola sudah kebobolan 3 gol. 
“Seperti
pada proyek Reklamasi yang terhambat, Ahok TSK. Padahal reklamasi itu
kan merupakan lumbung logistiknya beliau (Jokowi) untuk Pilpres 2019,”
demikian ungkapnya di hadapan wartawan di kawasan menteng, Jakarta
Pusat, Kamis (17/11).
Lebih lanjut
Arief menyatakan, kondisi seperti itulah yang membuat darah Jokowi mengalir, “Nah,
kondisi seperti ini semacam tidak punya kaki lagi, dimana dukungan
politik dan logistik juga gagal ini,” paparnya.
“Lihat
saja, dia tidak mengira, bahkan intel dan kapolri juga. Kok bisa
sebanyak 2 jutaan massa pas demo 411 yang lalu. Bahkan ini kedepan
Kepala BIN, Kapolri bahkan bisa kena serangan jantung,” tukasnya sembari
mencontohkan kondisi seperti Malari saja ketika tahun’74, dimana bisa
terjadi peristiwa pembakaran di kawasan pertokoan bilangan pasar senen
Jakarta Pusat.
“Peristiwa seperti itu bisa saja terjadi mendadak begitu aja ” celetuknya mengingatkan lagi.
Haris Rusli, aktivis yang tergabung dalam
petisi 28 itu menyarankan, ada baiknya kedepan supaya meminta
dukungan politik, dan ke TNI agar kembali ke UUD’45 dan Pancasila,
mengakhiri sistem reformasi ketika itu, dimana telah memgamandemen UUD45
sebanyak empat (4) kali itu.
“Soalnya, kondisi
sekarang kita terancam. Hal ini dikarenakan terlalu emosional.’Hati
jadi retak’, bahkan dalam hubungan pertemanan, hubungan sosial,”
tukasnya lagi.
“Maka itu jangan hanya safari
politik dimana-mana, terlebih juga safari Bhinekka Tunggal Ika juga. Ini
sebuah ancaman yang sewaktu waktu bisa meledak (kesadaran seseorang
tidak bisa dibeli),” demikian ungkapnya.
Memang
bila ditelaah lebih mendalam dan dicermati, Haris mengutarakan,
patut digarisbawahi dimama Basuki Tjahya Purnama (Ahok) ini kan
minoritas, kan dia memaksakan di mana ke empat partai tersandera untuk
mencalonkan dia. 
“Pemerintah nampaknya gagal
memahami peta sosial, seolah-olah yang menggerakan masyarakat adalah
sebuah organisasi. Padahal yang dihadapi masyarakatnya langsung,” papar
haris.
“Pimpinan
ormas meminta untuk jangan demo namun umatnya turun kan itu baru
terjadi ketika itu, kan Habib Rizieq saja suprise kok bisa massa nya
sebanyak ini,” pungkasnya.[Nicholas]

Comment

Rekomendasi Berita