by

Raden Ayu Ekalina Amd: Mengatasi Malas Belajar Pada Anak Usia Dini

Raden Ayu Ekalina Amd, Penulis

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Keluhan yang sering kali didengungkan oleh para orangtua
adalah sifat malas anak. Terutama pada anak usia dini atau balita. Anak yang
enggan/malas belajar bukan berarti ia tidak pintar.


Ada dua faktor penyebab anak malas belajar, pertama dari
dalam dirinya belum ada motivasi untuk belajar. Ini disebabkan karena anak belum tahu manfaat dan tujuan
belajar. Faktor kedua adalah kelelahan fisik. Pada anak usia dini,
banyaknya waktu bermain mereka cukup menguras sebagian energinya.

Kecenderungan para orang tua yang terlalu mudah memberi
label buruk pada anak dapat mematahkan hati anak. Seperti menyebut mereka
dengan kata malas, bodoh, dungu, nakal, susah diatur dan masih banyak lagi.  

TIIPS AGAR ANAK SEMANGAT DAN RAJIN BELAJAR.

Tiap anak punya tipe gaya belajar yang berbeda dan punya
tingkat kecerdasan yang berbeda pula.

1. Sebaiknya  kita
mencari tahu terlebih dahulu penyebab anak malas belajar. Komunikasikan dengan
anak tentang kendala apa saja yang mereka temui ketika proses belajar dimulai.
Kenyamanan  dan suasana belajar di dalam
kelas amatlah penting. Proses belajar yang asyik akan membuat anak betah
berlama lama belajar.

2. Management waktu. Buatlah jadwal jam belajar untuk anak. Berdasarkan
kesepakatan bersama bisa di tetapkan waktu antara belajar dan bermain. Dengan
begitu anak tahu kapan harus bermain dan kapan harus belajar.

3. Berikan motivasi kepada anak dengan cara yang mereka
pahami. 
Pada usia dini, orang tua bisa memberikan contoh sederhana
lewat kisah inspiratif atau cerita yang menarik.

4. Berikan waktu jeda sebentar. Anak anak hanya mampu berkonsentrasi penuh paling lama 20
menit. Selebihnya daya konsentrasi menurun. Untuk itu anak perlu jeda di sela
waktu belajar agar tidak jenuh.

5. Jangan memaksa anak saat frustasi. Anak-anak kadang merasa tertekan disebabkan karena anak
tidak ingin belajar atau sulit untuk mempelajari sesuatu. Kita harus tahu kapan
 anak mengalami frustasi. Jangan mengajak
anak untuk belajar dalam keadaan ini, tunggu sampai suasana hati anak sudah
lebih baik. Setelah itu  kita bisa
membujuk anak untuk belajar lagi.


6. Kenali tipe belajar anak. Anak tipe auditory, lebih menerima dengan cara mendengarkan.
Pada tipe visual anak lebih cepat belajar dengan melihat, sedangkan anak tipe
kinestetik lebih menyukai hal hal yang memaksimalkan seluruh anggota gerak
tubuhnya alias fisik. Hal ini untuk membantu membangun koordinasi,
keseimbangan, keterampilan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan.  
Anak yang belajar dengan metode kurang tepat, hasilnya tidak
akan maksimal.

7. Biasakan memberinya hadiah atau sekadar memberi pujian
pada anak agar tidak mudah menyerah. 
Mengapresiasi hasil belajar anak bisa ditunjukkan dengan
cara sederhana, seperti memberikan tepukan telapak tangan atau acungan jempol.
Dengan begitu anak merasa kerja kerasnya tidak sia sia.

PERBAIKI KUALITAS KITA SEBAGAI ORANGTUA.

Anak anak mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar. Oragtuanya akan menjadi tempat bertanya dan bersandar,
diharapkan mampu memberi solusi pada setiap masalah yang mereka hadapi. 
Dengan kata lain orangtua harus memiliki wawasan yang cukup
luas agar bisa membantu kesulitan yang dihadapi oleh anak.

Anak cerminan kita, mereka akan mencontoh apa yang dilakukan
oleh orangtuanya. 
Semua yang kita lakukan akan terekam jelas oleh ingatan
mereka hingga dewasa, karena contoh nyata lebih ampuh dari segudang kata kata.
Maka guru terbaik adalah suri tauladan.

Sebelum anak anak kita menjalani hidupnya sendiri di masa
depan , mari maksimalkan waktu dan segala upaya agar mereka bisa tumbuh sehat,
cerdas dan bermanfaat. Tumbuh menjadi anak anak yang berkualitas.

Ingin  punya anak
cerdas? Jadilah ensiklopedia baginya.
Ingin punya anak jujur? Berhentilah berdusta.
Ingin punya anak patuh? Upayakan selalu taat.
Ingin punya anak santun? Jangan pernah memaki.
Ingin punya anak penyabar? Usah tergesa gesa.
Ingin punya anak penyayang? Banyaklah menebar kasih sayang.
Ingin punya anak dermawan? Seringlah berbagi.
Ingin punya anak berempati tinggi? Biasakan peduli.
Ingin punya anak percaya diri? Belajarlah memuji.
Ingin anak kita sempurna? Mustahil, karena tak ada manusia yang sempurna.

Layaknya kita yang berproses menjadi orangtua, anak anak pun
demikian. Butuh waktu untuk terus tumbuh dan berkembang. Pola didik yang baik berawal dari rumah dan berakhir
dirumah. Semoga bermanfaat.[]



Penulis adalah anggota Revowriter

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 3 =

Rekomendasi Berita