Rapuhnya Tatanan Keluarga dan Kerusakan Mental Generasi dalam Sistem Kapitalisme

Opini18 Views

Penulis: Wulan Shavitri Nopi | Mahasiswi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Di era digital yang serba cepat, Generasi Z tumbuh dengan akses informasi yang sangat luas serta konektivitas yang dapat dinikmati kapan saja dan di mana saja. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, banyak anak muda menghadapi tekanan yang tidak selalu tampak di permukaan.

Tuntutan akademik, ekspektasi sosial, persaingan karier, hingga paparan media sosial yang berlangsung tanpa henti menjadi bagian dari keseharian mereka. Akibatnya, istilah seperti overthinking, burnout, dan depresi semakin akrab dalam percakapan generasi muda saat ini.

Sebagaimana ditulis Kompas.com (18/6/2026), berbagai survei menunjukkan bahwa Generasi Z merupakan kelompok usia yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental, mulai dari kecemasan berlebih hingga depresi.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh beragam faktor, seperti tekanan untuk selalu produktif, dorongan memenuhi standar kehidupan yang ditampilkan di media sosial, ketidakpastian masa depan, serta semakin sempitnya ruang untuk beristirahat secara mental.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Generasi Z, dan mengapa isu kesehatan mental menjadi begitu dekat dengan kehidupan mereka?

Selain tekanan eksternal, kualitas kehidupan keluarga dan relasi sosial juga menjadi faktor penting yang memengaruhi kesehatan mental generasi muda. Kekerasan dalam keluarga, termasuk kekerasan seksual, perundungan (bullying), pola asuh yang keras, persoalan sosial-ekonomi, hingga kecanduan internet turut berkontribusi terhadap menurunnya kesehatan fisik maupun mental.

Ketika negara dinilai belum optimal menjalankan perannya dalam melindungi dan membina generasi, sementara masyarakat lebih sering memberikan stigma daripada solusi, tidak mengherankan jika banyak anak muda merasa kehilangan arah dan harus berjuang sendirian menghadapi tekanan hidup yang semakin kompleks.

Dalam pandangan Islam, persoalan kesehatan mental tidak dapat dipisahkan dari sistem kehidupan yang menaungi manusia. Islam hadir sebagai pedoman hidup yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesama manusia, dan Tuhannya.

Karena itu, Islam menawarkan solusi yang bersifat menyeluruh terhadap berbagai persoalan kehidupan, termasuk krisis mental yang dialami generasi muda.

Penerapan nilai-nilai Islam secara kaffah diyakini mampu menghadirkan kehidupan yang lebih tenang, adil, dan penuh keberkahan. Allah SWT berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra’d: 28).

Selain itu, negara juga memiliki peran penting sebagai pelindung dan pengurus urusan rakyat. Kehadiran negara yang menjalankan tanggung jawabnya secara adil diyakini dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, serta kesejahteraan generasi muda.

Dengan dukungan lingkungan keluarga yang sehat, masyarakat yang peduli, dan sistem kehidupan yang berpihak kepada rakyat, potensi Generasi Z dapat berkembang secara optimal.

Oleh karena itu, menurut perspektif Islam, penyelesaian persoalan mental generasi muda tidak cukup hanya melalui pendekatan individual, tetapi juga memerlukan dukungan sistem yang mampu menghadirkan ketenangan, keadilan, dan jaminan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Wallahu a’lam bish shawab.[]

Comment