RADARINDONESIANEWS .COM, JAKARTA – Di tengah lanskap global yang kian riuh oleh krisis—dari ketimpangan ekonomi hingga kegaduhan politik—Keindahan yang Tak Layak Disembunyikan hadir dengan satu tawaran besar: Islam sebagai sistem hidup yang utuh, bukan sekadar keyakinan personal sebagai jalan pulang peradaban.
Spesifikasi Buku
Judul: Keindahan yang Tak Layak Disembunyikan
Penulis: Hessy Elviyah, S.S (Wartawati Radar Indonesia News)
Tebal: 179 halaman
Ukuran: 14 x 20 cm
Sampul: Soft cover
Isi: Hitam putih, bookpaper
Harga: Rp65.000 (dari Rp75.000, belum termasuk ongkos kirim)
Buku karya Hessy Elviyah yang juga seorang penulis opini dan wartawati Radar Indonesia News, ini tidak berputar pada romantisme masa lalu, melainkan menukik pada pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kegagalan sistem modern dalam menjawab problem kemanusiaan.
Sejak awal, penulis menempatkan Islam dalam kerangka peradaban. Ia tidak berhenti pada dimensi ritual, tetapi mengajak pembaca melihat bagaimana Islam mengatur relasi individu, masyarakat, hingga negara.
Di titik ini, buku terasa seperti sebuah gugatan—terhadap kapitalisme yang melahirkan jurang kaya-miskin, juga demokrasi sekuler yang dinilai gagal menghadirkan keadilan substantif.
Nada tulisan Hessy cenderung tegas, bahkan konklusif. Islam, dalam pandangannya, bukan alternatif, melainkan solusi fundamental.
Di sinilah kekuatan sekaligus titik rawan buku ini. Kekuatan, karena keberanian sikapnya membuat argumen terasa bulat dan tidak gamang. Namun di sisi lain, pendekatan yang cenderung tunggal bisa mengundang perdebatan, terutama bagi pembaca yang terbiasa dengan perspektif lebih plural.
Meski demikian, buku ini tidak berhenti pada kritik. Ia bergerak ke wilayah refleksi dan ajakan. Kalimat seperti “Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” menjadi semacam penggerak emosi yang mendorong pembaca keluar dari posisi pasif.
Hessy tampaknya ingin pembaca tidak sekadar memahami, tetapi juga mengambil sikap.
Secara gaya, bahasa yang digunakan mengalir dengan diksi yang relatif sederhana, namun sesekali menguat dengan nuansa puitis. Penulis juga menyisipkan rujukan ayat Al-Qur’an untuk memperkuat argumen, yang bagi pembaca Muslim akan memberi resonansi spiritual tersendiri.
Buku ini tidak menggurui secara langsung, melainkan lebih menyerupai dialog—meski tetap dengan arah yang jelas.
Pada akhirnya, buku ini bukan sekadar bacaan, melainkan ajakan. Ia menuntut respons, bahkan sikap. Bagi pembaca yang merasa dunia tidak baik-baik saja,
Keindahan yang Tak Layak Disembunyikan menawarkan satu hal yang tegas: perspektif, sekaligus dorongan untuk tidak lagi diam.[]











Comment