by

Rika Novita: Ironi Pesta Demokrasi, Islam Punya Solusi

Rika Novita
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pesta demokrasi yang dihelat 17 April lalu menyisakan banyak cerita duka. Mulai dari biaya yang funtastis hingga memakan korban jiwa. Indikasi kecurangan tersiar di media sosial. Menghalalkan segala cara demi mempertahankan petahana. 
Pemerintah lewat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menganggarkan Rp 25,59 triliun untuk kegiatan pemilihan umum (Pemilu) 2019. Angka ini jauh lebih besar dibanding Pemilu 2014 (detik.com, 27/03/2019). Banyak korban jiwa berjatuhan pasca  pemilu. Jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia terus bertambah. Komisioner KPU Evi Novida Ginting Manik mengatakan, petugas yang meninggal 272 orang dan yang sakit 1.878 orang. Ironis, ketika rakyat menginginkan perubahan lebih baik dengan adanya pemilu, justru harus dibayar mahal dan banyak tumbal. 
Pemilu Ala Demokrasi
Indonesia menggunakan sistem demokrasi dalam pengurusan negara. Dimana pemilu menjadi jalan rakyat untuk memilih pemimpin baik presiden maupun wakil rakyatnya.
Demokrasi berasal dari bahasa Yunani. Terdiri dari dua kata, yakni demos yang mempunyai arti rakyat, serta kratos yang mempunyai arti kekuasaan atau kekuatan. Menurut Abraham Lincoln, demokrasi adalah sistem pemerintahan yang dibuat dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, dimana kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat.
Sistem demokrasi muncul sebagai reaksi atas kekuasaan ototarian yang dipraktikkan oleh kalangan gereja dan istana di Eropa saat abad pertengahan. Hingga muncullah teori pembagian kekuasaan produk Montesque yang dikenal dengan “Trias Politica”. Membagi kekuasaan pemerintahan menjadi tiga jenis, yaitu legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Dalam perjalanannya hingga kini, demokrasi belum pernah sukses menjalankan aturan sesuai penggagasnya. Hukum yang di buat kalah saing dengan kekuasaan pemilik modal. Alih-alih pembatasan kekuasaan mampu mengendalikan keserakahan pihak eksekutif (pemilik modal), justru pihak legislatif dan yudikatif bermain curang dibawah perintah pihak eksekutif. 
Pemimpin dalam demokrasi menerapkan aturan buatan manusia. Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah sangatlah terbatas dan lemah. Oleh karenanya aturan yang dibuat menjadi sumber kekacauan dalam pemilihan pemimpin. Carut marut sistem demokrasi nampak juga ketika pemilu berlangsung. Pemilihan pemimpin secara berkala dengan biaya besar, ditambah prosedur yang rumit dan kecurangan yang banyak terjadi.

Pemilihan pemimpin dalam Islam
Demokrasi yang menjadikan kekuasaan ada di tangan rakyat dan adanya pemisahan antara agama dengan kehidupan. Niscaya tidak akan mampu membawa kepada kemaslahatan seluruh manusia. Sistem ini justru menjerumuskan manusia pada perbuatan dosa. Ibnu Qayyim dalam Madariju Salikin 1/337 berkata, “Jika meyakini bahwa memutuskan perkara dengan hukum Allah hukumnya tidak wajib dan ia boleh memilih (mau memakai hukum Allah atau hukum positif), sekalipun ia meyakini hukum Allah maka ini adalah kufur akbar.”
Berbanding jauh dengan sistem kepemimpinan dalam Islam yang didasari pada prinsip kedaulatan di tangan syariah dan kekuasaan ditangan rakyat. Eksistensi sistem pemerintahan Islam berlangsung 13 abad dari masa Rasulullah sampai dengan pemerintahan turki usmani dan berhasil membuktikan kemakmuran rakyatnya tidak hanya dalam hal pemerintahan tetapi dalam bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan dan urusan rakyat lainnya. 
Dengan menerapkan model pemilihan pemimpin berdasar syariat Islam, pasti akan terjamin akuntabilitasnya. Bebas dari biaya mahal, kecurangan dan carut marut lainnya sebagaimana yang terjadi di sistem demokrasi. Kondisi tersebut bisa terjadi karena ketakwaan menjadi pilar penting dalam negara. Pemimpin yang bertakwa akan menjaga amanah. Masyarakat yang beriman dan menggunakan aturan Sang Khaliq dapat mewujudkan kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia. Hal itu hanya terwujud dalam pemerintahan Khilafah, yakni satu-satunya sistem yang mampu menerapkan Islam secara kaaffah. []
Penulis adalah aktivis muslimah

Comment

Rekomendasi Berita