by

Ruruh Hapsari : Agenda Besar Dibalik Pemilu Israel

 Ruruh Hapsari
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pemilu Israel telah terselenggara selasa 9 April lalu. Netanyahu menginginkan jabatan itu lagi. Apabila terpilih, perdana menteri dari partai Likud itu akan menduduki jabatan yang sama kelima kalinya. 

Bak dagangan, isu Palestina menjadi jualan tiap kontestan pada kampanye mereka. Begitupula Netanyahu yang akan mengakuisisi pemukiman Yahudi di Tepi Barat. 

Seperti dilansir republika saat Netanyahu menghadiri wawancara di televisi Israel, dengan tegas ia mengatakan bahwa rencana perluasan kedaulatan di Tepi Barat pasti akan dilaksanakan. 

Golan Lebih Dulu Tepi Barat Kemudian 

Segala aktivitas yang dilaksankan perdana menteri Israel ini dikarenakan Trump telah mendukung langkahnya. 

Pertama, setelah Trump mengumumkan pengakuannya bahwa Al Quds sebagai ibukota Israel beberapa bulan lalu dan memindahkan kadubesnya ke kota suci tersebut, kemudian Israel mempercepat langkahnya untuk menentukan nasib Tepi Barat. 

Kedua, Maret lalu Trump memutuskan untuk mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan. Area ini merupakan wilayah yang direbut Israel dari Suriah pada Perang 1967. Aneksasi Golan juga dilakukan Israel pada 1981, tetapi hal itu tidak diakui secara internasional. Suriah meminta Israel mengembalikan wilayahnya. 

Kedua keputusan ini sangat menguntungkan Israel, dan membuat geram para pemimpin serta rakyat Palestina. 

Melalui langkah AS yang mengakui Al Quds dan Dataran Tinggi Golan, maka Israel akan merasa semakin berani untuk mengadvokasi perluasan wilayah kedaulatan (Republika.co.id 7/4/2019). 

Sejarah Konflik Palestina-Israel 

Mengapa konflik yang mengakibatkan wilayah Palestina terus terkikis dapat terjadi? Awalnya, pada dekade 20-an dan 30-an orang-orang Yahudi dari berbagai negara, utamanya dari wilayah Eropa, berbondong-bondong bermigrasi ke wilayah Palestina. Migrasi itu terjadi karena telah dipersiapkan melalui Perjanjian Sykes-Picot 1916 yang membagi wilayah Khilafah Turki Utsmani pasca Perang Dunia I antara Inggris dan Perancis. Salah satu poinnya adalah wilayah Palestina menjadi wilayah internasional di bawah perlindungan Inggris, Perancis dan Rusia. 

Berikutnya pada 1917 muncul Deklarasi Balfour yang menjanjikan Palestina sebagai tanah air Yahudi. Sejak itulah orang-orang Yahudi bermigrasi secara besar-besaran ke Palestina dan terus memperluas penguasaan tanahnya dengan cara-cara ilegal dan kriminal. 

Pada tahun 1967 Israel melancarkan perang dengan negara-negara Arab yang terkenal dengan nama “Perang Enam Hari”. Perang yang sarat dengan tipudaya itu pada akhirnya membuat Israel menguasai wilayah Palestina yang disebut dengan ‘batas 1967’. Israel menguasai sekitar 78% wilayah Palestina. 

Karena konflik terus berkepanjangan, maka pada tahun 1978 terjadi Perjanjian Camp David yang ditandatangani oleh Presiden AS Jimmy Carter, PM Israel Menachem Begin, Pimpinan PLO Yasser Arafat dan Presiden Mesir Anwar Sadat. Perjanjian itu mendamaikan antara Palestina dan Israel dengan skema two states solution (solusi dua negara). Solusi dua negara itu makin ditegaskan dalam Perjanjian Oslo ketika PLO di bawah Yasser Arafat menerima solusi tersebut dan menjadi dasar pendirian Otoritas Palestina. Masalah Palestina akhirnya berputar pada masalah tapal batas. Apakah batas sebelum 1947, batas 1967 atau lainnya. 

Namun solusi dua negara yang telah disepakati oleh banyak pihak selalu diingkari oleh Israel. Karena pada faktanya ia tidak menginginkan solusi tersebut, yang ia inginkan adalah negara Israel raya tanpa ada Palestina di dalamnya. 

Solusi Hakiki 

Akar masalah dari konflik berkepanjangan ini adalah keberadaan Israel yang selalu merampok tanah Palestina. Bukan tentang perebutan tapal batas yang dilakukan Israel atas Palestina. 

Solusi hakiki untuk masalah ini haruslah bersandar pada syari’ah. Palestina adalah masalah Islam dan kaum muslimin. Karena tanah Palestina adalah tanah khorojiyah milik kaum muslim di seluruh dunia. Statusnya tetap seperti itu sampai hari kiamat. Tidak ada yang boleh merampasnya apalagi penjajah seperti Israel. 

Sebagaimana Allah SWT berfirman pada Quran surat At taubah : 14, “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum Mukmin”. Juga pada Quran surat Al baqarah: 191,” Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian”. 

Dari dua ayat di atas sudah jelas bahwa solusi dari tragedi Palestina adalah dengan mengusir agresor Israel dari tanah Palestina. Hal ini tidak akan terwujud tanpa kekuatan dan persatuan dari kaum muslimin. Sehingga dengan adanya sebuah institusi khilafah yang selain menyatukan kaum muslimin juga mempunyai posisi tawar yang kuat, solusi hakiki ini bukan hal yang tidak mungkin akan terjadi.[]

Comment

Rekomendasi Berita