by

Rina Tresna Sari,S.Pdi: Remaja Indonesia Dilanda Darurat Bullying

Rina Tresna Sari,S.Pdi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Bagaikan petir disiang hari, dunia pendidikan kembali mendapat tamparan akibat gagalnya pendidikan di Indonesia mencetak generasi muda yang syarat prestasi. Benerapa hari ini Ranah twitter sedang ramai dengan tagar #JusticeForAudrey,bahkan beritanya terus gencar di beberapa media masa, bagaimana tidak Siswi SMP di Pontianak bernama Audrey menjadi korban kekerasan oleh sejumlah siswi SMA. Bermula dari cekcok layaknya remaja, perang kata-kata, beralih jadi kekerasan. Audrey kini harus dirawat di rumah sakit. Petisi justice for Audrey kabarnya sudah ditandatangani 2 juta lebih netizen. Para pelaku sendiri sudah diamankan pihak kepolisian.
Lagi dan lagi! persoalan kekerasan di dunia remaja kita. Indonesia dilanda darurat kekerasan remaja. Pasalnya baik pelaku maupun korbanya adalah dari kalangan remaja. 
Bila kita coba ingat fakta terdahulu, Kita semua tahu kalau Audrey bukanlah korban yang pertama, dan bukan yang paling mengenaskan. Ada Yuyun, siswi SMP yang diperkosa beramai-ramai oleh segerombolan remaja lalu dibunuh dan jasadnya dibuang ke jurang. Remaja yang melakukan kekerasan di tanah air juga tak pernah surut dengan beragam kasus. Memukuli guru sampai menjadi anggota gang motor yang membegal korban.
Bahkan kini kekerasan di level remaja sudah lintas gender. Pelakunya bukan hanya anak lelaki, tapi juga remaja putri. Kasus Audrey juga bukan kasus pertama kekerasan dilakukan sesama remaja putri. Sudah sering viral video kekerasan antar remaja putri. Anak-anak perempuan di tanah air juga seperti hilang sifat kelembutannya, berubah jadi beringas.
Kekerasan pada remaja salah satu nya karena disfungsi peran orangtua di rumah. Banyak orangtua tidak paham dan tidak fokus dalam mendidik anak. Banyak orangtua hanya berperan sebagai pabrik anak dan mesin ATM ketimbang sebagai pendidik pertama dan utama untuk anak.
Banyak orangtua hanya tahu melahirkan dan memberi makan anak ketimbang menjalankan fungsi tarbiyah/pendidikan pada anak. Banyak para ayah yang tak faham fungsi ayah, Para ‘ayah’ macam ini hanya mengandalkan uang atau kekerasan dalam membersamai anak. Minim peran sebagai pendidik. yang dulakukan hanyalah memanjakan anak dengan fasilitas, atau  mereka hanya bisa memarahi anak.
Para ibu pun banyak yang belum menjalankan perannya sebagai ibu bagi anak-anaknya dan sabagai madrasah pertama dan pertama untuk pendidikan anak-anaknya.  Mereka hanya  tahu cara melahirkan, tapi bingung atau cuek dalam pendidikan anak. Banyak ibu yang menyenangkan sebagai teman jalan, teman makan, teman bermain, tapi belum menjadi pendidik yang menyenangkan dan inspiratif untuk anak-anak mereka.
 Disfungsi peran orangtua,yang kemudian membuat  anak-anak tumbuh dengan jiwa antisosial; pemarah, tak mau kalah, dan miskin empati.
Selain keluarga peran lingkungan dan negara,pun sangatlah mempengaruhi terhadap trend bullying dikalangan remaja, Bagaimana tidak lingkungan dan negara sekarang juga sedang krisis. Sama-sama alami disfungsi. Lingkungan sosial remaja penuh budaya hedonisme. Anak-anak kita jauh dari jiwa kepahlawanan, kesetiakawanan, karena digeser dengan figur macam Dilan. Tragisnya, figur fiktif dan negatif macam Dilan justru dijadikan panutan oleh negara. Bahkan Sekedar informasi untuk orangtua, sudah beberapa kali ujian sekolah termasuk pada ujian tahun ini pun dikeluarkan soal seputar K-Pop juga Dilan. Apa faedahnya untuk pengembangan karakter anak-anak kita? Remaja kian kehilangan jati dirinya. 
 Semakin di sadari peran negara dalam membentuk karakter remaja sangatlah berperan besar, Negara memiliki daya lebih kuat untuk menuntut dan mengikat remaja. Dengan kekuatan dan kekuasaannya negara bisa mendisplinkan para remaja, termasuk membentuk karakter kasih sayang pada mereka,termasuk menanamkan adab. 
Namun sungguh sangatlah disayangkan,alih-alih menanamkan nilai positif dan menguatkan nilai agama, negara justru menakut-nakuti pelajar – dan orang tua mereka – dengan ancaman radikalisme, tapi tidak membangun awareness pada tawuran, pergaulan bebas, kekerasan, dsb. Lebih menjengkelkan lagi negara malah menggelar kompetisi game online ketimbang meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah.Sungguh miris! 
Dalam berbagai kasus kekerasan, negara  ini pun masih saja mengambil peran kuratif, ketimbang preventif. solusi tambal sulam, tak menyentuh akar persoalan yang selalu diambil untuk pilihan penyelesaian nya, bahkan hukuman  yang diambil juga tak memberikan efek jera pada para pelaku. Beberapa kali kekerasan oleh remaja dimediasi untuk damai, atau pelaku dimasukkan rumah pembinaan.
Sungguh negara dibawah sistem pendidikan yang sekuler  telah gagal mencetak generasi harapan, generasi yang di rindukan menjadi generasi yang gemilang para calon pemimpin bangsa dikemudian hari, karenanya dapat di pastikan bila semua ini dibiarkan akan berjatuhan audrey audrey lain dikemudian hari. Wallahua’lam bishowab.[]
Penulis adalah anggota Komunitas Akademi Menulis Kreatif, Bandung

Comment

Rekomendasi Berita