by

Sania Nabila Afifah: Game Online Menjadi Candu Yang Mematikan

Sania Nabila Afifah.[Kanan]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Memasuki era digital Indonesia menjadi target market. Di mana dalam sistem Kapitalis yang serba bebas, menjadikan semua masyarakat berbondong-bondong berjualan di dunia maya. Namun kebebasan itu  belum searah dengan aturan dan kondisi masyarakat yang secara ‘digital’ belum siap. Begitu juga dengan dunia hiburan yang tak ingin kalah saing.
Banyak menjamur permainan game online yang ikut bersaing di era digital ini sebagaimana yang ditempuh oleh merek yang berjualan secara online. Game online akan membawa dampak buruk pada perkembangan mental generasi. Semestinya kita sadari bahwa games online  adalah salah satu bentuk serangan Barat yang dibalut dengan 3F yaitu Fun, Food, Fashion. Untuk menjauhkan umat dari Fitrah agama Islam mereka merusak secara halus dengan membuat Game agar generasi Islam terpedaya waktu dan membuat ketagihan yang tidak berkesudahan. Melalui permainan Games Online inilah kemudian diselipkan tayangan porno dan lainnya yang bisa merusak akal  generasi umat Islam ke depan baik mental maupun fisik.
Sebagaimana yang dilansir Tribun.com- Lima anak di Jember, Jawa Timur jalani perawatan kejiwaan karena kecanduan game online. Dalam dua bulan terakhir ini, poli kejiwaan Rumah Sakit Umum dr.Soebandi Jember, Jawa Timur telah melakukan perawatan kejiwaan terhadap 5 orang remaja. Mereka dirawat karena diduga mengalami kecanduan game online di smartphone.
Dampak dari game online pada pasien adalah mengalami perubahan perilaku bahkan berubah menjadi emosional, tidak mau belajar padahal usia mereka masih 10-14 Th,  tahap usia yang seharusnya digunakan untuk belajar menuntut ilmu.
Menurut Dokter Spesialis Kejiwaan RSUD dr.Soebandi Jember, Justina Evi mengatakan bahwa remaja yang berada di kelas 5 SD hingga 1 SMP ini terlalu fokus bermain game hingga lupa makan.
Inilah kondisi yang dialami generasi di Indonesia bahkan di seluruh dunia mengalami hal yang sama dengan 5 anak di Kota Jember yang menjadi korban dari kecanduan game. 
Pemerintah seharusnya mencegah terjadinya kerusakan yang mengancam jiwa dan akal generasi sebagaimana langkah yang telah dilakukan oleh Cina yang membatasi game (fitur) pengembang fitur untuk membatasi usia pemain atau fitur tersebut harus mendapatkan izin dari orang tua. 
Di beberapa kota di India juga telah melarang PUBG Mobile untuk dimainkan  karena menyebabkan kecanduan. Bayangkan di negeri yang kafir saja bisa mengantisipasi terjadinya hal-hal yang akan membahayakan generasi. Tetapi sayang di Indonesia yang mayoritas berpenduduk Muslim justru permainan seperti ini malah dibiarkan dan malah dijadikan event e-sport. 
Ada apa pada negeri ini? 
Sebenarnya Indonesia adalah target market game para kapitalis. Karena Indonesia dengan penduduk yang cukup banyak, menjadi sasaran empuk untuk menjajakan jualannya dengan menyelipkan ide ke dalam game tersebut dengan tujuan merusak saraf dan akhirnya jiwa generasi terancam. 
Peran negara rupanya sudah tidak berfungsi untuk menyelamatkan generasi. Begitu pula dengan peran lingkungan atau masyarakat individual yang hanya hidup dalam dumay saja, lebih individualisme. Begitu juga peran orang tua,  rupanya sangat rapuh dalam menjaga jiwa generasi dengan membiarkan dan mengikuti keinginan dan kemauan sang anak tanpa bimbingan.
Ketiga pilar yang berperan ini tak lagi berfungsi lantaran jauhnya jarak umat dari Islam yang dihasilkan oleh sekularisme dengan memisahkan agama dari kehidupan. Kebebasan dalam berbagai sendi kehidupan yang diciptakan oleh jargon HAM juga menjadi penyebab ketidak mapuan untuk melawan arus dan jerat penjajahan kapitalisme ini.
Islam menjaga remaja tidak merusak karena generasi adalah aset bagi umat  selanjutnya.
Bagi manusia, akal adalah salah satu komponen terpenting dalam kehidupan. Para ulama telah menggambarkan pentingnya akal melalui beberapa pesannya. 
Ibrahim bin Hisan pernah bekata: “Seorang pemuda bisa hidup di tengah manusia karena akalnya, karena di atas dasar akalnyalah ilmu dan eksperimennya berjalan. Pemberian Allah yang paling utama kepada seseorang adalah akalnya, tidak ada satu perkarapun yang bisa membandinginya. Jika Allah telah menyempurnakan akal seseorang (dengan Islam) maka sempurnalah akhlak dan segala kebutuhannya” (Adabud Dunya wad Din hal 5)
Syariah Islam juga mengatur penataan media penerangan bagi umat. Asas akidah Islam menjadikan media komunikasi dan informasi bertanggung jawab menjaga ketakwaan seluruh anggota masyarakat. Oleh karena itu, tak ada tempat bagi pornografi, game yang bisa merusak akal manusia. Begitulah keagungan Syariah Islam  menjaga akal manusia.
Semua itu hanya bisa terwujud bila Islam diterapkan dalam kehidupan. Islamlah yang akan menjaga tiga pilar utama pembangun generasi gemilang, sebagai tonggak berdirinya kedaulatan Islam yang kelak berada di tangan generasi berikutnya. Wallahu a’lam bi ash-shawab.[]
Penulis adalah anggota komunitas Muslimah Rindu Jannah, Jember

Comment

Rekomendasi Berita