by

Rindyanti Septiana S.Hi: Melestarikan Budaya Dalam Pandangan Islam

Rindyanti Septiana S.Hi, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Milad Istana Maimun di Medan yang
telah digelar pada Jum’at,( 24/8/2018) Dihadiri oleh Pangeran Alprinse Syah
Pernong dan para raja yang datanag dari berbagai daerah di Nusantara, seperti
dikutip dari MedinasLampungNews.com, 25/8).

Istana
Maimun merupakan bukti sejarah akan keberhasilan penguasaan Islam di wilayah
Nusantara. Sejarah berdirinya kesultanan deli
dapat dilihat dari Hikayat Deli, seorang pemuka Aceh bernama Muhammad Dalik
berhasil menjadi laksamana dalam Kesultanan Aceh. Muhammad Dalik, yang kemudian
juga dikenal sebagai Gocah Pahlawan dan bergelar Laksamana Khuja Bintan (ada
pula sumber yang mengeja Laksamana Kuda Bintan), adalah keturunan dari Amir
Muhammad Badar ud-din Khan, seorang bangsawan dari Delhi, India yang menikahi
Putri Chandra Dewi, putri Sultan Samudera Pasai. Dia dipercaya Sultan Aceh
untuk menjadi wakil bekas wilayah Kerajaan Haru yang berpusat di daerah Sungai
Lalang-Percut.

Maka Islam sangat memberi pengaruh besar terhadap kehidupan
Kesultanan Deli yang memiliki Istana yang megah pada saat itu yaitu Istana
Maimun. Bahkan kata Sultan sendiri berasal dari bahasa arab yang berarti raja,
penguasa (Wikipedia Indonesia).

Memaknai 
Kebudayaan
Menurut Koentjaraningrat (1974): “Kebudayaan
adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam
rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara
belajar.”

Suatu bansga tidak terlepas dari pengaruh
akibat modernisasi dengan pembangunan disegala bidang juga dapat membawa
pengaruh dalam bidang kebudayaan. Hal ini membuat masyarakat di negara-negara
berkembang (Indonesia) berada pada masa transisi yang ditandai dengan belum
sepenuhnya menerima nilai-nilai baru sedangkan nilai-nilai lama atau
tradisional sudah mulai ditinggalkan.

Masuknya budaya asing membuat masyarakat mudah
menerima kebudayaan itu tanpa dicerna terlebih dahulu. Tanpa disadari,
kebudayaan tradisional yang sudah lama dipegang dan dihayati mulai dilepaskan
satu-persatu dan ditelan oleh kebudayaan asing (Kebudayaan Barat).

Apalagi budaya sebagai penunjang pariwisata.
Sebagai salah satu yang dapat menarik wisatawan lokal maupun internasional.
Hingga digalakkan oleh pemerintah untuk terus menjaga kelestariannya.

Budaya dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, budaya dikelompokkan menjadi dua
bagian. Pertama; budaya yang tidak terkait dengan pandangan kehidupan
(hadharah) tertentu. Kedua; kebudayaan yang terkait dengan pandangan kehidupan
(hadharah). Budaya atau tradisi disebut urf (kebiasaan).

Tradisi adakalanya bertentangan dengan syara’
(aturan Islam), adakalanya juga tidak. Kebudayaan Melayu yang bentuknya berupa
kegiatan atau perilaku, seorang muslim boleh mengambilnya selama budaya
(bentuknya perilaku) tersebut tidak bertentangan dengan Islam.

Misalnya, permainan-permainan yang ada di
Melayu Deli. Seperti Congkak yang menggunakan papan congkak, biji congkak dapat
berupa batu-batu kecil. Kemudian engklek, dengan menggunakan kapur atau kayu
untuk membuat gambar permainannya. Hal ini tentu saja tidak bertentangan dengan
Islam, karena tidak terikat dengan cara pandang kehidupan agama selain Islam.

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim yang
bertakwasudah seharusnya menyandarkan segala sesuatu kepada hukum Allah bukan
kepada budaya yang bertentangan dengan Islam. Berbeda dengan sistem kapitalisme
saat ini, budaya apapun boleh diambil karena orientasinya adalah keuntungan
(manfaat), walaupun budaya tersebut mengancam akidah umat. Hal ini semakin
menunjukkan bahwa dalam sistem kapitalisme yang asasnya sekularisme (memisahkan
agama dari kehidupan) semua hal diorientasikan kepada manfaat. Manfaat menjadi
ukuran bagi setiap perbuatan mereka.

Kemudian kepala Negara dalam Islam yaitu
menyeru penduduk yang masih menganut budaya kepercayaan yang bertentangan
dengan Islam untuk masuk Islam secara kaffah. Seorang Kepala Negara tidak
begitu saja membubarkan komunitas tersebut, justru akan melakukan seruan dan
edukasi, karena menjadi kewajiban seorang Kepala Negara untuk menjaga kemurnian
akidah umat.

Islam akan membuat keberagaman menjadi berkah
yakni dengan penerapan syariah Islam. Sebab ketika Islam tegak, wargna Negara
dengan latar belakang agama, suku bangsa dan mazhab bisa hidup berdampingan
secara damai. Demikianlah sebagaimana damainya kehidupan pemeluk agama Islam.
Nasrani dan Yahudi selama ratusan tahun ketika Kekhilafahan tegak di Andalusia
(Spanyol).

Demikian
pula
dengan kehidupan
non muslim di bawah kekhilafahan Turki Ustmaniya. T.W. Arnold dalam bukunya, the Preaching of Islam, menuliskan
bagaimana perlakuan yang diterima oleh non-muslimyang hidup dibawah
pemerintahan Daulah Ustmaniyah. Dia menytakan, “ sekalipun jumlah orang Yunani lebih banya dari jumlah orang Turki di
berbagai provinsi khilafah yang ada di Eropa. Toleransi keagamaan diberikan
kepada mereka, dan perlindunganjiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat
mereka mengakui kepemimpinan sultan atas seluruh umat Kristen.

Maka perayaan ulang tahun Istana Maimun
mengingatkan kembali pada masyarakat Kota Medan akan kegemilangan Islam. Bahwa
Islam telah masuk ke stiap sendi kehidupan rakyat. Sejatinya menjadikan kita
rindu akan kebangkitan Islam di Indonesia.[] 

Penulis adalah Pembina Forum Muslimah Cinta Islam Medan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine − 4 =

Rekomendasi Berita