by

Rindyanti Septiana S.Hi:Makna Haji dan Perubahan

Rindyanti Septiana S.Hi, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –  Ibadah haji adalah ibadah jamaah
yang dilaksanakan pada waktu yang sama di tempat yang sama. Seluruh jamaah haji
dari berbagai penjuru dunia berkumpul, bertemu dan berinteraksi. Mereka
disatukan oleh akidah dan pandangan hidup yang sama. Disana, mereka mempunyai
tujuan yang sama.

Pemandangan inilah yang disebit
masyhad al-a’dham (pemandangan agung) yang dibanggakan oleh Allah dari penghuni
bumi kepada para malaikat di langit. Nabi menyatakan, “Sesungguhnya Allah
membanggakan  Ahli Arafah (orang-orang
yang berkumpul dan wukuf di Arafah) kepada penghuni langit.” (HR Ibn Hibban
dari Abu Hurairah).


Jika Allah saja membanggakan mereka
di hadapan malaikat, maka umat Islam yang menyadari posisinya itu tidak akan
merasa inferior, apalagi di hadapan orang-orang kafir. Selain itu, mereka juga
solid, terbukti bahwa mereka dapat melakukan manasik yang sama, pada waktu dan
tempat yang sama. Bukan digerakkan oleh kekuatan fisik pemimpin mereka. Tetapi
kekuatan akidah dan pemahaman agama mereka.


Mereka bisa menyatu dan mengalir
begitu kuatnya seperti air menuju tiap titik manasik, dan tidak ada siapapun
kekuatan yang bisa membendung aliran mereka. Semuanya ini membuktikan bahwa
umat ini adalah umat yang satu; umat yang kuat dan tidak bisa dikalahkan oleh
siapapun, karena persatuan mereka.


Namun kelemahan kaum muslimin dalam
memaknai haji karena. Pertama, kaum muslimin beranggapan bahwa tidak ada
kaitannya sama sekali antara haji dengan kebangkitan Islam. Padahal erat sekali
hubungan antara ibadah haji dengan perubahan kaum muslimin. Ibadah haji
sejatinya sebagai tonggak kebangkitan kaum muslim atas kesadaran mereka sebagai
umat yang satu. Dikumpulkan di Baitullah tanpa mempedulikan lagi batasan nation
state, perbedaan suku, warna kulit dan bangsa.


Sebagaimana firman Allah Swt yang
artinya “Berpeganglah kalian dengan tali (agama) Allah dan jangan
bercerai-berai (TQS. Ali Imran[3]:103).


Selain itu mengindikasikan bahwa
umat Islam sesungguhnya dapat bersatu. Semua itu bisa dilihat dan dirasakan
langsung oleh mereka yang menunaikan haji maupun mereka yang tidak sedang
berhaji. Persatuan itu mestinya tidak hanya saat menunaikan ibadah haji saja.
Persatuan umat Islam merupakan kewajiban mutlak kapan pun dan dalam segenap
aspek kehidupan seperti ekonomi maupun politik. Kedua, jauhnya kaum muslimin
dari pemahaman Islam secara kaffah.


Sejatinya umat Islam dapat
bersatu  dalam satu tujuan . Seperti yang
sebelumnya dinyatakan hakikat haji ialah mengesakan Allah Swt. Namun kaum
muslimin telah lama hidup dalam sistem yang menjauhkan kaum muslimin sendiri
dari Islam. Hingga ketundukkan mereka pada Allah Swt hanya sebatas dalam
lingkup ibadah mahdah saja.

Maka sudah seharusnya kaum muslimin
kembali kepada kehidupan Islam secara kaffah. Sebagaimana Allah berfirman yang
artinya “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga
mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudia
mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu
berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa:65).[]



Penulis adalah Pembina Forum Muslimah Cinta Islam Medan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × four =

Rekomendasi Berita