Sekolah Tanpa Luka: Pendidikan Islam Menjaga Jiwa, Melahirkan Akhlak Mulia

Opini14 Views

Penulis: Vie Dihardjo | Guru Bimbingan Konseling

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Di balik dinding sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter, terkadang tersimpan kisah yang luput dari perhatian banyak orang.

Ada anak-anak yang berangkat ke sekolah dengan penuh semangat, tetapi pulang membawa luka batin akibat perlakuan menyakitkan dari teman sebaya. Ada yang memilih diam ketika diejek, dikucilkan, atau diperlakukan tidak adil karena khawatir dianggap lemah.

Fenomena perundungan (bullying) menjadi salah satu tantangan serius dalam dunia pendidikan saat ini. Perundungan bukan sekadar persoalan “bercanda” atau relasi antara pihak yang dianggap kuat dan lemah.

Lebih dari itu, perundungan merupakan indikator adanya masalah dalam pembentukan karakter, budaya interaksi, dan sistem pendidikan yang belum sepenuhnya berhasil melahirkan manusia yang penuh kasih sayang, penghormatan, serta kepedulian terhadap sesama.

Sebagaimana tercatat dalam laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2023, terdapat 329 pengaduan pada klaster pendidikan.

Sementara itu, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melaporkan sebanyak 573 kasus kekerasan terjadi di sekolah, madrasah, pesantren, asrama, dan lingkungan pendidikan lainnya sepanjang tahun 2024.

Dari jumlah tersebut, sekitar 31 persen merupakan kasus perundungan, menjadikannya bentuk kekerasan terbanyak kedua setelah kekerasan seksual.

Berbagai penelitian mengenai perundungan di lingkungan pesantren juga menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Santri yang pernah menjadi korban perundungan berpotensi mengulangi perilaku serupa ketika berada pada posisi senior.

Kebutuhan untuk berkuasa, rendahnya empati, serta ketidakmampuan mengelola emosi menjadi beberapa faktor yang mendorong terjadinya siklus tersebut.

Karena itu, meningkatnya angka perundungan tidak boleh dipandang hanya sebagai statistik. Di balik setiap kasus terdapat anak-anak yang sedang bertumbuh, masa depan yang sedang dibentuk, dan amanah pendidikan yang harus dijaga bersama.

Mengubah Cara Pandang tentang Pendidikan

Salah satu tantangan pendidikan modern adalah ukuran keberhasilan yang sering kali hanya bertumpu pada capaian akademik, peringkat, nilai ujian, atau prestasi yang dapat diukur secara angka.

Anak didorong untuk menjadi juara, memperoleh nilai tinggi, dan memenangkan persaingan. Namun, pembentukan karakter, adab, dan kepedulian sosial belum selalu memperoleh perhatian yang seimbang.

Pendidikan yang hanya berorientasi pada prestasi berisiko melahirkan individu yang unggul secara intelektual, tetapi miskin empati.

Sekolah kemudian dipandang semata sebagai arena kompetisi. Teman tidak lagi dilihat sebagai saudara yang perlu dibantu, melainkan pesaing yang harus dikalahkan.

Dalam kondisi seperti ini, sikap individualisme, egoisme, bahkan kebutuhan mencari pengakuan dengan cara yang keliru dapat berkembang.

Ketika kecerdasan intelektual dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan, peserta didik yang memiliki kemampuan akademik tinggi sering dianggap lebih unggul dibandingkan yang lain.

Padahal, setiap manusia memiliki potensi yang berbeda. Ada yang menonjol dalam berpikir, ada yang kuat dalam kepemimpinan, kepedulian sosial, kreativitas, maupun keterampilan lainnya.

Islam menawarkan cara pandang yang lebih utuh. Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan intelektual, tetapi juga dari kualitas akhlak. Islam tidak memisahkan ilmu dan akhlak.

Ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan, sementara kemampuan tanpa nilai-nilai kebaikan berpotensi merugikan orang lain.

Pendidikan Islam Menyatukan Ilmu dan Akhlak

Salah satu kekuatan pendidikan Islam adalah menanamkan kesadaran bahwa setiap perbuatan manusia berada dalam pengawasan Allah SWT. Ketika peserta didik memahami bahwa Allah mengetahui segala yang mereka lakukan, akan tumbuh kontrol diri yang kuat.

Mereka tidak hanya takut terhadap hukuman guru atau aturan sekolah, tetapi menyadari bahwa berbuat baik merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Zalzalah ayat 7-8: “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya pula.”

Kesadaran inilah yang menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter. Peserta didik akan memahami bahwa mengejek teman bukan sekadar pelanggaran tata tertib sekolah, melainkan juga persoalan moral dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT.

Aturan tetap diperlukan, tetapi aturan yang paling kuat adalah ketika kebaikan tumbuh menjadi kesadaran dari dalam diri.

Pendidikan Islam juga mengajarkan konsep persaudaraan dan saling menjaga. Seorang Muslim tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap orang lain. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

Persaudaraan dalam Islam bukan hanya konsep emosional, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata. Teman yang kesulitan dibantu, kelompok pertemanan tidak dijadikan sarana mengucilkan orang lain, peserta didik berani mencegah keburukan, dan perbedaan dijadikan jalan untuk saling mengenal serta memahami.

Selain itu, pendidikan Islam tidak memberikan ruang bagi praktik senioritas yang menindas. Kedudukan yang lebih tinggi tidak boleh menjadi alasan untuk mendzalimi orang lain.

Mereka yang lebih dahulu belajar seharusnya membimbing, bukan menekan. Mereka yang lebih kuat seharusnya melindungi, bukan menyakiti.

Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan kepemimpinan yang penuh kasih dan penghormatan kepada sesama. Karena itu, makna senioritas yang benar dalam Islam adalah keteladanan, bukan kekuasaan.

Membangun Lingkungan Pendidikan yang Aman untuk Semua

Sekolah semestinya menjadi tempat lahirnya generasi yang cerdas sekaligus berhati lembut. Tempat di mana anak-anak tidak hanya belajar tentang dunia, tetapi juga belajar menjadi manusia yang baik.

Mewujudkan sekolah tanpa luka bukanlah sebuah mimpi. Hal tersebut dapat dicapai ketika pendidikan menempatkan akhlak sebagai prioritas utama. Namun, upaya ini membutuhkan komitmen bersama.

Guru harus kembali menjadi teladan, orang tua menjadi pendamping tumbuh kembang anak, teman menjadi sahabat yang penuh empati, dan masyarakat berperan aktif dalam mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran.

Hal yang tidak kalah penting adalah kurikulum pendidikan yang menjadi penentu arah pembentukan karakter generasi. Dalam perspektif Islam, pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang berkepribadian Islam: berilmu, berakhlak, dan memiliki kesadaran kuat akan hubungannya dengan Allah SWT.

Karena itu, pendidikan Islam menanamkan adab sejak dini, seperti menjaga lisan dari ejekan dan hinaan, menghormati guru dan teman, menolong yang membutuhkan, mengendalikan emosi, serta menyelesaikan konflik dengan cara yang baik.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11: “Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan lebih baik daripada mereka. Dan jangan pula perempuan-perempuan merendahkan perempuan lain, boleh jadi yang direndahkan lebih baik daripada mereka.”

Ayat ini bukan hanya mengajarkan larangan melakukan perundungan, tetapi juga membangun budaya kasih sayang, penghormatan, dan penghargaan terhadap martabat manusia.

Peserta didik perlu diajarkan bahwa teman bukanlah lawan yang harus dijatuhkan, melainkan saudara yang harus dihormati. Kompetisi dalam pendidikan bukanlah perlombaan untuk saling mengalahkan, melainkan berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 148:

“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”

Dengan demikian, mewujudkan sekolah tanpa luka tidak cukup hanya melalui aturan dan sanksi. Terpenting adalah menghadirkan sistem pendidikan yang membentuk kepribadian Islam, menanamkan akhlak mulia, serta melahirkan generasi yang cerdas, berempati, dan bertanggung jawab kepada sesama maupun kepada Tuhannya. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment