by

Sistem Islam Menjamin Kesehatan Seluruh Rakyat

-Opini-75 views

 

 

Oleh: Puput Hariyani, S.Si, Pendidik Generasi

__________

RADARNDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Islam bukan saja agama yang mengatur perkara ibadah semata, tetapi keberadaannya sebagai sebuah ideologi memiliki kesempurnaan pengaturan dalam seluruh aspek kehidupan. Termasuk di dalamnya adalah pengaturan jaminan kesehatan seluruh warga negaranya tanpa diskriminasi. Kaya-miskin. Penduduk kota dan desa. Semuanya mendapat layanan dengan kualitas yang sama.

Islam memandang kesehatan sebagai kebutuhan pokok publik yang menjadi tanggungjawab negara.

Sebagaimana dituturkan lisan yang mulia Rasulullah Saw., “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari sehat badannya, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.” (HR Bukhari).

Negara tidak boleh menjual layanan kesehatan kepada rakyatnya. Negara juga tidak diperboleh mengkomersilkan hak publik sekalipun ia orang yang mampu membayar.

Di dalam Islam negara adalah pihak yang bertanggungjawab secara langsung dan totalitas menjamin pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan seluruh masyarakat secara gratis dan berkualitas. Baik dari sisi ketersediannya fasilitas layanan kesehatan, alat medis untuk berbagai penyakit yang dibutuhkan, juga penyebaran rumah sakit hingga ke pelosok negeri, obat-obatan terbaik, dan kualitas dokter ahli yang memiliki kapasitas mumpuni.

Keberadaan rumah sakit, puskesmas adalah institusi teknis pelaksana fungsi negara. Negara sebagai Raa’in atau pelayan urusan rakyatnya.

Rasulullah Saw. bersabda: “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Dalam hadis tersebut jelas bahwa para Khalifah, sebagai para pemimpin kaum muslimin yang diserahi wewenang untuk mengurus kemaslahatan rakyat, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT kelak pada hari kiamat, apakah mereka telah mengurusnya dengan dengan baik atau tidak.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagai penanggungjawab dan pengatur langsung urusan publik ketika beliau memimpin Madinah. Termasuk layanan kesehatan.

Rasulullah SAW pernah mendatangkan dokter untuk mengobati Ubay. Ketika Nabi saw. mendapatkan hadiah dokter dari Raja Muqauqis, dokter tersebut beliau jadikan sebagai dokter umum bagi masyarakat (HR Muslim).

Adapun bentuk model pembiayaan kesehatannya anti defisit tanpa membebani publik, rumah sakit, puskesmas ataupun para dokter ahli dan insan kesehatan sepersenpun.

Lantas dari mana didapat pembiayaan yang sedemikian besar untuk kesehatan rakyat?

Maka jawabannya adalah berasal dari pos Baitul mall dan bersifat mutlak. Dalam Baitul mal dipetakan dengan jelas sumber pemasukan dan pintu-pintu pengeluaran berlandaskan ketentuan syariat Islam.

Hal ini berarti bahwa keberadaan unit fungsi pelaksana kesehatan seperti halnya rumah sakit, puskesma maupun laboratorium tidak dijadikan sebagai sumber pemasukan negara.

Model pembiayaan berbasis Baitul mall ini secara konsep dan praktis menjadikan negara memiliki finansial memadai. Mulai dari pengadaan rumah sakit yang mencukupi, baik secara jumlah, sebaran maupun kualitas terbaik. Termasuk gaji dokter dan insan kesehatan lainnya. Sehingga negara tidak perlu menggandeng perusahaan swasta untuk memalak rakyatnya demi mendapatkan kesehatan.

Berbeda dengan sistem Islam. Dalam kehidupan kapitalis sekuler hari ini kesehatan rakyat justru diserahkan pada perusahaan asuransi seperti Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan.

Sejak kemunculannya pada tahun 2013 lalu ini, BPJS kesehatan sangat membebani masyarakat. Rakyat harus membayar premi tinggi sebagai jaminan kesehatan, layanan kesehatan kurang layak atau tidak maksimal juga defisit yang kian membengkak.

Meski telah membayar premi nyatanya masyarakat belum mendapatkan layanan kesehatan yang prima, justru berbagai kesulitan mereka hadapi diantaranya, sistem administrasi yang ribet.

Sebagai perusahaan asuransi, BPJS jelas tidak ingin merugi. BPJS berhak mengubah ketentuan sesuai kepentingan bisnisnya. Maka kita dapati beberapa waktu yang lalu premi mengalami kenaikan untuk masing-masing kelasnya. Pertimbangan nya bukan lagi kesembuhan ataupun keselamatan jiwa pasien.

Dan kali ini pemerintah akan memperkenalkan program baru BPJS kesehatan. Kelas-kelas rawat inap di BPJS Kesehatan ini akan dihapuskan pada tahun 2022 mendatang.

Aturan penghapusan kelas tersebut mulai dari penyesuaian manfaat medis dan non-medis, Indonesia Case Based Groups (INA CBGs) atau rata-rata biaya yang dihabiskan oleh untuk suatu kelompok diagnosis, kapitasi, hingga iuran peserta.

Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), Muttaqin dikutip kompas.com pada Minggu (12/12/2021),  menyampaikan, penghapusan kelas dan penerapan kelas standar bertujuan untuk menjalankan prinsip asuransi sosial dan equitas di program JKN. Namun juga menciptakan ketidakadilan bagi mereka yang membayar karena harus mengikuti kelas PBI (Penerima Bantuan Iuran).

Penghapusan kategori kelas itu sesuai dengan amanat Undang-undang Sistem Jaminan Sosial (SJSN) Pasal 23 (4) yang mengatakan bahwa jika peserta membutuhkan rawat inap di rumah sakit, maka diberikan “kelas standar”.

Sementara peserta yang menginginkan kelas yang lebih tinggi dari pada haknya (kelas standar), dapat meningkatkan haknya dengan mengikuti asuransi kesehatan tambahan.

Alternatif lainnya, peserta harus membayar sendiri selisih biaya yang dijamin BPJS Kesehatan dengan biaya yang harus dibayar akibat peningkatan kelas rawat inap. “Sehingga yang diatur adalah selisih biaya,” ucap Muttaqin seperti dikutip Tempo.co, Rabu, 8 Desember 2021.

Semakin tampak nyata bahwa kebijakan yang lahir merupakan cara manipulatif untuk margin keuntungan dari layanan kesehatan rakyat.

Melalui komparasi sistem kesehatan Islam dan sistem kesehatan ala kapitalisme, seharusnya menyadarkan umat tentang betapa mulianya pengaturan kesehatan Islam dan jahatnya sistem kesehatan kapitalisme. Kapitalisme gagal menyelenggarakan kesehatan gratis dan berkualitas. Tidak ada pilihan lain kecuali kembali kepada sistem kesehatan Islam. _Wallahu’alam bi ash-showab._

Comment