by

Sri Purwanti, Amd.KL*: New Normal Life, Sudah Siapkah Kita?

-Opini-82 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak akhir 2019 belum pasti kapan berakhir. Vaksin dan obat belum ditemukan, namun ternyata pemerintah mulai mewacanakan new normal life (kehidupan normal baru).

Hal ini karena virus Covid-19 belum bisa dibasmi, sementara roda kehidupan harus tetap berjalan sehingga masyarakat harus mulai beradaptasi dan kembali beraktivitas seperti biasa. Namun yang menjadi pertanyaan besar, sudah siapkah masyarakat Indonesia dengan konsep new normal life?

New normal adalah perubahan perilaku agar tetap beraktivitas normal dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19. Hal ini diterapkan sampai vaksin dan obat Covid-19 ditemukan. Namun untuk memberlakukan new normal life ada beberapa pra syarat yang harus di penuhi.

Menurut Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Dr Herwaman Saputra seperti yang dilasir merdeka.com pada senin, 25 Mei 2020, prasyarat untuk memberlakukan new normal life diantaranya, sudah terjadi perlambatan kasus, sudah dilakukan optimalisasi PSBB, masyarakat sudah mawas diri dan meningkatkan imun masing-masing. Pemerintah juga sudah memperhatikan infrastruktur untuk memberlakukan new normal life.

Wacana new normal tentu saja menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat dan tenaga medis. Mengingat fakta di lapangan, kasus Covid-19 di Indonesia semakin hari semakin meningkat.

Puncaknya belum terlewati, bahkan di beberapa daerah terjadi lonjakan yang signifikan. PSBB belum optimal, dan infrastruktur untuk penanganan pademi pun masih minimalis. Penerapan new normal tanpa diimbangi dengan upaya antisipasi akan semakin memperpanjang rantai penyebaran virus Covid-19.

Seperti di lansir kompas.com, 19/5/2020, Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia , Prof. David S. Perdanakusuma mengatakan bahwa jalan yang terbaik adalah dengan mengubah dari kondisi yang tidak terkendali menjadi terkendali, memutus rantai penularan, meskipun belum ada obat dan vaksin, maka Covid-19 akan bisa ditangani.

Jika di telisik lebih lanjut new normal life merupakan perubahan mekanisme dalam dunia ekonomi dan bisnis. Bukan sekedar tatanan kehidupan baru dengan sejumlah protokol kesehatan. Hal ini merupakan bentuk kegagalan sistem demokrasi dan peradaban kapitalis dalam menangani pandemi Covid-19. Dalam sistem kapitalis negara berlepas tangan dalam memelihara urusan masyarakat, dan menyerahkannya pada sektor swasta.

Sehingga sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang bisnis yang lebih menitikberatkan pada untung dan rugi untuk menormalkan kondisi ekonomi, dibandingkan dengan menyelematkan nyawa rakyat yang notabene memerlukan dana yang sangat besar.

Berbanding terbalik dengan peradaban kapitalisme. Peradaban Islam terbukti sebagai peradaban dengan karakter mulia. Memberikan rasa tentram dan ketenangan bagi umat manusia. Dalam Islam khalifah (kepala negara) memiliki tanggung jawab untuk memelihara urusan umat, dan menempatkannya sebagai prioritas utama. Harta, nyawa, akal dan keselamatan rakyat di pandang sebagai sesuatu yang berharga dan harus dijaga.

Keberadaan akidah Islam sebagai dasar berdirinya peradaban, menjadikannya sebagai satu-satunya peradaban yang layak bagi manusia. Kehidupannya yang berjalan sesuai dengan perintah dan larangan Allah mewujudkan nilai materi, spiritual, kemanusiaan dan moral secara serasi dan seimbang. Ketika terjadi gangguan baik wabah maupun bencana, negara akan berada di garda depan untuk melindungi rakyatnya.

Maka tidak heran jika setiap persoalan mampu diatasi dengan tuntas. Seperti yang tercatat dalam sejarah bagaimana keberhasilan khalifah Umar bin Khathab dalam menghadapi wabah Thaun.

Beliau menerapkan lock down secara total dengan tetap menjamin kebutuhan pokok masyarakat, baik bahan pangan, obat-obatan maupun kebutuhan pribadi masyarakat lainnya.

Berbagai penelitian untuk menemukan obat pun di gencarkan dengan sokongan dana yang kuat. Sehingga para ilmuwan bisa leluasa bekerja menukan obat yang bisa memberantas wabah.

Melihat fakta yang ada, maka sudah selayaknya kita mencari alternatif lain dengan kembali kepangkuan Islam secara kafah, sehingga kehidupan manusia kembali dipenuhi keberkahan dan kemuliaan, terlindungi jiwa dan hartanya. Kembali meraih predikat sebagai generasi terbaik, yang mandiri danpa intervensi dari pihak manapun.
Wallahu a’lam.[]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × three =

Rekomendasi Berita