by

Suhaeni,S.P, M.Si: Agar Dikenang Orang, Jangan Pernah Berhenti Menulis

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ibu muda yang cerdas dengan profesinya sebagai dosen ini juga seorang penulis yang handal. Sudah beberapa kali tulisannya dimuat di radarindonesianews.com antara lain “Ilusi Demokrasi Tanpa Korupsi” dan “Salah Urus SDA Freeport.”
Dosen muda ini telah menikah dengan seorang laki-laki bernama Febri Hasan Basari yang kini bekerja sebagai tenaga IT. Suhaeny, M.Si kini telah dikarunia seorang anak perempuan cantik, Dafiya yang baru berusia 1 bulan. Bersama sang suami, penulis yang juga seorang dosen ini kini tinggal bersama di perumahan Singaperbangsa, Karawang, Jawa Barat.
Anak pertama dengan tinggi  150 dan berat sekitar 50 kg ini memiliki hobi membaca yang paralel dengan kegiatan dan profesinya sebagai penulis. Hal ini menjadi penguat dan penopang saat Suhaeni mencurahkan pemikirannya di atas kertas. Membaca bagi seorang penulis juga menjadi kegiatan yang wajib untuk meningkatkan wawasan dan kapasitas.
Menurut jebolan Magister Agribisnis Undip Semarang TA 2012 ini, dirinya menceburkan diri menjadi penulis sejak 2017. Masih muda memang, namun rangkaian kata dan kalimat serta pengunaan diksi dalam tulisannya cukup berbobot.”Muslimah Negarawan” yang ditulis Fika Komara adalah buku yang baru-baru ini dibacanya di samping buku wajib  mata kuliah di mana dirinya mengajar selama ini. Suhaeny, M.Si, ibu muda yang tampak sangat dinamis ini tercatat sebagai dosen dan mengajar di prodi agiribisnis fakultas pertanian Universitas Singaperbangsa, Karawang (Unsika), Jawa Barat.
Untuk menambah wawasan, Suhaeni ikuti berbagai seminar
Dalam hal warna, dosen muda dengan wajah yang sumringah dan selalu mengenakan hijab  ini sangat gandrung dengan warna ungu. Tentang hal ini, dirinya beralasan bahwa ungu merupakan paduan dua warna merah dan biru itu terlihat sangat lebih elegan dan eksklusif.
“Warna ungu yang mmerupakan perpaduan antara warna merah dan biru terlihat lebih elegan dan eksklusif.” Ujarnya kepada radarindonesianews.com, Sabtu (11/8/2018).
Selain mendapatkan kepuasan tersendiri, menulis bagi Suhaeni menjadi ladang amal sekaligus menebar manfaat namun proses menulis sangat membutuhkan komitmen dan konsitensi yang prima. Suhaeni mengaku bahwa untuk menjaga konsistensi itu, setiap hari dirinya menyediakan dua jam waktu khusus untuk menulis.
Penulis dan dosen muda kelahiran Majalengka, 1986 ini mengatakan, perpolitikan di Indonesia belakangan  lebih banyak dan didominasi muatan hawa nafsu kekuasaan yang berujug pada nilai-nilai keserakahan. Padahal katanya, dalam Islam, politik itu sebagai sarana untuk mengurus persoalan umat.
Pesan Suhaeni kepada rekan sesama profesi agar tidak berhenti menulis. Karna menurutnya, dengan menulis seseorang akan tetap dan selalu dikenang dan mendapatkan amal jariyah dari karya tulisnya.
“Hidup hanya untuk mendapatkan rido-Nya semata.  So,  hiduplah sesuai aturan-Nya.” Itulah motto Suhaeni sebagai muslimah.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 4 =

Rekomendasi Berita