by

Sukma Oktaviani: Hiburan Berujung Pembunuhan

Sukma Oktaviani, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Terjadi lagi peristiwa yang benar-benar pilu; peristiwa kekejaman yang tak berakhir haru; peristiwa kegagalan negeri dalam memberi adab dan ilmu.
Haringga Sirila, seorang suporter Persija, tewas di area parkir gerbang biru Stadion GBLA. Pemuda berusia 23 tahun itu meregang nyawa sebelum laga Persib vs Persija digelar, usai dikeroyok sekelompok oknum bobotoh. (liputan6.com)
Perih hati ini, sudah cukup dari cerita teman-teman yang menonton vidio keji pembunuhan tersebut, saya tak mampu menontonnya. Bagaimana bisa ada manusia sekejam itu? Membunuh lalu menyiksa jasad yang jelas-jelas sudah tak bernyawa lagi.
Ini bukan salah sepak bola, dalam Islam sepak bola itu mubah. Permainan yang menjadi hiburan dan olahraga bukan? Tapi, mengapa hiburan ini berujung pembunuhan ?
Peristiwa pembunuhan hanya karena kecintaannya pada tim sepakbola sudah sering sekali terjadi. Mereka anggap itu perjuangan, yang faktanya itu adalah kebiadaban. Perjuangan yang bernilai adalah perjuangan untuk menggapai ridha Allah.
Kecintaan mereka pada tim sepakbola berhasil mencabut rasa kemanusiaan dalam diri mereka; berhasil mencabut akal sehat mereka. Bagaimana itu bisa terjadi? Karena mereka sudah sangat jauh dari Islam dan karena sistem ini gagal mendidik mereka; generasi bangsa.
 Kejahatan Bukan Dari Islam 
Islam tak pernah mengajarkan kekerasan, apalagi membunuh manusia karena kecintaan pada golongan yang jelas-jelas bukan karena Allah. 
Firman Allah SWT:
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (Q. S An-Nissa ayat 93)
Sudah sangat jelas bahwa Islam melarang pembunuhan bukan? Jika ada yang berkata Islam mengajarkan pembunuhan seperti kejadian diatas dengan iming-iming jihad, itu kesalahan besar, pengertian jihad tidaklah dengan cara seperti itu. (baca: jihad) 
Pembunuhan kejam itu akibat minimnya hukum yang tegas; minimnya peran bangsa dalam membentuk ahklaq dan keimanan generasinya. 
Hanya Islam yang memiliki ketegasan dalam hukumnya; hanya Islam yang mampu membentuk generasi cemerlang yang beriman, yang hidup dan matinya untuk Allah, bukan untuk golongan atau tim yang tak menghantarkannya menuju jalan ke surga.  Wallahu’alam.
Penulis adalah seorang pelajar SMA di Karawang

Comment

Rekomendasi Berita