by

Sukma Oktaviani: Waspadai Infiltrasi Virus Sekularisme

Sukma Oktaviani,Penulis. (Kanan) 
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Berita terbaru tentang Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendesak agar kurikulum agama dikaji lagi. Beliau mengusulkan agar bab tentang sejarah yang dominan menceritakan seputar sejarah perang, dikurangi porsinya. 
“Yang diperhatikan adalah kurikulum pelajaran agama di sekolah. Saya melihat pelajaran agama di sekolah yang disampaikan sejarah perang, misalnya perang Badar, perang Uhud, pantesan radikal,” katanya dalam acara konferensi wilayah PW NU Jatim di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, (posmetro.info). 
Pernyataan ini sangat menggetarkan hati saya, sebagai pelajar. Saya tak habis pikir atas usulan tersebut. Menghilangkan sejarah perang dari kurikulum sama saja seperti menghilangkan ayat-ayat Al- Qur’an tentang perang. Padahal cerita perang (baca jihad) merupakan salah satu bagian penting sebagaimana yang difirmankan Allah SWT  dalam Surat al-Baqarah ayat 216.
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah suatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Ayat di atas merupakan dalil mengenai jihad dalam bentuk perang. Allah tegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui. Lalu, siapa kita? Kita hanya mahkluk Allah yang seharusnya taat akan segala perintah-Nya. Perlu digaris bawahi bahwa jihad dalam bentuk perang fisik yang Allah perintahkan adalah untuk melawan kemusyrikan bukan mendzolimi orang lain. 
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, bersabda “dari Anas bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Berjihadlah melawan kaum musyrikin dengan hartamu, jiwamu dan lidahmu.” (Riwayat Ahmad dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Hakim).
Tak habis pikir lagi dengan stigma radikal yang beliau tunjukkan pada orang Islam hanya karena sejarah perang yang ada pada kurikulum sekolah. Jika perang yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan adalah radikal maka ini suatu penghinaan dan penolakan terhadap ajaran Islam. Astagfirullah.
Jika, sejarah perang ini benar-benar dihapuskan maka saya takut para pelajar akan terinfiltrasi oleh virus sekularisme yang mampu menjauhkan para pelajar dari Islam itu sendiri. Saya khawatir mereka akan Islampobia, takut pada agamanya sendiri karena virus sekularisme tersebut. Naudzubillah. Wallahu ‘alam.[]

Penulis adalah siswi SMA dan juga aktivis muda

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × five =

Rekomendasi Berita