Tingginya AKI, Kesehatan Ibu Butuh Solusi Hakiki

Opini26 Views

Penulis: Vie Dihardjo | Ketua Komunitas Ibu Hebat Bogor

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Di balik senyum seorang ibu yang penuh harapan, terdapat perjuangan panjang yang tidak mudah. Kehamilan bukan sekadar perjalanan biologis, melainkan amanah besar yang berkaitan dengan lahirnya sebuah generasi. Karena itu, Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kualitas kehidupan dan masa depan suatu bangsa.

Sebagaimana dilaporkan World Health Organization (WHO), pada 2023 terdapat sekitar 197 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup di dunia. Pada tahun yang sama, lebih dari 260.000 perempuan meninggal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan.

WHO juga mencatat bahwa setiap hari sekitar 700 perempuan kehilangan nyawanya akibat masalah yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan.

Tingginya AKI juga masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Angka tersebut masih berada di atas target Sustainable Development Goals (SDGs) yang menargetkan AKI turun menjadi 70 per 100.000 kelahiran hidup pada 2030.

Saat ini, AKI Indonesia masih berada pada kisaran 189 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara itu, Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 4.150 kasus kematian ibu selama masa kehamilan, persalinan, dan nifas sepanjang 2024.

Tingginya AKI bukan sekadar angka statistik dalam laporan tahunan. Di balik setiap angka terdapat seorang ibu yang kehilangan kesempatan mendampingi anaknya tumbuh, keluarga yang kehilangan sosok penting, dan generasi yang kehilangan pelindung pertama dalam kehidupannya.

Ketika AKI masih tinggi, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah mengapa nyawa para ibu masih berada dalam ancaman, padahal ilmu kedokteran terus berkembang dan jumlah tenaga kesehatan semakin bertambah.

AKI Bukan Sekadar Masalah Medis

Pembahasan mengenai AKI sering kali berhenti pada persoalan medis, seperti kurangnya pemeriksaan kehamilan, keterlambatan penanganan, komplikasi persalinan, atau keterbatasan fasilitas kesehatan.

Padahal, terdapat persoalan yang lebih mendasar, yakni keberadaan sistem yang mampu menjamin perlindungan terhadap perempuan sejak sebelum hamil hingga setelah melahirkan.

Seorang ibu tidak hanya membutuhkan dokter ketika kondisi darurat terjadi. Ia memerlukan edukasi kesehatan sejak masa baligh, kesiapan fisik dan mental sebelum menikah, akses pemeriksaan kehamilan yang mudah, pemenuhan nutrisi yang memadai, lingkungan yang mendukung, layanan persalinan yang aman, hingga pendampingan pascamelahirkan.

Apabila kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut tidak terpenuhi secara menyeluruh, risiko kesehatan bagi ibu hamil akan meningkat. Karena itu, solusi terhadap tingginya AKI tidak cukup hanya dengan menambah jumlah tenaga medis.

Kesehatan ibu tidak berdiri sendiri di ruang rumah sakit, melainkan berkaitan erat dengan kondisi ekonomi, akses layanan kesehatan, pola hidup, edukasi masyarakat, hingga sistem yang mengatur pelayanan kesehatan secara keseluruhan.

Surplus Dokter Tidak Otomatis Menurunkan AKI

Keberadaan dokter kandungan tentu sangat penting. Spesialis obstetri dan ginekologi memiliki peran besar dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi. Namun, jumlah tenaga kesehatan bukan satu-satunya indikator keberhasilan sistem kesehatan.

Persoalan kesehatan ibu juga berkaitan dengan pemerataan layanan kesehatan. Di satu sisi terdapat wilayah dengan fasilitas kesehatan lengkap, sementara di sisi lain masih banyak daerah yang memiliki keterbatasan akses menuju layanan kesehatan, terutama di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dalam keterangannya di PRO3 RRI pada 17 Januari 2026, praktisi kesehatan masyarakat Dr. Ngabila Salma menyatakan bahwa daerah 3T masih mengalami kekurangan dokter spesialis.

Menurutnya, distribusi dokter saat ini lebih banyak didominasi dokter umum, sementara daerah-daerah tersebut membutuhkan tenaga spesialis yang memiliki kompetensi dasar di bidang penyakit dalam, bedah, obstetri dan ginekologi, serta anestesi.

Minimnya dokter spesialis di wilayah 3T berpotensi menimbulkan konsekuensi serius, bahkan dapat menyebabkan kematian pasien karena tidak tertangani secara optimal.

Kesehatan Adalah Hak, Bukan Sekadar Layanan

Salah satu tantangan dalam sistem kesehatan modern adalah ketika layanan kesehatan dipandang sebagai komoditas ekonomi.

Dalam kondisi demikian, pelayanan kesehatan sering kali dipengaruhi oleh mekanisme permintaan dan penawaran, biaya produksi, hingga kemampuan masyarakat untuk membayar.

Rumah sakit, industri farmasi, dan teknologi kesehatan dapat dikelola oleh negara maupun swasta melalui berbagai skema pembiayaan, seperti asuransi, pajak, ataupun pembayaran langsung.

Namun, ketika layanan kesehatan terlalu tunduk pada logika pasar, kesenjangan akses antara kelompok kaya dan miskin menjadi sulit dihindari.

Dalam konteks AKI, kesenjangan tersebut dapat menyebabkan seorang ibu kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan yang layak akibat keterbatasan biaya, jarak yang jauh, maupun minimnya fasilitas yang tersedia.

Karena itu, penting untuk mempertanyakan kembali mekanisme tata kelola kesehatan yang mampu memberikan perlindungan menyeluruh bagi para ibu sebelum maupun setelah melahirkan.

Solusi Hakiki: Perlindungan Ibu Secara Menyeluruh

Dalam pandangan Islam, perlindungan terhadap jiwa merupakan salah satu tujuan utama penerapan syariat. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 32:

“Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.”

Ayat tersebut menunjukkan betapa berharganya satu nyawa manusia. Oleh karena itu, menjaga kesehatan ibu bukan sekadar program pembangunan atau layanan publik, melainkan bagian dari amanah besar dalam memelihara kehidupan.

Penyelesaian masalah AKI memerlukan solusi yang menyentuh akar persoalan. Salah satunya adalah membangun sistem kesehatan yang lebih menitikberatkan pada upaya pencegahan daripada sekadar pengobatan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 31:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kesehatan harus dijaga sejak awal, bukan hanya ketika penyakit telah datang.

Dalam konteks kesehatan ibu, perhatian harus diberikan sejak sebelum kehamilan melalui edukasi kesehatan perempuan, persiapan fisik dan mental, pemenuhan gizi, pemeriksaan kehamilan yang memadai, pendampingan selama masa kehamilan, hingga pelayanan persalinan yang aman dan berkualitas.

Menjaga kesehatan ibu juga bukan semata tanggung jawab individu. Islam menempatkan penguasa sebagai pihak yang berkewajiban mengurus urusan rakyat dan menjamin kemaslahatan mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks tersebut, distribusi tenaga kesehatan yang merata menjadi bagian penting dari upaya menjaga keselamatan ibu. Tenaga kesehatan harus tersedia hingga wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal, disertai infrastruktur serta fasilitas yang memadai agar pelayanan dapat diberikan secara optimal.

Pada akhirnya, menyelesaikan tingginya Angka Kematian Ibu tidak cukup hanya dengan membahas ruang persalinan, rumah sakit, atau jumlah tenaga kesehatan.

Persoalan ini memerlukan dukungan sistem yang menyeluruh, mulai dari pemenuhan gizi, jaminan ekonomi, lingkungan yang sehat, hingga pelayanan kesehatan yang mudah diakses.

Dengan demikian, setiap ibu dapat memperoleh perlindungan yang layak sejak sebelum kehamilan hingga setelah melahirkan. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment