by

Warastiawati: Emansipasi Bukan Untuk Liberalisasi

Warastiawati
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Habis Gelap Terbitlah Terang”! Begitulah sejarah mentorehkan tintanya untuk sosok R.A. Kartini atau Ibu Kita Kartini. Selama ini R.A. Kartini dikenal sebagai seorang bangsawan Jawa sekaligus priyayi, cara mudah bagi orang yang pertama kali medengar namanya cukup dengan membaca gelarnya, Raden Adjeng (RA). Raden Adjeng Kartini adalah putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. 
Tepatnya 21 April adalah tanggal kelahiran Kartini. Pada setiap tanggal inilah Bangsa Indonesia memperingatinya sebagai tonggak sejarah lahirnya seorang wanita Indonesia yang berjuang untuk kaumnya, wanita Indonesia. Namun, satu hal yang jarang diungkapkan, bahkan terkesan disembunyikan dalam catatan sejarah, adalah usaha Kartini untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, serta bercita-cita agar Islam disukai. 
Pada mulanya Kartini merupakan wanita yang masih gelisah dengan islam sebagai agamanya. Bagaimana tidak, ketika fakta yang ada masyarakat hanya bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak diperbolehkan memahami artinya pada zaman itu. Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis:
“Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya? 
“Al-Qur’an terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca”
“Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya. Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?”
Tidak cukup berhenti sampai di situ, ternyata kegelisahannyapun masih berlanjut yang kemudian ia curahkan melaui suratnya kepada Ny. Abendanon yang tertanggal 15 Agustus 1902.
“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya”
“Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya”
Takdir Allah! Kini kegalauan Kartini terjawab sebagaimana dalam kisah yang ditulis oleh Ny. Fadihila Sholeh, dimana memepertemukan Kartini dengan Kyai Sholeh Darat. Pertemuan terjadi pada acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat yang merupakan pamannya. Pada saat itu Kyai Sholeh Darat sedang memberikan ceramah tentang tafsir Al-fatihah. Kartini tertegun. Bahkan matanya seolah tak mau berpaling dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganyapun secara cermat menangkap kata demi kata yang disampaikan sang Kyai.
Ini jelas dapat dipahami sebab selama ini Kartini hanya tahu membaca Al-fatihah tanpa mengetahui makna ayat-ayatnya. Selepas pengajian Kartini mendesak pamannya agar menemaninya bertemu sosok Kyai Sholeh Darat. Sang pamanpun tak bisa mengelak, sebab Kartini merengek layaknya anak kecil. Saat pertemuannya dengan Kyai Sholeh Darat Kartini membuka dialog:
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kyaipun tertegun dengan pertanyaannya, tak lama Kyai berkata “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa. Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.
Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Saat mempelajari Al-Islam lewat Al-Quran terjemahan berbahasa Jawa itu, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah: 257, bahwa Allah-lah yang membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya dan menuliskan kalimat ini ke bahasa Belanda “Door Duisternist Tot Licht” yang diterjemahkan oleh Arminj Pane sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang” 
Kartini yang dikungkung oleh adat dan dituntun oleh Barat, telah mencoba merintis jalan menuju benderang kebenaran Ilahi. Kecaman Kartini yang teramat pedas terhadap Barat, mereka artikan sebagai isyarat untuk mengikuti wanita-wanita Barat habis-habisan. Sosok Kartini bahkan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kampanye emansipasi yang menyalahi fitrah wanita agar seimbang dengan kaum pria, padahal kodrat pria dan wanita berbeda. Kian hari emansipasi kian mirip saja dengan liberalisasi dan feminisasi. Sementara Kartini sendiri sesungguhnya makin meninggalkan semuanya, dan ingin kembali kepada fitrahnya.
Emansipasi yang dimaksud sosok R.A. Kartini sendiri adalah agar wanita juga bisa mendapatkan hak untuk berpendidikan, sebab fakta yang terjadi saat itu perempuan seolah hanya pelengkap kehidupan lelaki. Olehnya Kartini sudah membuktikan diri dan memberi inspirasi bagi para perempuan untuk berperan sesuai dengan kemampuannya di tengah masyarakat dengan tidak menanggalkan perannya sebagai ibu di rumah tangga dan sebagai perempuan sesuai fitrahnya. Emansipasi bukan untuk liberalisasi seperti saat ini yang dimana perempuan mengkerdilkan fitrohnya sebagai ummu madrasatul ula dan ummu warobatul bayt. Barat telah berhasil mendepak fitroh wanita dengan sistemnya yang memisahkan agama dari kehidupan manusia. Sebagaimana pandangan Kartini tentang Barat berubah yang dituangkan dalam suratnya pada tanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.
“Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban”.
“Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan. Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis, “Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai”.  Wallahu’alam Bisyowab.[]
*Mahasiswi Peternakan, Universitas Khairun, Ternate

Comment

Rekomendasi Berita