by

Yulida Hasanah: Sekulerisasi Menguat LGBT Beraksi

Yulida Hasanah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Belum lama ini, publik dibuat geram dengan munculnya grup-grup LGBT di medsos yang beranggotakan sampai ribuan gay dan yang sejenisnya, mulai dari usia SMP sampai SMA. Grup-grup LGBT ini  menyebar hampir di seluruh wilayah negeri, seperti di Garut, Balikpapan, dan Cianjur.
Semakin beraninya komunitas LGBT beraksi di dunia nyata maupun dunia maya, tentu saja menimbulkan keresahan di masyarakat terutama para orang tua. Sebab, LGBT saat ini telah menjamur di kalangan generasi mereka yang notabene diharapkan menjadi generasi penerus yang lebih baik nasibnya dibanding orang tua mereka sekarang.
Dan keresahan inilah yang akhirnya membuat masyarakat mulai berusaha bertindak tegas semampu yang mereka lakukan. Sebagaimana yang terjadi di Balikpapan, munculnya grup Facebook ‘PIN Gay Balikpapan’ membuat resah masyarakat sekitar dan mendorong pemerintah setempat untuk segera membuat Perwali (Peraturan Walikota) dalam rangka pencegahan dan pelarangan LGBT di kota Balikpapan. Selian itu, sejumlah komponen masyarakat Balikpapan yang diprakarsai Majelis Ulama Indonesia (MUI) kecamatan Balikpapan Selatan dan Tribun Kaltim mengadakan diskusi keummatan mengambil tema “LGBT Mengancam”. (Tribunnews.com)
Hal yang sama juga dilakukan oleh komponen masyarakat di Cianjur sebagai upaya memerangi aksi komunitas LGBT yang makin hari makin berani. Di mana pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat berencana menerbitkan surat imbauan kepada seluruh kepala sekolah tingkat SMP dan SMA serta sederajat agar mensosialisasikan bahaya LGBT. Sebelumnya, Bupati Cianjur menerbitkan surat edaran Nomor 400/5368/Kesra Tentang Penyampaian Khutbah Jum’at Terkait LGBT.
Namun ternyata, upaya masyarakat saat ini tidak semudah membalikkan telapak tangan dalam menjaga generasi mereka dari bahaya dan ancaman LGBT. Sebagaimana yang terjadi di Cianjur, organisasi pembela hak kelompok LGBT Arus Pelangi, mengecam imbauan pemerintah Kabupaten Cianjur tersebut. Dan begitu pula yang terjadi di Balikpapan, Perwali masih menjadi pro kontra.
Dan yang lebih membuat berani kelompok LGBT ini untuk terus eksis dan beraksi di dunia nyata sampai di media sosial. Keberadaan mereka tidak pernah dipermasalahkan oleh Presiden Indonesia, dengan alasan tak ada diskriminasi terhadap kaum minoritas di Indonesia, dan jika ada yang terancam karena seksualitasnya, polisi harus bertindak melindungi mereka. Bahkan, ketika ditanyakan apakah homoseksualitas akan dipidanakan di indonesia seperti yang sekarang sedang diusahakan oleh beberapa kalangan di Mahkamah Konstitusi, Jokowi menegaskan tidak perlu melakukan perubahan terhadap hukum yang ada terkait itu. Dan jika ada kalangan minoritas yang terancam, katanya, polisi harus melindungi. (BBC.com)
Ada HAM dibalik eksisnya LGBT
Istilah LGBT ini telah ada di Amerika Serikat sejak tahun 1988 untuk menggantikan penyebutan komunitas gay karena dianggap ada kelompok lain (yaitu lesbian, biseksual, dan transgender) yang belum terlingkup. Istilah ini mulai marak digunakan mulai tahun 1990-an. Adanya istilah LGBT ini telah membuktikan akan eksistensinya terlebih setelah negara adidaya Amerika melegalkan pernikahan sesama jenis.
Tahun 1993, Dean Hamer, seorang ilmuwan mengungkapkan tentang hasil risetnya bahwa terdapat “gen gay” di dalam tubuh seorang homoseksual. Hasil penelitian inilah yang kemudian dipakai sebagai senjata kuat kaum gay untuk memperjuangkan hak-haknya. Dan hal ini semakin didukung oleh kelompok-kelompok dan penguasa kita dengan dalih bahwa LGBT merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) yang juga harus dilindungi. 
HAM merupakan sebuah ajaran yang dianut oleh Amerika Serikat dan dijajakan ke negeri-negeri kaum muslim dan termasuk ajaran yang lahir dari paham sekulerisme (memisahkan peran agama –syari’at Allah SWT- dalam mengatur masalah kehidupan manusia). HAM inilah yang melahirkan sikap individualisme yang berpandangan bahwa setiap individu tidak dilarang melakukan hal apapun dalam urusan mereka, atau menurut bahasa milenialnya “elo elo, gue gue”. Dan bahkan agama sekalipun, tidak boleh ikut campur dalam urusan mereka.
Jelas, pandangan ini sangatlah berbahaya dan tidak sesuai dengan tabiat manusia sebagai makhluk sosial. Dan inilah yang menjadi gerbang masuknya arus kerusakan yang menimpa generasi kita saat ini, termasuk ancaman LGBT. Jadi, amatlah jelas bahwa negeri ini masih dikuasai oleh paham Sekulerisme. Dan paham inilah yang merusak pikiran generasi kita saat ini yang kemudian berbuah pada maraknya dekadensi moral generasi.
Islam melindungi generasi dari LGBT
Sebagai sebuah agama yang sempurna dan sesuai dengan fitrah manusia. Islam menjadi satu-satunya aturan kehidupan yang Allah SWT turunkan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia melalui utusan Nya, Rasulullah Muhammad Saw. Seluruh perbuatan individu muslim haruslah terikat dengan syari’at. Jadi, jelas hal ini bertolak belakang dengan sekulerisme yang menyuarakan HAM bagi setiap individu.
Dalam Islam, LGBT jelas merupakan sesuatu keharaman yang dengannya pasti mendatangkan dosa besar. Islam menjelaskan bahwa hikmah penciptaaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan adalah untuk kelestarian jenis manusia dengan segala martabat kemanusiaannya (QS. An-Nisa [4]:1). Perilaku seks yang menyimpang seperti homoseksual, lesbianisme dan seks diluar pernikahan bertabrakan dengan tujuan itu. 
Seksualitas pada dasarnya dorongannya bersifat instingtif (gharizah) yang berbeda dengan kebutuhan fisik (hajatul ’udhawiyah). Di mana, kebutuhan fisik akan muncul dengan sendirinya. Siapapun yang sudah lama tidak makan, maka pasti akan merasakan lapar. Sipapun yang sudah lama tidak istirahat, maka akan merasakan lelah.
Sedangkan gharizah, akan muncul apabila ada rangsangan seperti gharizah untuk mempertahankan diri yang akan muncul apabila ada ancaman. Begitu juga dengan hasrat untuk homoseksual, akan muncul apabila terdapat rangsangan. Rangsangan yang muncul dapat berupa pikiran dan realitas yang nampak ,dan cara untuk mencegah perilaku homoseksual ini adalah dengan menghilangkan dua jenis rangsangan ini. Maka, menjadi sebuah kebutuhan untuk mensinergiskan peran/tanggungjawab antara keluarga, lingkungan sekolah dan negara dalam menjaga generasi kita adri ancaman LGBT.
Keluarga sebagai unsur terkecil dalam masyarakat bertanggungjawab untuk memberikan dan membangun pondasi pendidikan yang paling kuat yaitu keimanan kepada putra putrinya. 
Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang menjadi tempat belajar anak/generasi berperan untuk membangun dan menjaga kepribadian anak didik agar tidak hanya menguasai ilmu tapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dan terakhir yaitu peran negara melalui aparaturnya sebagai penanggungjawab terbesar dalam melindung generasi kita dari segala hal yang mengotori pikiran (pornografi/pornoaksi) generasi dari tayangan maupun media-media yang ada saat ini.
Dan peran negara yang juga sangat urgen adalah menerapkan sanksi tegas bagi pelaku-pelaku LGBT dengan sanksi yang sesuai Al Qur’an dan As sunnah. Sebagiamana sabda Nabi Muhammad SAW ,
“Siapa saja yang kalian jumpai melakukan perbuatan kaum Nabi Luth as. maka bunuhlah pelaku dan pasangan (kencannya)”. (HR. Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah). Allahu a’lam bi ash shawab
*Penulis adalah Pemerhati sosial, tinggal di Jember

Comment

Rekomendasi Berita