Yuyun Suminah: Pemberdayaan Perempuan Pudarkan Peran Ibu

Berita1331 Views
Yuyun Suminah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sebagian perempuan mungkin akan merasa istimewa ketika dirinya bisa bekerja di luar rumah karena bisa menghasilkan materi dan mandiri dibandingkan hanya sekedar di rumah mendidik anak dan mengatur rumah tangga.
Akan merasa terkekang tatkala seorang perempuan hanya berdiam diri di rumah saja dan tidak adil, karena merasa hak mereka harus sama seperti laki-laki yaitu bisa bekerja atau berkarier. 
Di sistem kapitalis yang semuanya diukur oleh materi menjadikan peran perempuan bergeser. Mereka beranggapan ketika menjadi seorang ibu yang baik ketika bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga. Mereka mengambil andil dalam roda ekonomi keluarga.
Seperti yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan perempuan sangat berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di sebuah negara. Karena itu peran perempuan dalam sebuah pekerjaan harus ditingkatkan. 
“Yang pertama harus dipahami dari sebuah negara itu harus ditingkatkan partisipasi tenaga kerja perempuan, baik untuk perekonomian, untuk perempuan dan untuk keluarganya,” kata Sri Mulyani dalam seminar Empowering Women in the Workplace, di Hotel Westin, Bali, Selasa (Detik.com 9/10/2018).
Dia menambahkan saat ini di beberapa negara masih banyak yang melarang perempuan untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan. Menurut dia banyak hambatan yang dihadapi perempuan untuk menjadi mandiri dan percaya diri. 
Kemudian, Sri Mulyani menceritakan perempuan disebut memiliki ‘batas waktu’ untuk bekerja. Karena jika perempuan sudah menikah maka ia akan mengandung dan mengurus bayi. “Sebenarnya ini bukan hambatan untuk seorang ibu yang bekerja, hanya saja dibutuhkan dukungan dan kebijakan yang bisa membantu perempuan.
Islam Punya Batas
Islam itu sempurna tak hanya mengurusi ibadah semata saja, islam juga mengurus dalam hal ekonomi. Ketika seorang perempuan yang statusnya sebagai seorang anak (Belum Menikah) dia bisa melakukan apa saja selama dibolehkan oleh syara salah satunya bekerja, mungkin dari hasil bekerjanya bisa dia gunakan untuk membantu keluarga (Ayah) walaupun kewajiban mencari nafkah Allah tetepkan kepada seorang ayah bukan anak. Tetapi ketika dia sudah menikah seorang anak perempuan akan memiliki kewajiban berbeda ‘ batas waktu’ karena dia sudah menjadi seorang istri dan ibu untuk anak-anaknya yaitu kewajiban mendidik generasi-generasi yang cerdas dan bertakwa.
Karena dari seorang ibulah lahir generasi yang tangguh, kuat dan beriman.
Di sinilah islam memberikan batasan kepada perempuan seperti firman Allah yang artinya:  “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. (TQS. Al-Baqara: 233).
Pemberdayaan Perempuan Dalam Islam
Perempuan dan Laki-laki sama dihadapan Allah yaitu sebagai makhlukNya. Allah hanya melihat ketakwaannya. Tetapi bukan berarti perempuan bisa melakukan apa saja termasuk melakukan semua yang dikerjakan oleh laki-lak selain dari ketakwaan.
Pemberdayaan perempuan dalam sistem kapitalis yaitu yang bisa menghasilkan uang atau materi. Berbeda dengan islam lebih istimewa dari sekedar itu. Pemberdayaan perempuan menurut islam adalah perempuan yang menjalankan fitrahnya sebagai seorang ibu yang bisa mendidik dan mengurus rumah tangganya.
Dari seorang ibu yang solehah akan lahir generasi muda yang bermutu maka negara tersebut akan menjadi negara yang kuat. Hanya dengan sistem Islam-lah pemberdayaan perempuan atau peran ibu akan dihidupkan kembali sebagaimana fitrahnya, yaitu pencetak generasi-generasi muda yang berakhlak mulia dan bermutu, sehingga dapat meneruskan kembali kehidupan Islam di dunia. Wallahua’lam.[]
Penulis adalah anggota 
Komunitas Aliansi Muslim Peduli Umat Karawang

Comment