Cerpenis: Rachmawati
Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Arjuno ketika Arini duduk sendirian di beranda rumah kayunya. Jemari gadis kelas dua SMA itu sibuk menempelkan kelopak-kelopak bunga mawar pada selembar kain, lalu memukulnya dengan hati-hati. Sesekali ia mengangkat kainnya ke arah mentari, lalu tersenyum puas. Dari jalan depan rumah, terdengar suara beberapa warga yang lewat.
“Anak itu bikin apa lagi?”
“Dasar, kerjaannya aneh-aneh.”
“Kasihan, kakinya cacat. Pikirannya ikut tidak normal.”
Tawa mereka menghilang bersama langkah kaki yang menjauh. Arini mendengarnya. Ia selalu mendengarnya. Namun, seperti hari-hari sebelumnya, ia hanya menunduk dan kembali menempelkan bunga demi bunga. Tak ada yang tahu bahwa dari beranda sederhana di Desa Tejowangi itu, sebuah karya yang kelak mengubah hidupnya sedang lahir.
Seperti biasa, pagi itu Arini bersiap hendak sekolah. Sekolahnya lumayan jauh karena SMA hanya ada di kecamatan. Oleh karena itu, Arini harus diantar dan dijemput setiap hari, bukan hanya karena lokasinya yang jauh, tetapi juga karena kakinya yang kurang sempurna.
Kaki Arini cacat sejak lahir. Telapak kaki kirinya agak bengkok sehingga posisi kakinya jinjit sebelah. Karena itulah ia sering diolok-olok oleh teman-temannya. Mereka memanggil Arini dengan sebutan Arini Deglok. Wajahnya manis, berkulit sawo matang, dan berambut lurus hitam mengilap.
Namun, semua itu tidak dipandang orang lain. Mereka hanya memandang kakinya. Meski hatinya sakit, Arini dan keluarganya hanya bisa diam. Mereka orang yang kurang mampu. Suara mereka hanya akan menjadi bahan ejekan. Diam adalah cara paling aman untuk menjaga ketenteraman hati mereka.
Di sekolah, Arini juga menarik diri. Ia duduk sendiri di kursi pojok paling belakang. Ia tidak pernah bersuara. Meski dia dianggap tidak ada, nilainya selalu berada diurutan teratas. Saat jam istirahat pun, Arini hanya diam di kelas. Dia membawa bekal dari rumah. Ia malu jika harus berjalan ke kantin dan dilihat banyak orang.
Ketika sedang serius membaca buku, tiba-tiba ada yang menghampiri mejanya.
“Heh! Deglok, pinjam buku PR Matematika. Buruan!”
“Untuk apa, Fi?”
“Halah, ndak usah banyak tanya. Kasih aja bukunya atau aku buang tasmu ke atas genting!”
“Iya… iya, sabar.” Arini membuka tasnya dan mengeluarkan buku tugas Matematika.
“Nih. Kalau sudah, kembalikan.”
“Bawel. Deglok aja, sok gaya.”
Arini hanya mengelus dada melihat kelakuan Raffi. “Dia yang nyontek, tapi dia juga yang galak. Mentang-mentang anak kepala sekolah,” gumam Arini sambil membetulkan letak tasnya.
Bagi teman sekelasnya, Arini dianggap tidak pernah ada. Begitu pun hari itu. Arini keluar kelas saat semua anak sudah pulang. Tertatih ia melangkah menuju gerbang sekolah. Dari kejauhan sudah tampak Guritno, bapaknya, menunggu di gerbang sekolah.
Tiba-tiba ada yang merebut tas kainnya. Arini menjerit kaget. Laki-laki berbadan kurus, dengan tinggi sekitar 170 cm dan berambut agak gondrong itu, berlari ke tengah lapangan sambil memutar-mutar tas kainnya.
Tawanya memantul pada dinding kelas, membahana di lapangan yang sepi itu. Beberapa guru melongok dari jendela ruang guru untuk melihat siapa yang tertawa.
Namun, tidak ada satu pun yang keluar. Mereka membiarkan Raffi meledek Arini. Tidak ada yang berani menanggung risiko menegur anak kepala sekolah yang terkenal usil itu.
Arini tidak menangis atau meminta tolong. Tidak juga meminta Raffi berhenti menggodanya. Arini memilih diam di pinggir lapangan. Perlawanannya hanya akan membuat Raffi bahagia. Ia yakin, diamnya justru menyakitkan bagi Raffi.
Benar saja, ketika Raffi tahu Arini tidak mengejarnya, juga tidak berteriak meminta tasnya, Raffi justru melempar tas itu seenaknya dengan marah. Wajahnya merah padam, napasnya memburu karena marah dan lelah. Ia menghampiri Arini.
Raffi mendekatkan wajahnya ke wajah Arini, otot wajahnya menegang, matanya menampakkan kilatan amarah yang tertahan. “Hai, Deglok, dasar pincang, ambil tuh tas jelekmu. Ingat ya, aku belum selesai,” desis Raffi. Dia belalu sambil mendorong tubuh Arini ke dinding.
Arini meringis menahan tangis. Bukan hanya bahunya yang sakit, tapi hatinya juga. Apalagi dengan ancaman Raffi tadi, Arini benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Dia merasa tidak pernah berbuat salah, tapi mengapa Raffi begitu membencinya.
Ayahnya yang melihat kejadian itu segera berlari untuk mengambilkan tas Arini di tengah lapangan sekolah.
“Jangan marah ya, Nak. Jangan membalas kejahatan dengan kebencian,”nasehat Guritno.
Arini tidak menjawab. Ia hanya diam. Hatinya sudah beku. Tidak ada rasa sedih atau marah saat dihina atau diejek orang lain. Hinaan itu sudah ia terima sejak kecil, bahkan sejak ia belum tahu rasanya sakit hati.
Maka, kalau saat ini hatinya beku, itu karena luka itu terlampau perih dan ia ingin melupakannya. Dia juga tidak ingin menceritakan ancaman Raffi, karena dia tidak ingin ayahnya kepikiran.
Pov: Raffi
Raffi menggenggam tangannya sendiri dengan kuat. Buku-buku tangannya sampai memutih, ototnya tampak menonjol keluar. Bibirnya mengatup rapat, dengan mata merah dan nafas yang memburu, dia berjalan meninggalkan Arini.
“Gadis deglok itu, kenapa dia sombong sekali. Dia tidak pernah menangis atau marah, meski aku sudah berkali-kali menjahilinya. Dasar deglok tak tau diri, awas kamu ya, akan aku buat kamu hancur sehancur-hancurnya. Kamu itu cacat, tapi kenapa kamu selalu juara kelas, sementara aku yang sempurna, ganteng maksimal, selalu jadi nomor dua, di bawah anak cacat sepertimu, ingat Deglok, aku benci padamu,”desis Raffi sambil menendang botol air mineral kosong yang menghalangi langkahnya, menuju mobil ayahnya.
Pov: Arini
Sesampainya di rumah, suasana tampak berbeda. Terdengar tawa ibu dan seseorang yang selama ini dirindukan Arini. Satria Bagas Guritno, kakak laki-laki Arini yang bekerja di kota sebagai karyawan di sebuah kantor notaris.
“Mas Bagas, Pak.”
“Mas Bagas… Mas… ini Arin pulang!”
“Ariiin… adikku tersayang,” Bagas keluar rumah menyambut Arini.
Mereka berpelukan erat, saling melepas rindu. Lalu Bagas menghampiri Guritno dan mencium tangannya.
“Sehat, Pak?”
“Alhamdulillah, Le. Kamu sehat, kan?”
“Alhamdulillah, Pak.”
Bagas kembali memperhatikan adiknya. Matanya terpaku pada tas kain yang menggelayut manja di lengan adiknya.
“Dik, tasmu dapat dari mana? Bagus banget. Unik.”
“Ah, Mas bisa aja. Ini bikin sendiri. Arin tempel bunga dan daunnya. Terus, Mak Endah yang menjahit jadi tas.”
“Wah, kamu hebat. Sini Mas foto sama tasmu. Adikku yang manis, yang selalu Mas rindukan.”
“Iiih… gombal. Arin malu, ah. Nanti diejek orang.”
“Udah, manut sama Mas. Nih, tirukan gaya Mas. Kakimu ndak akan kelihatan, kok.”
Akhirnya Arini menurut, mengikuti gaya yang diajarkan Bagas. Hasilnya bagus-bagus. Bagas tersenyum puas. Kebahagiaan itu ia bagikan ke media sosialnya. Ia tidak pernah berpikir bahwa foto itu akan viral.
Siang itu, Arini duduk di teras rumahnya ditemani Bagas. Sambil mengobrol, tangannya sibuk melipat dan menggunting kain sesuai pola. Kadang terdengar tawa mereka. Selesai menggunting kain, mereka berjalan sampai ke pinggir hutan, memetik bunga dan daun yang akan dipakai untuk menghiasi tempat kain tadi.
Bagas merekam semua aktivitas Arini hari itu, mulai memotong kain, memetik bunga, hingga memproses bunga-bunga itu menjadi hiasan di atas kain yang sudah disiapkan.
“Arin, kamu bisa seperti ini belajar dari siapa?”
“Iseng sih, Mas. Awalnya aku diberi kain oleh Mak Endah, lumayan besar. Putih polos, gitu. Nah, waktu aku tempelin bunga di atasnya, kok cantik. Aku mulai memukul bunga-bunga itu memakai batu, tapi supaya tidak kotor, aku alasi kertas. Ternyata bisa terbentuk persis seperti aslinya. Waktu Mak Endah lihat, beliau membantu membuatkan tas. Tapi banyak yang mengejek tas itu. Katanya, “Dasar orang miskin, ndak mampu beli tas, masa tas sekolah bikin sendiri dari kain jelek.”
“Aku diam saja. Aku bangga dengan tas buatanku sendiri. Betul, kan, Mas?”
Bagas belum sempat menjawab ketika ada notifikasi pesan masuk di gawainya.
“Gas, itu siapa yang kamu posting? Gadis manis dengan tas yang unik itu. Yang like sudah ribuan tuh.”
Bagas terkejut. Ia membuka aplikasi media sosialnya. Benar saja, foto itu sudah banyak disukai orang dan komen sudah ratusan. Banyak yang memuji foto itu. Gadis manis dan tas yang unik. Bahkan banyak yang bertanya, tasnya beli di mana atau tasnya dijual atau tidak.
Bagas menunjukkan kepada Arini. Arini ternganga membaca komentar-komentar itu.
“Mas, kalau ada yang pesan, bagaimana? Kainnya aku tidak punya. Ini kotak pensil juga cuma ada sepuluh biji.”
“Tenang, biar Mas yang urus semua. Kotak pensil ini jadikan dulu. Nanti ini yang kita jual. Kamu tanya Mak Endah, kain ini apa namanya, belinya di mana. Nanti Mas belikan di kota.”
“Nanti Ibu dan Bapak bantu mencari bahan dan mengerjakannya, Nduk,” tiba-tiba Ibu sudah ada di belakang mereka.
“Mas akan jawab apa adanya, bahwa barang belum siap. Sambil kita hitung harga jualnya.”
Sejak hari itu, ponsel Bagas nyaris tak pernah berhenti berbunyi. Setiap beberapa menit, muncul pesan baru yang menanyakan harga, warna kain, hingga cara pemesanan tas dan kotak pensil ecoprint buatan Arini.
“Mas, masih bisa pesan dua tas?”
“Kalau pesan lima puluh untuk acara sekolah, bisa?”
“Kapan stoknya ada lagi?”
Bagas tersenyum setiap membaca pesan-pesan itu. Ia tidak ingin mengecewakan calon pembeli dengan janji yang belum pasti. Karena itu, ia hanya membalas dengan sabar.
“Terima kasih sudah berminat. Saat ini kami sedang memproduksi. Jika barang sudah siap, kami akan segera menghubungi Anda.”
Sebelum kembali ke kota, Bagas membuatkan akun khusus bernama Arini Craft, sehingga Arini juga bisa memantau pesanan yang masuk.
Beberapa hari kemudian, kiriman kain dari Bagas akhirnya tiba. “Akhirnya datang juga!” serunya sambil memeluk kain-kain itu.
Kesibukan mereka pun meningkat berkali-kali lipat. Sejak pagi hingga menjelang senja, suara ketukan batu memecah keheningan desa. Tok… tok… tok…suara batu yang beradu dengan lantai untuk mengeluarkan warna alami dari bunga dan daun di atas kain. Halaman rumah yang dulu lengang kini dipenuhi daun-daun segar dan kain yang dijemur.
Orang-orang yang melintas masih saja melemparkan cibiran.
“Halah, paling juga cuma ramai sesaat.”
“Memangnya siapa yang mau beli tas dari kampung begini?”
Namun, Arini dan Mak Endah tak lagi menggubris ucapan itu. Waktu mereka terlalu berharga untuk dihabiskan mendengarkan sindiran. Tangan mereka terus bekerja tanpa henti.
Kabar tentang Arini terus menyebar dari satu orang ke orang lain. Video proses pembuatan ecoprint yang diunggah Bagas membuat banyak orang penasaran. Mereka mulai berdatangan ke rumah Arini.
Ada yang sekadar ingin melihat proses pembuatannya, ada yang bertanya tentang ecoprint, bahkan ada pula yang dengan malu-malu menawarkan diri untuk ikut bekerja.
“Arini… kalau masih butuh bantuan, bolehkah aku ikut?” tanya salah seorang ibu yang dulu pernah mencibir tas kain buatan Arini.
Arini hanya tersenyum. Ia tidak menyimpan dendam. Soal menerima pekerja baru, ia menyerahkannya kepada Bapak dan Ibunya. Merekalah yang memilih siapa saja yang benar-benar mau bekerja dengan sungguh-sungguh.
Sementara itu, Arini lebih banyak mengajari mereka. Dengan sabar ia menunjukkan cara memilih daun yang bentuknya unik, menata motif di atas kain, dan memukul daun dengan kekuatan yang pas. Sedikit demi sedikit, tangan-tangan baru mulai terbiasa mengerjakan proses yang sebelumnya hanya dilakukan Arini.
Di sisi lain, Mak Endah mulai kewalahan memenuhi pesanan jahitan. Mesin jahitnya nyaris tak pernah berhenti berdengung. Bahkan hingga larut malam, jarum mesin masih naik turun menyatukan potongan-potongan kain menjadi tas dan kotak pensil.
Akhirnya, Mak Endah mengajak beberapa ibu di desa untuk membantunya menjahit. Rumah Arini pun tak lagi hanya menjadi tempat bekerja bagi keluarganya, tetapi juga menjadi tempat yang menghidupkan harapan banyak orang.
Namun, perjalanan Arini tidak selalu berjalan mulus.
Suatu sore, ketika unggahan Bagas tentang tas dan kotak pensil ecoprint Arini semakin ramai dibagikan, muncul sebuah komentar dari akun yang tidak dikenal.
“Jangan mudah percaya. Itu bukan buatan Arini. Barangnya beli dari pabrik, lalu diaku-aku hasil karya sendiri. Motifnya juga bukan ecoprint asli, cuma printing.”
Komentar itu awalnya hanya satu. Namun, beberapa akun lain ikut menanggapi.
“Pantas saja motifnya rapi.”
“Kirain benar-benar buatan tangan.”
“Kalau cuma barang pabrik, harganya kemahalan.”
Entah karena percaya begitu saja atau sekadar ikut-ikutan, komentar negatif itu terus bertambah. Orang-orang mulai meragukan keaslian karya Arini.
Tak lama kemudian, pesan-pesan pembatalan pesanan berdatangan.
“Maaf, Kak. Saya batalkan dulu pesanannya.”
“Setelah baca komentar di media sosial, saya jadi ragu.”
“Kalau memang printing, saya cari yang lebih murah saja.”
Satu per satu calon pembeli mengundurkan diri. Daftar pesanan yang sebelumnya hampir penuh mendadak menyusut drastis.
Arini hanya bisa menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Jemarinya gemetar saat membaca setiap pesan pembatalan. Dadanya terasa sesak. Ia tahu betul setiap tas dan kotak pensil dibuat dengan tangannya sendiri.
Ia mengumpulkan daun, menata motif, lalu menyelesaikannya dengan penuh kesabaran. Namun, semua kerja keras itu seolah lenyap hanya karena satu komentar yang belum tentu benar. Yang paling menyakitkan bukan hilangnya pesanan, melainkan hilangnya kepercayaan orang-orang terhadap kejujurannya.
Di saat kesedihan sudah berada di ambang putus asa, Arini, yang selama ini tidak pernah tampil di media sosial, memberanikan diri untuk melakukan siaran langsung. Ia memperlihatkan kegiatannya. Ia ingin orang-orang tahu bahwa dirinya jujur, bahwa tas yang dijualnya benar-benar hasil karyanya sendiri.
Penontonnya cukup banyak. Komentar pun bermunculan. Arini membaca satu per satu, dan jantungnya nyaris berhenti ketika muncul nama Raffi di kolom komentar. Nama akun Raffi mirip denga akun yang menyebarkan fitnah bahwa tas-tas Arini, bukan home made tapi buatan pabrik, @Raff.G123
@Raffi.ganteng123
“Waduh, ternyata si Deglok berani live juga, ya. Sudah cacat, sok cantik lagi. Mana ngaku-ngaku bikin sendiri pula tasnya. Arini… Arini… berhentilah menipu banyak orang. Ngimpi, kamu? Bangun, dong!” komentar Raffi penuh hasutan.
@Agung.komando
“Apa benar ini hanya halu anak kecil? Waduh, untung saja belum pesan.”
@Rulina.sari
“Waduh, masih kecil, nih, ternyata. Apa mampu menyelesaikan pesananku yang berjumlah 50 tas? Maaf ya, Dek. Pesananku batal dulu, ya.”
Arini makin terpuruk. Siaran langsungnya justru menghancurkan dirinya. Komentar Raffi kali ini benar-benar mematahkan hatinya.
Sejak siaran langsung itu berakhir, Arini mengurung diri di dalam kamar. Ia tidak mau makan. Ia hanya keluar kamar untuk mengambil air wudu, lalu kembali mengurung diri.
Tubuhnya yang terus melemah akhirnya tak sanggup lagi bertahan. Demam tinggi membuatnya hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur. Hingga beberapa hari setelah peristiwa itu, Arini tidak berani masuk sekolah, bukan hanya karena sakit tapi juga malu.
Saat Arini masuk sekolah lagi, Raffi merasa mendapat kesempatan baru untuk mempermalukannya kembali. Hatinya belum puas kalau hanya melihat Arini sakit beberapa hari. Raffi ingin Arini malu dan tidak berani datang lagi ke sekolah.
Keesokan harinya, saat Arini berjalan memasuki gerbang sekolah, Raffi diam-diam mengeluarkan ponselnya. Kamera langsung diarahkan ke kaki Arini yang pincang. Ia sengaja merekam langkah Arini dari belakang, lalu menggeser kamera ke tas ecoprint yang dipakai Arini.
“Pas banget buat konten,” gumamnya sambil menyeringai.
Arini sama sekali tidak menyadari dirinya sedang direkam.
Sepanjang jam istirahat, Raffi masih belum puas. Saat bel pulang berbunyi, ia kembali mengikuti Arini dari kejauhan. Dengan tetap merekam, ia memperlihatkan jalan setapak menuju rumah Arini, halaman yang dipenuhi aneka tanaman, gulungan kain diteras, kain setengah jadi yang sedang dijemur, Mak Endah yang sedang menjahit, serta beberapa warga yang sibuk bekerja. Semua direkam tanpa izin.
Malam harinya, Raffi mengunggah video itu ke media sosial. Ia memberi judul yang begitu menyakitkan. “Si Deglok, Pemilik Arini Craft.” Di dalam video itu, Raffi menyisipkan tulisan-tulisan yang bernada mengejek.
“Jalan saja pincang, sok jadi pengusaha.”
“Kasihan, beginilah kalau semua orang mudah percaya.”
Raffi tersenyum puas setelah menekan tombol Unggah.
“Nanti juga semua orang bakal sadar,” katanya. “Biar usahanya bangkrut sekalian. Biar nggak sok terkenal.”
Ia membayangkan esok pagi Arini akan kembali menjadi bahan tertawaan di sekolah. Ia sudah tidak sabar melihat Arini menangis.
Namun, yang terjadi justru di luar dugaannya. Beberapa jam setelah video itu diunggah, jumlah penontonnya melonjak tajam. Bukan karena ikut mengejek, melainkan karena banyak orang merasa iba melihat kehidupan Arini. Kolom komentar dipenuhi pembelaan.
“Kalian lihat sendiri? Semua tas itu benar-benar dibuat di rumahnya.”
“Saya malah salut. Di usia semuda itu dia sudah bekerja keras membantu orang tuanya.”
“Yang merekam ini keterlaluan. Kenapa mengejek anak yang sedang berjuang?”
“Kalau jalannya pincang memang kenapa? Yang penting semangatnya tidak pernah pincang.”
“Saya yang dulu batal pesan, sekarang justru ingin membeli. Semangat terus, Arini!”
Video itu terus dibagikan. Semakin banyak orang yang menonton, semakin banyak pula yang bersimpati.
Mereka tidak lagi melihat Arini sebagai gadis kecil yang diragukan kemampuannya. Mereka melihat seorang anak yang tetap berkarya meski harus menghadapi keterbatasan fisik, cibiran tetangga, dan fitnah di media sosial.
Tak lama kemudian, ponsel Bagas kembali ramai. Bukan pesan pembatalan. Melainkan permintaan maaf.
“Mas, saya yang kemarin membatalkan pesanan. Maaf ya. Setelah melihat videonya, saya jadi tahu kalau semua produk itu benar-benar dibuat sendiri. Kalau masih bisa, saya ingin memesan lagi.”
Pesan serupa berdatangan silih berganti.
“Saya jadi tambah yakin.”
“Tolong masukkan saya ke daftar tunggu.”
Bagas sampai harus membaca ulang setiap pesan yang masuk. Senyum yang sudah lama hilang akhirnya kembali menghiasi wajahnya. Sore itu Bagas pulang ke rumahnya.
Di rumah, Arini masih sibuk menyusun daun di atas selembar kain ketika Bagas datang tergesa-gesa sambil membawa ponselnya.
“Rin… lihat ini!”
Arini mengangkat wajahnya. “Ada apa, Mas?”
Bagas menunjukkan layar ponselnya yang terus dipenuhi notifikasi.
“Pesanan mereka kembali.”
Arini menatap layar itu dengan mata berkaca-kaca.
“Yang kemarin membatalkan… sekarang mereka memesan lagi?”
Bagas mengangguk sambil tersenyum.
“Mereka akhirnya melihat siapa kamu yang sebenarnya.”
Di luar sana, Raffi memandangi unggahannya sendiri dengan wajah memerah. Ia berkali-kali membaca komentar yang justru menghujat tindakannya. Bukannya berhasil menjatuhkan Arini, video yang ia buat malah membuka mata banyak orang tentang perjuangan gadis itu dan mendukungnya.
“Raffi, apa-apaan kamu ini, mengunggah video tentang Arini dengan tulisan-tulisan merendahkan. Ini termasuk perundungan. Kamu lupa, Ayahmu ini siapa? Ayahmu ini Kepala Sekolah, Nak. Jaga nama baik Ayah. Hapus viedo itu sekarang lalu minta maaf kepada Arini!”suara Sukmawan, ayah Raffi menggelegar, menggetarkan dinding rumah yang sunyi sore itu.
Raffi yang sedang bermain game, tidak menyangka ayahnya pulang dengan kemarahan seperti gunung berapi mengeluarkan lava. Dia hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya bersama rasa malu dan bersalah.
“A..aku ti..tidak bermaksud begitu, Ayah. A..aku hanya ingin memberi pelajaran kepada Arini supaya tidak sombong dan sadar siapa dirinya,”sanggah Raffi terbata-bata
“Memangnya kamu gurunya Arini, kok mau memberi pelajaran? Bukan kan? Kamu tahu, kalau kamu sedang memelihara rasa iri dan dengki di hatimu. Ingat ya, Nak, keberhasilan itu diraih dengan usaha, bukan dengan kecurangan.
Selama ini, nilai akademikmu kalah dengan Arini. Sekarang Arini menang lagi karena dia berhasil dengan usahanya. Dia bisa menjual hasil karyanya, bahkan dia juga bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain.
Itu Keren. Kalau kamu ingin mengalahkan Arini, kalahkan dengan prestasi. Itu namanya laki-laki sejati.”panjang lebar Sukmawan menasehati Raffi.
Raffi tertunduk dengan wajah seperti bunga kekurangan air. Perlahan dia menjawab, “Iya, Yah. Tapi jangan suruh Raffi minta maaf, Raffi malu.”
“Ayah akan mengantarmu ke rumah Arini. Dia anak baik, pasti mau memaafkan kamu,”Sukmawan menenangkan hati anaknya.
Selepas Magrib mereka pergi ke rumah Arini. Lantunan murotal terdengar makin nyata saat mobil Sukmawan memasuki pelataran.
Ketukan di pintu memecah keheningan yang menyelimuti malam. Arini membuka pintu, tubuhnya membeku menatap Raffi.[]









Comment