by

Aisyah, S.H: Seruan Beutong Untuk Anak Negeri : Kita Sedang Dirampok

Aisyah, S.H
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – 14 Abad yang lalu Rasulullah SAW pernah mengambil kebijakan untuk memberikan tambang kepada Abyadh bin Hammal al-Mazini. Namun kebijakan itu dianulir setelah mengetahui tambang yang diberikan tersebut laksana air yang mengalir. Pada masa Kekhilafahan kegiatan pertambangan terus berjalan sebagai penunjang masa kejayaan Islam. 
Minyak bumi misalnya telah menjadi komoditas yang dibutuhkan untuk keperluan militer maupun ekonomi masyarakat. Beberapa ladang minyak yang telah di eksplor antara lain di Baku yang mulai beroperasi sejak tahun 885 M pada masa Khalifah al Mu`tamid ` Alailah (870-892). Pada abad ke 13, Marco Polo melaporkan ratusan kapal mengambil minyak di Baku. Selain di Baku, produksi minyak juga ada di tepi timur sungai Tigris hingga sepanjang jalan menuju Mosul, Shinai Mesir dan Khuzistan di Iran. Minyak mentah tersebut tidak hanya disuling untuk keperluan sumber energi tetapi juga diolah menjadi aspal dan berbagai produk turunannya.
Berbagai batu mulia seperti zamrud diperoleh di Mesir. Sementara di Spanyol terdapat berbagai tambang mineral, seperti emas, perak, timah, tembaga, besi, belerang dan merkuri, termasuk batu rubi. Di sepanjang Afrika Utara, termasuk juga Hadramaut, Ispahan dan Armenia terdapat tambang garam. Sementara di laut Arab, di sepanjang pantai Bahrain hingga ke pulau Dahlak terdapat pengembang biakan mutiara. Cadangan mineral diberbagai wilayah propinsi Khilafah berkontribusi atas kemakmuran penduduknya. Penguasaan sumber daya alam di tangan negara tidak hanya berkontribusi pada keamanan penyediaan komoditas primer untuk keperluan pertahanan dan perekonomian Khilafah, tetapi juga menjadi sumber pemasukan negara yang melimpah pada pos harta milik umum. Kekuatan Khilafah Islamiyah telah menghalangi upaya negara-negara imperialis untuk menguasai wilayah Islam termasuk sumber daya alamnya.
Seiring melemahnya Khilafah, yang disertai oleh bayang kebangkitan revolusi Industri di Eropa, ketamakan dan kerakusan kaum kuffar untuk menguasai kekayaan kaum muslimin terbaca dengan jelas melalui rangkaian ekspedisi mereka hingga merambah ke Nusantara. Sejarah mencatat dengan tinta merah sepak terjang negara-negara penjajah seperti Inggris, Portugis, Perancis, Spanyol dan Belanda menjelajah dunia. Perjalanan ini dimotori oleh kerakusan dan dendam idiologis yaitu perang salib.
Sebelum VOC hadir ke Sumatra`s Westkust (pantai barat Sumatera), Eropa telah mengetahui tentang gunung emas. Ketika Luiz de Camoens (1524-1580), seorang Penyair Portugis, menulis dalam Os Lusiadas tentang gunung Ophir yang kaya dengan emas karena diperdagangkan masyarakat lokal kepada orang asing. Tulisan tersebut adalah sebuah puisi epik panjang yang monumental, tentang gunung Ophir di Pasaman yang kaya emas. Kabar itu diperolehnya dari pelaut-pelaut Arab yang ditemuinya ketika menjalani hukuman untuk melakukan tiga kali milisi di Orient-wilayah timur Portugis. 
Revolusi industri telah menggeser rempah sebagai primadona dari Hindia Belanda. Sebagai gantinya, muncullah komoditas tambang yang lebih menjanjikan. Tahun 1867 Wilem Hendrik De Greve, ahli geologi berkebangsaan Belanda memperkirakan terdapat 200 juta ton deposit batu bara yang tersebar di Sawahlunto. Tambang  ini didaulat sebagai pertambangan batu bara tertua di negeri ini. Ketika wilayah ini dikuasai, mereka mempekerjakan paksa (rodi) masyarakat untuk menambang. Kaki dan tangan mereka dirantai agar tak dapat melarikan diri selama bekerja. 
“Molukken is het verleden, Java is het heden, en Sumatera is de toekomst” artinya “Maluku masa lampau, Jawa masa kini dan Sumatera masa depan.” Ungkapan ini begitu mengemuka sejak abad 19 di kalangan kolonialis karena Sumatera mulai populer sebagai wilayah pertambangan minyak yang dibutuhkan penjajah untuk kebangkitan industri di Eropa. Kelompok peneliti Belanda yang terkenal adalah Royal Dutch Geographical Society yang terdiri dari ahli geografi dan geologi. Kemudian Belanda mulai memetakan daerah pertambangan di Hindia Belanda.
Potensi kekayaan tambang senantiasa beriringan dengan kepentingan politik. Terbukti dalam Perang Aceh yang berlangsung antara 1873-1904. Setelah Aceh takluk, Jenderal Johannes Benedictus van Heutsz memerintahkan penanaman pipa minyak dari Peureulak ke Pangkalan Brandan. Minyak Sumatera laku keras karena kandungan oktannya yang tinggi. Akibat prestasi yang luar biasa ini, Van Heutsz mendapat hadiah kenaikan pangkat sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda.  Memasuki abad 20 bisnis pertambangan Belanda kian menggeliat. Berdirinya berbagai perusahaan pertambangan multinasional Belanda, diantaranya : Royal Dutch di Pangkalan Brandan, Billiton Maatschappij di Belitung, Mijnbouw Maatschappij van Zuid Bantam di Banten, Bataafsche Petroleum Maatschappij di Balikpapan dan Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij di Papua.
Setelah Belanda angkat kaki, isu-isu tentang tambang dikemudian hari menjadi polemik terutama setelah adanya otonomi daerah. Allah telah menyampaikan didalam Kitabullah bahwa segala apa yang ada di bumi ini berfungsi sebagai sarana penunjang kehidupan manusia. Dari dulu hingga kini fungsi sumber daya alam tidak ada yang berubah, hanya karena peran vitalnya bagi kehidupanlah yang kemudian memunculkan konflik dan penguasaan terhadap sumber daya alam tersebut.  Penguasaan  sumber daya alam menjadi sasaran penjajahan neo imperialis yang rakus. Berbagai wilayah yang dilanda konflik tiada akhir adalah wilayah kaum muslimin dengan sumber daya alam melimpah, tiada henti bergejolak dalam cengkraman imperialisme Barat, Timur Tengah misalnya.
Bagaimana dengan konflik tambang yang terjadi di wilayah kita  ? Tambang emas yang telah diprediksi menjadi Freeport kedua, ditaksir memiliki sumber daya sebesar 93 ton, terdiri dari 1,24 miliar ton tembaga, 373.000 ounces emas, 5,7 juta perak plus 20 juta pounds molibdenum (investingnews.com pada Desember 2016 dengan menganalisis data dari Thomson Reuters GFMS Gold Mine Economics). Terletak di Kecamatan Beutong Ateuh Benggalang, Kabupaten Nagan Raya. Beutong telah memanggil ribuan mahasiswa seluruh Aceh, politisi, pemangku jabatan dan seluruh masyarakat untuk menghentikan PT. Emas Mineral Murni (EMM) sejak 9 Juli 2018 ketika Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara mengumumkan rencana pemasangan tanda batas  wilayah izin usaha pertambangan operasi produksi PT. EMM di Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Tengah.
Pertambangan adalah kegiatan untuk mendapatkan logam dan mineral dengan cara membongkar tanah yang kemudian hancurkan gunung, hutan, sungai, laut dan penduduk kampung. Pertambangan adalah kegiatan yang paling merusak alam termasuk kehidupan sosial, yang dimiliki orang kaya dan hanya menguntungkan orang kaya. Pertambangan adalah lubang besar yang menganga dan digali oleh para pembohong (Mark Twian).
Pertambangan dan lingkungan hidup adalah dua topik yang berlawanan sepanjang masa. Pertambangan selalu dilihat  sebagai bidang yang akan memberikan percepatan aliran devisa, penyediaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, percepatan daerah tertinggal, dan lebih dari itu mengurangi kemiskinan. Inilah mantra yang terus dihembuskan agar timbul keyakinan dihati masyarakat. Hingga hari ini belum ada daerah tambang  yang maju.
Dampak perindustrian hanya dinikmati segelintir orang meski gedung menjulang dan jalan semakin licin, rakyat tak dapat mencicipinya, hanya menjadi penonton saja. Kelompok kritis seperti aktivis lingkungan, akademisi dan kelompok pro-rakyat memandang pertambangan sebagai monster yang menakutkan.   Faktanya bahwa kawasan pertambangan rentan terjadi kekerasan, pelanggaran HAM melalui pengambilan tanah rakyat, perusakan, pencemaran lingkungan dan penggerogotan kedaulatan negara dengan lobi dan manipulasi politik untuk kepentingan sendiri. Pertambangan menjadi primadona yang membuat pemerintah menganaktirikan sektor lain seperti pertanian, perkebunan, kelautan dan kehutanan.
Semua proyek pertambangan, terutama pertambangan terbuka memerlukan lahan dalam jumlah yang sangat besar untuk membangun lubang tambang, pabrik, perumahan karyawan dan fasiltas lainnya. Tentunya proses ini akan menggusur lahan pertanian, hutan dan sumber air. Resiko bencana menunggu didepan mata, baik longsor maupun banjir bahkan hilangnya mata pencaharian penduduk. Perubahan bentangan alam akan mengubah tatanan ekologi apalagi pertambangan adalah industri yang begitu rakus kepada air. Misalnya; Untuk memperoleh 1 gram emas membutuhkan 104 liter air. Ini belum termasuk dampak terganggunya sistem air tanah akibat terbentuknya air asam yang dapat mencemari sungai dan air tanah. Belum termasuk limbah tailing, limbah kemasan kimia dan limbah domestik yang dibuang ke laut, kesemuanya adalah malapetaka untuk anak cucu kita.   
   
Secara sosial, pertambangan mampu menimbulkan konflik dan perpecahan, muncul penyakit baru baik akibat pencemaran bahkan penyakit menular seksual yang muncul seiring dinamika petambangan itu sendiri. Wacana pertumbuhan ekonomi hanya tinggal janji para investor dan pemerintah yang terealisasi sebagai roman “menjadi kuli di negeri sendiri.” Secara politik, pertambangan menyebabkan lenyapnya ruang aspirasi dan partisipasi warga dalam pengambilan keputusan politik setempat. Lihat saja bagaimana sebelumnya pemerintah baik daerah maupun propinsi membuang badan ketika rakyat berteriak memohon pertolongan pencabutan izin PT. EMM.
Sejak awal PT. EMM telah menjadi duri dalam daging rakyat Beutong. Ditenggarai adanya sejumlah kejanggalan yang manipulatif. Sebelumnya Pemkab Nagan Raya telah menyusun proposal penetapan Beutong Ateuh Banggalang sebagai Kawasan Pedesaan Agrowisata. Bagaimana program ini hendak dijalankan sementara lahan pertanian warga lebih dari 200 ha masuk dalam area izin PT. EMM. Justru rakyat mencurigai bahwa proposal tersebut sebagai bagian dari program sosial perusahaan tersebut untuk melunakkan hati masyarakat agar menerima kegiatan pertambangan (acehsatu.com).
Dalam proses AMDAL PT. EMM ditemukan fakta adanya manipulasi dokumen dan tanda tangan masyarakat. Masyarakat juga tertipu dengan dijadikannya Beutong Ateuh Banggalang sebagai Kampung Siaga Bencana oleh Kementerian Sosial. Jika memang daerah siaga bencana mengapa justru diberikan izin pertambangan ? namun hal yang paling janggal adalah  terkuaknya fakta siapa dibalik PT. EMM ini. Proyek ini awalnya dimiliki oleh Kalimantan Gold Corporation Limited, perusahaan asal Kanada yang memiliki jaringan bisnis dengan raksasa tambang Freeport-McMoran Inc. Sebelumnya perusahaan ini mengakuisisi 40 % saham tambang emas Beutong dari Tigers Realm Copper Pty Ltd, perusahaan asal Australia, yang akuisisinya dituntaskan pada 9 Januari 2015. Kalimantan Gold berkongsi dengan Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasdem dalam mengelola tambang Beutong karena 60 % saham perusahaan itu dimiliki pemilik Media Group ini.  Tokoh ini disinyalir sebagai pihak yang memuluskan izin PT. EMM untuk mengeksploitasi tambang Beutong.
Dengan fakta-fakta yang telah dipaparkan diatas hendaknya masyarakat memahami bahwa keberadaan PT. EMM ini harus ditolak. Bukan hanya karena sulit ditemukan lokasi pembuangan limbah, berpotensi pencemaran lingkungan, manipulasi data dan sejumlah kejanggalan lainnya atau karena terdapat situs bersejarah perjuangan ulama Aceh. Sungguh bukan semata-mata karena itu. 
Allah dan Rasulnya telah menetapkan pengelolaan sumber daya alam hanya di tangan negara, bukan dikelola oleh individu-individu apalagi diserahkan dalam cengkraman penjajahan asing. Ini dikarenakan sumber daya alam adalah kepemilikan umum yang hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Tambang Beutong bukan semata-mata milik masyarakat Beutong, namun milik seluruh kaum muslimin, maka menjadi wajib hukumnya bagi siapa saja yang muslim untuk peduli terhadap permasalahan ini. Inilah konsekuensi keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, setiap muslim, termasuk para penguasanya, wajib terikat dengan seluruh syariah Islam.
Jangan lagi ada teriakan primordialisme, warga Beutong dan seluruh rakyat Aceh adalah bahagian dari kaum muslimin. Saudaraku, simaklah Hadist Rasulullah SAW :
”Kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal; air, padang rumput dan Api (HR. Ibnu Majah).
Cukuplah ini menjadi hujjah bagi kita semua. Inilah seruan dari Beutong untuk anak negeri, kita sedang dirampok Saudara ! bergeraklah !
Penulis adalah ASN Aceh

Comment

Rekomendasi Berita