by

Alfira Khairunnisa: HIV/AIDS Merebak, Generasi Kian Rusak

Alfira Khairunnisa, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dilansir dari Medan.tribunnews.com, (22/10/2018) Terdapat tiga
anak yang diduga terjangkit HIV di Samosir, terdiri dari seorang laki-laki dan
dua perempuan berusia 7, 10 dan 11 tahun.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kementerian Kesehatan,
Sumut telah menempati posisi ke 7 di Indonesia yang terbanyak mengalami kasus
HIV/AIDS. Sementara berdasarkan data yang telah terpublikasi, angka prevalensi
HIV/AIDS di Sumut mencapai 28,97 per 100.000 penduduk. Angka yang fantastis
bukan?
Nah, artinya setiap 100.000 penduduk di Sumut telah terdapat
29 orang mengidap HIV/AIDS maka dari itu, pemerintah sangat mengharapkan semua
pihak agar aktif dan peduli untuk turut membantu menanggulanginya.
Data dari dinkes.pemkomedan.go.id, menyebutkan bahwa kasus HIV/AIDS
di Kota Medan mencapai sebanyak 5.952 per November 2017. Bayangkan saja sudah
berapa kasus sejak November 2017 hingga November 2018. Tentu angkanya terus
bertambah.
HIV/AIDS Menyasar Kanak-Kanak
Miris, HIV/AIDS tidak hanya menyasar kaum dewasa tetapi kini
kanak-kanak ikut terkena. Sungguh malang kian meradang. Data PBB menunjukkan sekitar
3200 anak di Indonesia terjangkit HIV dengan penularan dari ibu. Penularan yang
paling banyak adalah dari para istri pengguna narkoba dengan suntik, kemudian
dari para pengguna jasa pekerja seks komersial (PSK) dan istri para pria gay dan
pria gay.
Tingkat keparahan dekadensi moral (seks bebas dan LGBT) yang
dampaknya sudah memapar anak-anak sungguh membuat hati miris. Bagaimana tidak,
mereka yang masih kanak-kanak sudah harus menanggung derita yang diakibatkan oleh
lingkungannya sendiri termasuk orang tua dan orang-orang terdekatnya. Ironis
bukan?
Pencegahan HIV melalui transmisi seksual dengan 3C (Condom, Correct,
Consistent). Bukanlah solusi tepat.
Pangkal Penyebab Terjangkitnya HIV/AIDS
Sungguh HIV/AIDS menjadi dilema tersendiri dikehidupan
masyarakat dan Negara. Semua ini bersumber dari kehidupan sosial yang sudah
tidak mengindahkan lagi norma-norma agama. Free love, free sex, pergaulan bebas,
prositusi, baik yang dilokasisasi maupun liar, merupakan sumber utama perkembangbiakan
penyakit ini. Hal ini terjadi akibat diterapkannya sistem pergaulan yang tidak
benar, yang sudah tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Harus ada upaya kuat dan sistematis untuk menekan dan mencegah
terjangkitnya HIV/AIDS, penghancur generasi yang juga penyebabnya adalah merebaknya
permisifisme dan liberalisme serta tidak adanya penjagaan Negara terhadap generasi.
Dan upaya tersebut tidak lain adalah dari Negara yaitu penguasa.
Harus ada pengaturan yang jelas antara pria dan wanita. Maka
Islam memandang bahwa kehidupan antara pria dan wanita diatur sedemikian rupa. Mereka
dilarang berkhalwat, berduaan antara pria dan wanita yang bukan mahram, Islam juga
melarang kaum pria dan wanita melakukan ikhtilath (campur baur), kecuali dalam perkara
yang dibenarkan oleh syari’ah, seperti jual beli, haji-umrah, naik kendaraan umum
dan pendidikan. Wanita memiliki kewajiban menutup aurat dengan jilbab dan
khimar, kemudian pria dan wanita wajib menundukkan pandangan. Maka interaksi antara
pria dan wanita akan senantiasa terjaga.
Seharusnya hal ini menyadarkan semua masyarakat, bahwa
solusi dari seluruh permasalahan hidup manusia adalah kembali kepada sistem yang
benar-benar dapat menjadi solusi atas setiap persoalan. Kerusakan yang terjadi pada
generasi zaman now ini adalah diakibatkan oleh manusia itu sendiri yang tidak
lagi mengindahkan aturan-aturan Allah. Sebagaimana firman Allah;
“Telah tampak kerusakan di daratan dan lautan akibat ulah
tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka (untuk merasakan) sebagian dari
apa yang telah mereka kerjakan, supaya mereka kembali (kejalan yang benar).” (QS.
Ar-Ruum :41)
Sistem islam telah terbukti mampu melindungi generasi, termasuk
penyelesaian terhadap penyakit menular tanpa mengorbankan yang lain.
Maka hanya dengan sistem Islamlah yang bisa mengatasi
berbagai problematika manusia, kembali kepada sistem Islam, maka pergaulan
bebas hanya akan jadi kenangan.[]
#Alfira Khairunnisa adalah nama pena dari Sartika Saragih Lahir
di Pematang Kerasaan Kec. Bandar Kab. Simalungun Sumatera Utara. 
Praktisi pendidikan sekaligus pemerhati remaja dan gerak
mahasiswa ini menyelesaikan studinya pada tahun 2010 di Akademi Manajemen Informatika.
Menulis artikel, cerpen di beberapa media cetak maupun online. Mengajar di SMK
Widya Karya Balam Kec. Balai Jaya Kota Kab Rokan Hilir Riau pada 2011-2014.
Sekarang berdomisili di Rokan Hilir, Riau. 

Comment

Rekomendasi Berita