by

Ali Adnan Menderes, PM Turki Pertama Yang Syahid di Tiang Gantungan

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ali Adnan Menderes adalah Perdana Menteri pertama Turki yang terpilih secara demokratis. Ia terpilih secara demokratis pada tahun 1950. Dengan Partai Demokrasi yang dia dirikan, ia berhasil mengalahkan partai penguasa yaitu Partai Ataturk.

Nama lengkapnya Ali Adnan Ertekin Menderes, lahir di Aydin tahun 1899 – meninggal di Imrali, 17 September 1961 pada umur 62 tahun. Ia merupakan seorang negarawan Turki dan pimpinan pertama yang dipilih secara demokratis dalam sejarah Turki. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Turki antara tahun 1950–1960. Ia merupakan salah satu pendiri Partai Demokrat pada tahun 1946, partai oposisi resmi ke-4 di Turki.

Menurut beberapa sumber, Adnan lahir dari keluarga yang sejahtera. Dia kuliah di Izmir pada tahun 1916 saat mengikuti pendidikan militer. Ia Masuk Partai Rakyat Republik selepas perang dan menjadi wakil daerah bagi Aydin tahun 1931. Pada masa-masa itu juga, dia baru lulus dari Sekolah Hukum di Ankara. Di masa-masa selanjutnya, dia mendirikan Partai Demokrasi tahun 1946 bersama Celal Bayar dan menjadi wakil rakyat di Provinsi Kutahya. Pada tahun 1950-an, partainya mengikuti pemilihan umum dan menang.

Kemenangannya ini ditunjang oleh program kampanye yang ditawarkan Adnan antara lain pertama, azan dikembalikan menjadi dalam bahasa Arab, setelah sebelumnya diubah Kemal Atatürk menjadi bahasa Turki. Kedua, ibadah haji diperbolehkan kembali dijalankan bagi semua warga Muslim Turki. Ketiga, dibolehkan melakukan pengajaran agama Islam di sekolah-sekolah. Keempat, menghapus UU yang melarang muslimah untuk berhijab.

Hasilnya mencengangkan! Partai Attatürk turun 32 kursi di parlemen Turki, sedang partainya -Partai Demokrasi- naik menjadi 318 kursi, sebuah kemenangan yang spektakuler. Sekilas, program-program yang ia gulirkan itu sangat sederhana. Bahkan menurut beberapa sumber, semua analis barat dan Amerika Serikat (AS) menganggap program-programnya akan gagal total. Maka terpilihlah Ali Adnan Menderes sebagai PM pertama Turki, sedangkan ketua umum Partai Demokrasi Jalal Bayaar sebagai Presiden Turki.

Terobosan Spektakuler

Begitu ia dilantik sebagai PM, maka semua janjinya saat kampanye ia realisasikan. Ia langsung mengadakan sidang pertama kabinetnya pada awal bulan Ramadhan, dan ia memberikan hadiah Ramadhan yang mulia bagi seluruh rakyat Turki, berupa: Azan kembali berkumandang dalam Bahasa Arab, mencabut UU larangan pakaian muslimah, pendididkan agama Islam di sekolah dan memakmurkan masjid-masjid di seluruh penjuru Turki.

Lalu pada pemilu 1954, Ali Adnan Menderes bersama partainya kembali menang telak. Sedangkan Partai Ataturk semakin tertinggal dengan hanya mengantungi 24 kursi. Ali Adnan Menderes melanjutkan program Islamisasinya. Dia buka pembelajaran bahasa Arab, tilawah Al Quran dan tafsirnya di semua jenjang pendidikan sampai SLTA.

Ia juga mendirikan 10 ribu masjid, 25 ribu sekolah tahfizh Quran di Anatoli, 22 ribu Sekolah khusus untuk menghasilkan para Khatib, muballigh dan da’i serta pengajar Al Quran. Dia berikan izin untuk terbitnya buku-buku dan majalah yang mengajak kembali kepada Islam. Masjid-masjid lama yang telah dijadikan gudang oleh rezim sebelumnya (Ataturk) dikembalikan fungsinya sebagai tempat ibadah.

Adnan menjadi Perdana Menteri selama 10 tahun sampai kudeta milier yang dilakukan oleh jenderal-jenderalnya yang jahat pada tahun 1960 dengan mati syahid di tiang gantungan.

Sami Kohen, seorang wartawan berkata bahwa dia dihukum mati karena kebijakannya yang begitu dekat dengan Islam dan kaku dengan Israel. Juga karena keputusannya mengubah bahasa azan dari Bahasa Turki menjadi Bahasa Arab, dan karena membolehkan orang Turki untuk naik haji.

Dalam kepemimpinannya, tercatat pula dia berhasil membawa Turki sebagai anggota penuh Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang dibentuk di masa perang digin terutama sekali untuk menghadapi Uni Sovyet yang komunis dan negara-negara yang di bawah pengaruhnya.

Walaupun diketahui kepemimpinannya berjalan baik, masih ada korupsi yang melekat di tubuh pemerintahannya. Kelak ini dijadikan dalih oleh para jenderalnya yang mengkudetanya untuk memprovokasi masyarakat agar menggulingkan Adnan. Selain itu, dia dikenal menggunakan sistem keuangan liberal dalam masa jabatannya.

Pada tahun 1959, dia mengalami kecelakaan pesawat bersama pejabat-pejabat Turki lainnya. Walaupun begitu, sungguh diluar dugaan, dia selamat. Karenanya dia menjadi amat populer pada tahun itu; tapi di waktu yang sama, dia membredel pers, menyensor surat kabar, dan memenjarakan jurnalis agar kekuasaannya bisa bertahan; karena itu, dia tak begitu disukai oleh kalangan intelektual.

Pada 27 Mei 1960, dia dikudeta Cemal Gürsel dengan tuduhan mengubah konstitusi negara. Selanjutnya ia digantung di Pulau Imrali, Laut Marmara, pada 17 November 1961 bersama dua menterinya.

Hubungan Erat dengan Negara Arab

Dalam politik luar negerinya, Ali Adnan Menderes menjalin kedekatan hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab, dan mulai menjauh secara bertahap dari Israel. Obat-obatan dan barang dagangan asal Israel diperiksa dengan sangat ketat untuk bisa masuk ke Turki. Tahun 1956 dia mengusir Dubes Israel. Akibatnya seluruh kekuatan anti Islam membidiknya. Upaya-upaya menjatuhkannya terus berlangsung

Karena politiknya yang semakin dekat dengan Islam dan negara-negara Islam, akhirnya para jenderal militer melakukan kudeta pada tahun 1960, dengan berbagai tuduhan jahat yang mereka buat. Ali Adnan Menderes syahid ditiang gantung kudeta militer.

Peninggalan

29 tahun setelah kematiannya, parlemen Turki menjelaskan apa-apa yang terjadi antara mereka dan Adnan juga memaafkan dia. Di Istambul, dibuat satu musium untuk mengenang dirinya. Di Aydin, ada satu universitas yang memakai nama dirinya dan di Ýzmir ada satu bandara yang memakai nama dirinya, yakni Bandara Adnan Menderes, untuk mengenang pribadi Adnan.

Kisah perjuangannya dalam membangun Islam di Turki -yang sebelumnya masih jadi negara sekuler (jauh dari ajaran agama, yang sesat, menyesatkan) buatan Atatürk- memerlukan perjuangan yang amat sulit. Rupanya, pemikiran Adnan menjadi inspirasi bagi Necmettin Erbakkan perdana menteri Turki tahun 1996. Dengan lantang, dia berseru bahwa dia adalah seorang “Islamis”.

Pemikirannya ini membuat Erbakkan digulingkan pada tahun selanjutnya. Namun demikian, Recep Tayyip Erdogan -perdana menteri Turki yang sekarang ini- telah berhasil menggelorakan Islam di Turki secara perlahan. Jilbab di Turki sudah diperbolehkan dikenakan setiap wanita Islam bahkan pegawai disana.

Begitulah sejarah kelam militer Turki. Setiap kali Perdana Menteri membawa Islam ke Turki, menghidupkannya dan menyebarkannya, seperti Ali Adnan Menderes, Najmuddin Arbakan dan Rajab Thoyyib Erdogan, maka nasibnya akan sama, selalu mereka kudeta. Suami dari Berrin Menderes itu akhirnya dengan izin Allah syahid di tiang gantungan. Semoga Allah selalu merahmatinya dan melindungi Erdogan dari segala kejahatan para musuhnya yang membenci Islam.(mina)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × four =

Rekomendasi Berita