by

Asmarida. S. Pd.i: Dalam Pusaran Narkoba

  Asmarida. S. Pd.i, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dikutip dari Viva.co.id (21/8), Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkapkan, anggota DPRD Langkat, Ibrahim Hasan (45) diduga kuat sebagai bandar besar sekaligus pemilik sabu seberat 105 kilogram dan pil ekstasi 30 ribu butir. Dan juga kembali meringkus anak buah Ibrahim Hasan alias Hongkong (45), bernama Firdaus alias Daus (44) saat tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, dari Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu 22 Agustus 2018. (Viva.co.id. 23/8)
Bisnis narkoba amat menggiurkan banyak pihak. Mudahnya memperoleh uang dengan cara haram ini, siapa saja ikut dalam pusarannya. Di negeri ini, mulai dari tukang kuli hingga anggota dewanpun terjerat dan tergiur dengan bisnis ini. Mulai dari pejabat hingga aparat juga turut andil di dalamnya. Mengapa demikian? Karena dipastikan peminatnya banyak. Artinya tuntutan permintaan, yang membuat bisnis ini sangat diminati oleh para pembisnisnya.
Amatlah disayangkan, seorang anggota Dewan juga ikut andil di dalamnya. Sepatutnya menjadi teladan bagi warga masyarakat, namun justru menjadi bandar narkoba terbesar di wilayah Sumatera yang kut andil dalam merusak generasi demi seonggok harta yang mudah di cari. 
Kita tahu narkoba adalah singkatan dari narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya. Istilah lainnya adalah Napza [narkotika, psikotropika dan zat adiktif]. Istilah ini banyak dipakai oleh para praktisi kesehatan dan rehabilitasi. Dampak bagi para pemakainya secara umum, efek buruk terhadap kesehatan meliputi: terganggunya fungsi otak, daya ingat menurun, dan intoksikasi (keracunan). Dengan efek buruk seperti itupun, ternyata kasus narkoba semakin meningkat. 
Adanya hubungan simbiosis mutualisme pada keduanya antara pengedar dan pemakai bak mata rantai yang sulit diputuskan. Dan bahkan skala dunia, peredaran narkoba sangat memprihatinkan. Termasuk Indonesia, setiap tahunnya mengalami peningkatan korban dan para bandar dari semua kalangan. Pemakai dari semua kalangan, tanpa mengenal dia miskin ataukah kaya. Pejabat atau masyarakat biasa. Narkoba mampu menjerat mereka semua, hingga sulit untuk keluar dari jeratannya.
Sekulerisme Pemicu Suburnya Narkoba
Penyebab utama maraknya narkoba adalah penerapan falsafah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) dalam masyarakat saat ini. Ketika kehidupan ini meninggalkan pilar-pilar agama dalam diri, keluarga dan masyarakat, mengakibatkan banyak yang lalai akan tujuan hidup, lupa akan hari akhir dan kedahsyatannya, lupa bahwa kehidupan ini adalah sawah dan ladang beramal untuk akhirat.
Akibatnya pandangan kesenangan dan kenikmatan semata-mata hanya mengejar kesenangan materi (hedonisme) dan keserba bolehan (permisifisme) menjangkiti kehidupan masyarakat. Maka wajar, tidak lagi memandang halal-haram, pahala atau dosa ketika menjalankan roda kehidupan saat ini. Jeratan pusaran narkoba tidak akan pernah terhenti, mata rantai yang sudah kokoh dan sifatnya mendunia. Sehingga bisnis ini sangatlah menggiurkan dan cara mudah memperoleh kekayaan.
Para pecandu akan terus dan selalu berusaha untuk memakainya, hingga kematianlah terkadang yang menghentikannya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat dari 87 juta populasi anak di Indonesia, sebanyak 5,9 juta di antaranya menjadi pecandu narkoba. Mereka jadi pecandu narkotika karena terpengaruh dari orang-orang terdekat (Okezone.com , 6/03/18)
Ditambah lagi dengan sistem hukum yang saat ini, pecandu narkoba tidak lagi dipandang sebagai pelaku tindak kriminal, tetapi hanya korban atau seperti orang sakit. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Gories Mere mengatakan (Kompas.com, 4/10): “Pencandu narkoba seperti orang yang terkena penyakit lainnya. Mereka harus diobati, tetapi menggunakan cara yang khusus.”
Disisi lain, sanksi hukum yang dijatuhkan terlalu lunak. Vonis mati yang diharapkan bisa menimbulkan efek jera pun justru dibatalkan oleh MA dan grasi presiden. Bandar dan pengedar narkoba yang sudah dihukum juga berpeluang mendapatkan pengurangan masa tahanan. Parahnya lagi, mereka tetap bisa mengontrol penyebaran narkoba dari dalam penjara. Dan sudah menjadi rahasia umum, banyak pula penegak hukum juga terjerat dalam kubangan narkoba.
Islam Adalah Solusi
Ketika akar masalahnya adalah pengabaian hukum Allah, baik secara keseluruhan, ataupun sebagiannya, maka solusi mendasar dan menyeluruh untuk masalah narkoba adalah dengan menerapkan hukum Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kalau ini tidak dilakukan, sudah terbukti persoalan bukan semakin baik, namun semakin memperpanjang masalah. 
Narkoba jelas diharamkan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ مُسْكِرٍ وَمُفَتِّرٍ
Rasulullah saw melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah)” (HR. Abu Daud no. 3686 dan Ahmad 6: 309)
Sebagai zat haram, siapa saja yang mengkonsumsi, mengedarkan dan memproduksinya berarti telah melakukan jarîmah (tindakan kriminal) yang termasuk sanksi ta’zir. Pelakunya layak dijatuhi sanksi dimana bentuk, jenis dan kadar sanksi itu diserahkan kepada ijtihad Khalifah atau Qadhi, bisa sanksi diekspos, penjara, denda, jilid bahkan sampai hukuman mati dengan melihat tingkat kejahatan dan bahayanya bagi masyarakat.
Terhadap pengguna narkoba yang baru sekali, selain harus diobati/direhabilitasi oleh negara secara gratis, mungkin cukup dijatuhi sanksi ringan. Jika berulang-ulang (pecandu) sanksinya bisa lebih berat. Terhadap pengedar tentu tak layak dijatuhi sanksi hukum yang ringan atau diberi keringanan. Sebab selain melakukan kejahatan narkoba mereka juga membahayakan masyarakat.
Jeratan pusaran narkoba akan selalu ada tiada hentinya. Ketika Islam tidak dijadikan pedoman hidup dengan benar baik oleh individu, masyarakat maupuk negara. Maka ketaatan menjalankan Islam adalah keharusan bagi setiap muslim. Sebagaimana Allah Ta’ala telah menjanjikan dalam firman-Nya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (Q.S : An-Nisa : 59). Wallahu A’lam bisshawab.[]

Penulis adalah Guru SMK N 3 Meulaboh

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 4 =

Rekomendasi Berita