by

Bukan Sekedar Adzan, Bilal Memanggil Dengan Hati Penuh Kecintaan

ilustrasi:syariahcenter
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Setiap kita sudah tentu mengenal apa itu adzan. Ia adalah panggilan kepada kaum muslimin untuk menunaikan sholat yang dikumandangkan lima kali dalam sehari, Shubuh, Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya.
Di masa Rasulullah, Muhammad SAW, Bilal yang sebelumnya seorang budak dan dibebaskan oleh Abu Bakar Shiddiq itu menjadi muadzin yang bertugas memanggil kaum muslim untuk datang ke masjid dan menunaikan sholat berjamaah.
Suara adzan yang dikumandangkan Bilal benar-benar meresap ke hati siapa saja yang mendengar sehingga masjid penuh oleh kaum muslim di setiap waktu sholat. Bilal mengumandangkan adzan dengan suaranya yang indah dibarengi dengan kecintaan kepada kaum muslim. 
Sejak Rasulullah wafat, Bilal begitu sedih dan tidak lagi mengumandangkan adzan. Bahkan saat Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali, Bilal menolaknya. “Rasulullah telah wafat maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.” Ujarnya menolak permintaan Abu Bakar. Abu Bakarpun tidak dapat memaksa permintaannya itu. Sedih yang mendalam begitu lekat di hati Bilal.
Kesedihan yang sangat mendalam, mendorong Bilal meninggalkan Madinah dan ikut pasukan Fath Islami menuju Syam dan tinggal di Syria. Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, hingg suatu malam hadir Rasulullah SAW dalam mimpinya dan bertanya, “Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai begini?”
Bilal terperanjat kaget dan segera mempersiapkan perjalanan menuju Madinah untuk berziarah ke makam Rasulullah yang telah lama ia tinggalkan. Setibanya di Madinah, Bilalpun menangis tersedu melepas rasa rindunya yang dalam kepada Rasulullah SAW.
Tiba-tiba dua remaja mendekatinya. Mereka adalah Hasan dan Husein, cucu Rasulullah SAW. Dengan mata sembab karena tangis, Bilal yang beranjak tua itu memeluk kedua cucu Rasulullah SAW itu.
Salah satu dari cucu Rasulullah itu berkata kepada Bilal. “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami?” Kami ingin mengenang kakek kami.
Saat itu, Umar Bin Khattab yang telah menjadi Khalifah, menyaksikan pemandangan yang mengharukan itu. Beliaupun meminta Bilal untuk sekali saja mengumandangkan adzan. Bilalpun memenuhi permintaan itu.
Menjelang tiba waktu sholat, Bilalpun menaiki tempat di mana ia biasa mengumandankan adzan semasa Rasulullah SAW masih hidup. Bilalpun memulai adzan. Beliau mengumandangkan panggilan kepada kaum muslimin untuk bergegas melaksanakan sholat dengan panggilan hati yang penuh kecintaan dan kasih sayang. Bilal mengumandangkan adzan dengan hati yang penuh kerinduan.
Saat Bilal mengumandangkan lafadz “Allahu Akbar”, seluruh Madinah mendadak sunyi-senyap dan segaa aktivitas terhenti. Semua penduduk terkejut. Suara yang telah bertahun-tahun hilang, yang mengingatkan tentang sosok manusia agung dan suara yang dirindukan itu telah kembali.
Saat Bilal melafadzkan kata “Asyhadu An-laa ilaaha illaa Allah”, seluruh penduduk Madinah berlarian menuju suara itu bahkan gadis yang sedang dipingitpun, merekapun keluar.
Saat Bilal mengumandangkan lafdz “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah,” Madinah pecah dengan suara dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis teringat masa indah bersama Rasulullah. Umar Bin Khattab paling keras suara tangisnya. Bilalpun tak sanggup menerskan adzannya. Lidahnya kelu dengan air mata berderai. Hari itu, Madinah teringat masa di mana Rasulullah bersama mereka. 
Itulah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah SAW wafat. Adzan yang tak sanggup dirampungkan. Subhanallah![GF]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 2 =

Rekomendasi Berita