by

Dwi Rahayuningsih, S.Si : Label Radikal Tak Masuk Akal

Dwi Rahayuningsih, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Menurut survei Rumah Kebangsaan dan Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) sepanjang 29 September hingga 21 Oktober 2017, sebanyak 41 masjid yang ada di kantor pemerintahan terindikasi sebagai tempat penyebaran paham radikal. 

Indikator radikal menurutnya dilihat dari konten materi khotbah Jumat yang disampaikan seperti ujaran kebencian, sikap negatif terhadap agama lain, terhadap pemimpin perempuan dan non muslim, serta sikap positif terhadap Khilafah. (www.liputan6.com)


Meluruskan Makna Radikal

Kata radikal berasal dari kata dasar radik yang berarti akar. Sedangkan menurut KBBI berarti secara mendasar (sampai kepada yang prinsip atau sampai ke akar-akarnya). Dapat juga diartikan sebagai sifat maju dalam hal pola pikir atau tindakan. Jika kata radikal disematkan kepada pemahaman terhadap agama, berarti dapat dipahami bahwa kata radikal adalah memahami agama hingga pada hal prinsip atau ke akarnya. 

Makna ini sangat posistif. Misalnya seorang muslim yang memahami Islam secara radikal, berarti bahwa ia memahami Islam hingga ke akarnya. Yaitu memahami Islam secara mendalam sampai ke masalah yang paling mendasar berupa aqidah. Hanya saja, makna ini mengalami pergeseran ketika kata radikal diikuti dengan imbuhan “isme” menjadi radikalisme.

Sesungguhnya kata radikalisme ini menjadi negatif tatkala dicetuskan oleh orang-orang barat yang memerangi Islam untuk memberikan stigma negatif terhadap para pemeluk Islam yang dianggap fanatik. Sehingga orang-orang yang berpegang teguh terhadap ajaran agama Islam dianggap radikal. Lebih jauh lagi, kata radikal ini digiring menjadi opini negatif sebagai cikal bakal teroris.


Radikal Tidak Sama Dengan Teroris

Anggapan bahwa siapapun yang menyampaikan pandangannya tentang keharaman pemimpin perempuan dan non muslim sebagai bentuk intolenransi dan berpaham radikal adalah pandangan yang sangat keliru, ngawur, dan tidak masuk akal. Apalagi jika ini dilakukan oleh ulama atau lembaga yang menjadi representasi umat Islam. 

“Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan pernah ridlo kepada kalian hingga kalian mengikuti milah mereka.” (QS. Al-Baqarah:120)

Jelas hal ini yang menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat. Akibat stigma negatif ini, umat Islam semakin phobia terhadap agamanya sendiri. Ajaran Islam hanya diambil pada tataran individu semata, berupa ibadah ritual sementara syariahnya dijauhi dan ditinggalkan. 

Khatib-kahtib yang menyampaikan kebenaran Islam dicurigai dan dianggap teroris. Pesantren-pesantern dituduh sebagai sarang teroris. Kampus-kampus dilarang melakukan pengajian. Media sosial dipantau. Semua itu semata-mata untuuk satu tujuan, agar Islam tidak berkembang. 

Padahal sudah jelas bahwa apa yang mereka tuduhkan tentang ajaran Islam tidak terbukti. Sebaliknya, “Islam radikal” pernah diterapkan selama 13 abad dan mampu membawa peradaban mulia. Islam radikal yang dimaksud adalah Islam yang diterapkan dari akarnya. Bukan hanya sekadar ibadah ritual namun dalam bentuk sitem pemerintahan. 

Penerapan Islam yang sempurna,mengatur seluruh urusan umat. Hal inilah yang ditakutkan oleh mereka yang phobia dan memusuhi Islam. Mereka takut jika Islam diterapkan dalam bentuk sistem pemerintahan, maka kejayaan mereka akan musnah. Kejayaan yang dibangun berdasarkan ide sekuler (pemisahan agama dari kehidupan). 

Untuk itu, sudah sepantasnya kaum muslimin kembali kepada fitrahnya, mengabdi hanya kepada Allah SWT secara totalitas (kaaffah) dengan menjalankan seluruh perintah-Nya berupa penerapan hukum-hukum syara’ dan menjauhi larangannya termasuk mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin. 

Ajaran Khilafah yang mereka takutkan dan menjadi sumber phobia terhadap Islam, bukanlah ajaran sesat, melainkan ajaran Islam yang jelas sumber dalilnya. 

“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al-Maidah: 48)

Sedangkan dalil As-Sunnah, sesuai sabda Nabi SAW:

“Barangsiapa yang mati sedangkan dipundaknya tidak ada baiat (kepada seorang imam/Khalifah) maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Muslim, No 1851).

Dengan demikian, stigma negatif terhadap kata radikal adalah salah satu strategi asing untuk menciptakan Islamophobia di kalangan umat Islam sendiri. Hal ini dilakukan tidak lain agar Khilafah Islam tidak tegak kembali di muka bumi ini. Namun mereka lupa bahwa Khilafah adalah janji Allah. sedangkan janji Allah adalah pasti. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan anggota Revowriter

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen + four =

Rekomendasi Berita