by

Erlina YD, S.Hut: Buang Pendidikan Sekuler

Erlina YD, S.Hut, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam setiap proses pendidikan, dipastikan semua pihak menginginkan agar hasil dari pendidikan tersebut adalah manusia-manusia yang semakin bisa memahami dan memaknai kehidupannya dengan baik. Dari proses pendidikan juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas generasi yang mempunyai peran aktif dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Harapan menjadi manusia yang lebih berguna dan berdaya guna serta tidak melupakan kepada penciptanya. 
Kurikulum pendidikan saat ini hanya menyisakan 2 jam per pekan untuk mata pelajaran agama. Dalam mata pelajaran agama khususnya agama Islam, sudah banyak bab-bab yang ‘dirampingkan’ dengan alasan tidak sesuai dengan kondisi sekarang atau bab tersebut akan menjadikan anak didik radikal dan jauh dari rasa toleransi. Bila kita ingat, bab yang hilang dari pelajaran agama adalah bab jihad dan sejarahnya. Jikapun membahas sejarah jihad (perang), hanya sekilas yang masih membahas agak lebih panjang biasanya di sekolah berlabel Islam. 
Sudah banyak bab terdistorsi atau bahkan hilang sama sekali, ternyata masih ada pihak yang mendesak agar kurikulum agama (Islam) dikaji lagi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU), KH. Said Aqil Siradj mengusulkan agar bab tentang sejarah yang dominan hanya menceritakan perang dikurangi porsinya. Dia menyebut perang Badar dan perang Uhud bisa menjadikan siswa menjadi radikal. Masih menurutnya, ayat-ayat perang oleh beberapa pihak disalahartikan. Bahkan, saat resepsi pernikahan justru ayat perang juga dibaca yang seharusnya membaca ayat-ayat yang menyejukkan. Hal ini dia sampaikan dalam acara Konferensi Wilayah PW NU Jatim di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Ahad (29/7).
Jika benar usulan tersebut diterima, tentu sudah terbayang di depan mata anak-anak didik khususnya yang beragama Islam akan semakin jauh dari ajarannya. Mereka akan menjadi anak yang tidak punya semangat juang, bermental instan, dan semakin terperangkap dalam kondisi yang semakin sekuler. Bahkan bisa menjadi alergi terhadap ajaran agamanya sendiri. Radikal menjadi kata yang sangat ditakuti jika tersemat pada dirinya sedangkan toleran serta toleransi menjadi tujuan dari beragama itu sendiri. 
Pelajaran-pelajaran lain di luar pelajaran agama yang tidak mengaitkan dengan ajaran agama (Islam) ditambah dengan teori-teori pembelajaran yang bertentangan dengan ajaran Islam, akan semakin menjadikan generasi-generasi sekuler.
Yang harus benar-benar menjadi perhatian adalah bahwa gugatan yang menyangkut eksistensi atau peran agama di tengah masyarakat ini sebenarnya khas terjadi pada agama Kristen saja yang ketika itu memang sudah tidak up to date lagi. Karenanya menjadi janggal ketika gugatan tersebut dialamatkan kepada ajaran Islam yang sudah paripurna ajarannya, diturunkan dan diridhoi Allah SWT untuk menjadi penyelamat umat manusia di dunia. 
Gagasan Pendidikan Islam
Dalam memahami gagasan pendidikan Islam tentu tidak boleh melepaskan dari ajaran agama Islam itu sendiri. Ajaran Islam  menjadi sumber dalam menentukan corak dan arah pendidikan Islam dalam membentuk manusia yang memahami hakikat dan tujuan hidupnya. Pendidika dalam Islam pandangan Islam harus merupakan upaya sadar dan terstruktur serta sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai hamba Allah dan Khalifah di muka bumi. 
Kurikulum pendidikan Islam sangat khas. Kurikulum ini memiliki ciri-ciri yang menonjol pada arah, asas, dan tujuan pendidikan, dan unsur pelaksana serta kurikulumnya. 
Akidah Islam menjadi asas pendidikan dalam penyusunan kurikulum dan komponen pendidikan lainnya. Dengan asas akidah islam, bukan berati semua pelajaran bersumber dari akidah Islam. Namun Islam akan menjadi standar penilaian dan tolak ukur suatu pemikiran dan perbuatan. Penetapan tujuan pendidikan Islam juga tidak lepas dari asas akidah Islam dan akan menjadi panduan bagi seluruh kegiatan dalam sistem pendidikan. Maka ditetapkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berkarakter,  yakni (1) kepribadian Islam, (2) menguasai tsaqofah Islam, (3) menguasai ilmu kehidupan (sains teknologi dan keahlian) yang memadai.
Sebagai khalifah di muka bumi, patukah kita camkan firman Allah SWT berikut ini :
“Tuntutlah pada apa yang diberikan kepadamu oleh Allah akan akhirat, dan janganlah melupakan bahagianmu di dunia ini.” (TQS Al Qashash : 77)
“Allah mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (TQS Al Mujadalah : 11).

Penulis adalah Founder Komunitas Muslimah Peduli Generasi dan Revowriter, Brebes

Comment

Rekomendasi Berita