by

Estriani Safitri: Depolitisasi Ulama, Memarginalkan Porsi Agama

Estriani Safitri, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Telah
berlangsung Multaqo Ulama yang
dilaksanakan
di Hotel Grand Cempaka
, 06
Juli 2018. Multaqo ini merupakan Forum Ilmiah Internasional ke-5 ulama dan dai
se-Asia
Tenggara, Afrika dan
Eropa dengan tema Bersatulah. Forum tersebut merupakan kerja sama antara
Yayasan Al-Manara dan Pemerintah Jakarta. Adapun yang hadir
dari kalangam dai, ulama,
peneliti, aktivis, dan tokoh masyarakat.

Acara ini d
itutup dengan menghasikan 10 poin kesepakatan.
Dilansir
dari Hidayatullah.com, 06/07/2018,
ada
beberapa poin pertemuan ulama tersebut, kata Jeje Zaenudin (Sekretaris Rabithah
Ulama dan Dai Asia Tenggara yang juga merupakan Tim Steering Commitee Multaqo
ke-5), lebih menekankan pada pentingnya rahmat dalam Islam dan hidup
berdampingan secara damai dalam harmoni antara muslim dan nonmuslim.
Poin lainnya menyebutkan bahwa penggunaan IT untuk berdakwah
juga perlu lebih dimasifkan
utamanya bagi para
ulama dan dai
.
Mengingat, Indonesia sebagai negara muslim terbesar
dalam hal jumlah,
maka harus memainkan peran utama
dalam menciptakan perdamaian dunia melalui dakwah dan pendidikan yang didukung
oleh kebijakan pemerintah yang benar.
Pun,
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang menutup acara tersebut, menekankan
bahwa di antara 10 poin rekomendasi, salah satunya adalah bagaimana memperkuat
Jakarta sebagai salah satu pusat peradaban dalam konteks nasional dan
internasional (Moslemtoday.com, 06/07/2018).
Dilansir
dari Metrotvnews.com, 12/07/2018, Presiden Joko Widodo bertemu dengan ulama dan
ratusan hafiz Quran di Istana Negara pada Rabu (11/07/2018) sore. Dalam
kesempatan itu, Jokowi berpesan untuk selalu menjaga agar Islam menjadi rahmat
untuk semua.
Namun
sayangnya
, momentum
rutin pertemuan para pemimpin ataupun calon pemimpin negeri ini dengan para
ulama, malah membuat kaum pewaris nabi itu menjadi sorotan di tengah upaya pemerintah
mencegah radikalisme dan moderasi pemahaman Islam. Ulama yang seharusnya
menjadi corong kebenaran dan pembawa amanah umat justru dianggap pelaku
kriminal manakala menentang kezaliman penguasa dan kepentingan asing.
Publik
pun disuguhkan bermacam berita kunjungan sehingga
terkesan ada upaya
depolitisasi
ulama
yang dirasakan oleh berbagai kalangan masyarakat.
Berbicara
tentang
depolitisasi ulama, hal tersebut memang tidak
asing lagi ditengah-tengah masyarakat yang sadar akan hal ini. Depolitisasi
ulama merupakan upaya memarginalkan peran ulama dari politik Islam
yang hakiki.
Menurut
Noperman Subhi, S.IP, M.Si dosen
Akademi Bina Bahari Palembang,
ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk
mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama
maupun masalah sehari-hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun
sosial kemasyarakatan.
Tetapi,
mengapa
ulama harus dipolitisasi?Sedangkanulama memiliki peran yang sangat
besar dalam berbagai peristiwa sejarah. Bahkan nyaris tidak ada satu pun
perubahan di dunia ini yang tidak melibatkan peran ulama, termasuk dalam
kehidupan politik.
Mereka jugalah orang pertama yang
menumbuhkan kesadaran berpolitik masyarakat hingga masyarakat memiliki
kesadaran untuk melakukan perubahan secara politik,”
Kata Noperman Subh
i.
Apatalagi kedudukan
ulama
sejatinya menjadi tumpuan bagi umat. Mereka adalah pewaris para Nabi
(waratsatul anbiya) yang kedudukan mereka dijelaskan oleh Nabi SAW :
“Sesungguhnya perumpamaan ulama di muka bumi laksana bintang-bintang yang ada
di langit yang menerangi gelapnya bumi dan laut. Apab
ila padam
cahayanya maka jalan akan kabur.”
(HR Ahmad).
Pun, Asy-Syaikh Shalih Fauzan mengatakan, “Kita wajib memuliakan ulama
muslimin karena mereka adalah pewaris para nabi, maka meremehkan mereka
termasuk meremehkan kedudukan dan warisan yang mereka ambil dari Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam
serta meremehkan ilmu yang mereka bawa.
Barang siapa terjatuh dalam perbuatan ini tentu mereka akan lebih
meremehkan kaum muslimin.Ulama adalah orang yang wajib kita hormati karena
kedudukan mereka di tengah-tengah umat dan tugas yang mereka emban untuk
kemaslahatan Islam dan umat muslim.

Kalau mereka tidak
mempercayai ulama, lalu kepada siapa mereka percaya? Kalau kepercayaan telah
menghilang dari ulama, lalu kepada siapa kaum muslimin mengembalikan semua
problem hidup mereka dan untuk menjelaskan hukum-hukum syariat? Pada saat
itulah akan terjadi kebimbangan dan terjadinya huru-hara.” (al-Ajwibahal-Mufidah,
hlm. 140).

Maka dari itu, ulama harus mampu
memelihara dan menjaga penyimpangan warisan para nabi berupa Al
quran (wahyu) dan Sunnah
atau Hadist (Risalah), baik menyangkut akidah maupun syariah.

Juga sebagaiseorang politisi. Ia senantiasa memperhatikan dan
mengurusi urusan-urusan umat. Ulama mengurusi urusan umat bukan dengan
kekuasaan, tetapi dengan keilmuannya.
Ulama haruslah menjadi orang yang mengamalkan ilmunya,
senantiasa menyuarakan kebenaran, cinta akan kebaikan, memerintahkan kemakrufan
dan mencegah kemungkaran.
Ulama harus mengajarkan dan menjelaskan kebenaran dan
keadilan kepada penguasa, sekaligus menyeru penguasa untuk menerapkan Islam
secara benar, konsisten dan adil serta menghiasi diri dengan akhlak Rasul saw.
Ulama harus tabah menerima segala cobaan dan kesulitan dalam menjalankan semua
itu.

Tetapi, faktanya
keberadaan sebag
ian ulama saat ini banyak yang berusaha menjauhkan muslim dari Islam dengan menafsirkan Alquran dan as-Sunnah
sekehendak nafsu mereka.Mereka menjilat ke penguasa dan menjadikan kaum kafir
sebagai karib–karibnya. Itulah yang dikatakan sebagai ulama sû’.

Ulama
yang tetap mau bertahan dalam sistem, dan mendukung eksistensi sistem yang ada
meskipun sistemnya berlandaskan sekularisme yang bertentangan dengan Islam.
Sekularisme adalah paham yang memisahkan agama dalam kehidupan bermasyarakat
dan bernegara. Sikap inilah yang dapat membawa kehancuran kehidupan kaum
muslimin.
Sistem sekular membutuhkan legitimasi ulama untuk terjaga
eksistensinya. Oleh karenanya, para penjaganya akan terus berusaha menjebak
Ulama agar mendukung agenda
depolitisasi Islam dengan menjadi corong Islam moderat.
Islam moderat yang dikampanyekan sebagai jalan tengah berIslam dengan
membentuk opini bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan kekerasan, bom bunuh
diri, dan peperangan. Kaum
muslimin terus digiring untuk mengambil aturan Islam sebagian saja yang
hanya apabila sesuai dengan kondisi yang ada.
Islam tidak boleh mengatur masalah bernegara dengan motto Islam
Rahmatan lil ‘alamiin. Itulah Islam moderat yang menerima Sekularisme sebagai
landasannya.
Padahal Allah telah menegaskan dalam Alqur’an untuk berIslam secara
keseluruhan (kaffah).
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam
keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya
syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
(QS. Al Baqarah:
208).
Al-Allamah Al-Minawi dalam Faydh al-Qadîr Syarah Jami’ Shogir dari Imam
Syuyuthi, mengatakan: “Bencana bagi umatku (datang) dari ulama sû’, yaitu ulama
yang dengan ilmunya bertujuan mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan
kedudukan.

Setiap orang dari
mereka adalah tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan
dikuasai oleh kesengsaraannya. Siapa saja yang kondisinya demikian, maka
bahayanya terhadap umat datang dari beberapa sisi.

Dari sisi umat
mereka mengikuti ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya. Ia memperindah
penguasa yang menzalimi manusia dan gampang mengeluarkan fatwa untuk penguasa.
Pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan kedustaan. Karena sombong, ia
mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui.” (Faydh al-Qadîr, VI/369.)

Kini, ulama yang
menjadi panutan dan dihormati, akhirnya tergerus oleh opini kotor dan sadisnya
politik yang kotor dan penuh intrik dalam sistem Kapitalisme-Sekular. Pada
situasi seperti inilah kemudian muncul seruan untuk mengembalikan ulama pada
habitatnya non-politik.

Dengan dalih
menyelamatkan martabat dan kehormatan ulama. Padahal sadar atau tidak, upaya
Depolitisasi ulama adalah bentuk pengokohan kekuasaan rezim dalam sistem
Kapitalisme-Sekular. Karena, upaya ini akan menggusur peran dan tangungjawab
ulama dan umat dalam perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam di
tengah-tengah umat.

Umat
butuh ulama pewaris nabi yang siap menjadi penjaga islam terpercaya, tidak
mudah terjebak dalam bujuk rayu dunia.
Ia
memberikan loyalitasnya hanya kepada Allah, Rasul-Nya dan mengajak umat untuk
berjuang menghadirkan kembali institusi riil yang mengatur Islam secara kaaffah
ke tengah umat, yang dengannya kesejahteraan dapat diraih, kemuliaan di dunia
dan di akhirat sebagai umat terbaik (Khairu Ummah) dapat diwujudkan.Wallahu
a’lam bisshawab.

Penulis adalah seorang mahasiswi di Konawe

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 + 17 =

Rekomendasi Berita