by

Ferdinand Hutahean: Idealisme Kemewahan Terakhir Yang Dimiliki Pemuda

Ferdinand Hutahean, Pimpinan Rumah Amanah Rakyat dan direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia.[Nicholas/radarindonesianew.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sebuah
kalimat yang sangat luar biasa maknanya dari seorang Tan Malaka. Sosok
idealis, pejuang dan cinta tanah airnya hingga akhir hayatnya meski kita
mengetahui bagaimana kisah akhir hayat Tan Malaka. Tapi kita mengetahui
nilai-nilai kehidupan yang penuh idealisme sosok Tan Malaka. 
Kalimat
itu sekarang menjadi sangat berarti karena hari ini tepat tanggal 28
Oktober adalah peringatan ke 88 Hari Sumpah Pemuda. Dimana pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda suku bangsa nusantara berkumpul di Batavia
dengan semangat idealisme dan semangat perjuangan untuk merdeka dan
berdaulat atas bangsa Indonesia, serta tidak ingin menjadi bangsa
jajahan asing. Maka kaum pemuda dari Barat hingga ke Timur berkumpul
dan mengangkat sumpah. Kumpulan pemuda anak anak nusantara, kaum Bumi
Putra, Pribumi Indonesia yang dinodai hadirnya Van der plass sianak
Belanda penjajah. 
Mereka, para Pemuda yang
berkumpul itu dengan kesamaan pikiran, kesamaan hati dan kesamaan tujuan
kemudian bersumpah, Satu tumpah darah tanah air Indonesia, Satu bangsa
Indonesia, Menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia. Itulah inti
dari Sumpah Pemuda yang dibacakan di Jl.Kramat Raya No. 106 Jakarta
Pusat yang kini menjadi museum Sumpah Pemuda. 
Panitia
kongres pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda dipimpin Ketua : Soegondo
Djojopoespito (PPPI), Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java),
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond) Bendahara: Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond), Pembantu I : Djohan Mohammad
Tjai (Jong Islamieten Bond), Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda
Indonesia), Pembantu III : Senduk (Jong Celebes), Pembantu IV : Johanes
Leimena (yong Ambon), Pembantu V : Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem
Betawi) dengan peserta berjumlah lebih dari 70 orang mewakili bumi
nusantara. Hadir juga pada saat itu sebagai peninjau perwakilan timur
asing yaitu dari keturunan Cina / Tionghoa namun tidak sebagai peserta
dan tidak turut serta mengucapkan Sumpah Pemuda. Mereka hanya peninjau. Yang kemudian sejarah ini berkelanjutan pada saat sidang BPUPKI dalam
rangka menetapkan Konstitusi, perwakilan keturunan Cina/Tinghoa
mengundurkan diri karena menolak kata Indonesia Asli dalam Konstitusi
UUD 1945. 
88
tahun sudah Sumpah Pemuda, sebuah Sumpah yang penuh kemewahan
idealisme, nasionalisme dan patriotisme. Sekarang idealisme,
nasionalisme dan patriotisme kita terusik oleh gencarnya upaya bangsa
asing untuk berkuasa di negara ini. Bahkan pemerintah terkesan tidak
mampu lagi melindungi tumpah darah Indonesia atau bahkan patut diduga
membiarkan dan memberi jalan kepada bangsa asing untuk menguasai
Indonesia. 
Konstitusi
dikudeta dan membolehkan bangsa asing jadi presiden. Nilai luhur
demokrasi musyawarah mufakat dalam hikmad kebijaksanaan diberangus
dengan demokrasi ciptaan penjajah. Maka sistem negara tidak lagi mampu
menyaring pemimpin yang lahir dari hikmad kebijaksanaan tetapi lahir
dari demokrasi uang kaum oligarkhi.
Sumpah
Pemuda kehilangan makna, Konstitusi diporak parandakan, Pancasila hanya
hiasan dinding. Indonesia menuju kehancuran dibawah pemerintahan yang
tidak memahami nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa.
Indonesia
kini memanggil para pemuda, putra putri bangsa kaum revolusioner.
Indonesia menyeru kebangkitan idealisme pemuda. Bangkit bersatu bela
negara. Selamatkan Indonesia dari penjajahan gaya baru. Selamatkan
Indonesia dari rejim tanpa ideologi. Bangkit melawan atau mati jadi
budak kekuasaan asing. 
Musuhmu sekarang ada di dalam jantung bangsamu karena mereka hanya pura-pura menjadi Indonesia.
BANGKITKAN
JIWA REVOLUSIONER KEMEWAHAN PEMUDA YAITU IDEALISME BERNEGARA,
NASIONALISME BERBANGSA DAN PATRIOTISME TERHADAP TUMPAH DARAH
INDONESIA.

Comment

Rekomendasi Berita