by

Jusuf Rizal: Pemilu 2019 Ulama Gandeng Masyarakat Dengan Tausiyah

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Muh. Jusuf Rizal, Ketua Presidium LSM mengatakan ulama adalah teladan untuk masyarakat, maka sudah keharusan memberikan contoh yang positif, tidak memberikan provokasi yang mengakibatkan keresahan dilingkungan masyarakat, apalagi ini momentum politik, sampainya berpendapatnya tentang Ulama dalam diskusi,”Peran Ulama Dalam Mensukseskan Pemilu 2019,”digelar Alumni Presidium 212, di bilangan  Jalan Buncit Raya, Jakarta Selatan. Jumat (21/09). Jakarta
Ulama diharapkan, sambungnya mumpuni serta menggandeng masyarakat memberikan tausiyah yang baik untuk amar ma’ruf nahi munkar agar mensukseskan Pemilu 2019 ini.
“Saya sangat mengapresiasi diskusi mengenai peran Ulama dalam Pemilu 2019. Semoga Ulama tidak akan menjadi provokator dan membawa info hoax kepada masyarakat”
Indonesia menjadi begini bukan karena homogenitas, namun karena heterogenitas. kini ulama alami degradasi , yang ketika dulu di Santrinya (pondokan) suara nya di dengar. Namun ketika didandani menjadi seperti ‘pemain sirkus’ , hingga kedamaian tidak tercipta.
Tempatkan pada porsinya, tidak memanas manasi atau memprovokasi salah satunya peran ulama harus menjadi penengah atau netral dalam permasalahan Politik pada Pemilu nanti dalam membentuk masyarakat yang madani, kemuka Yusuf Rizal.
Yusuf Rizal yang berlatarbelakang seorang jurnalis menambahkan apabila ulama tidak memiliki kepahaman Politik, masyarakat bisa menjadi salah arah, akhirnya menimbulkan issue-issue atau berita hoax.
Nampak turut hadir narasumber saat diskusi, yakni ibu Syaine Isyani (mantan Komisioner Komnas HAM), Yusuf Rizal (Ketum Presidium LIRA), Hendarjit (pakar Geopolitik), serta Amminudin SE, MM (Moderator).
Selanjutnya Ibu Isyane, mantan Komisioner Komnas HAM menyebutkan Indonesia pernah memiliki Presiden Abdurahman Wahid, atau Gus Dur, dari kalangan seorang ulama, namun ungkapnya ketika itu seperti ada semacam agenda internasional (global) yang membuat Indonesia harus patuh, atau akan terjatuh
Tokoh mantan komisioner Komnas HAM itupun menyebutkan Ironi memang situasinya seperti saat setahun lalu kenapa yang dimunculkan semacam ada ketidakadilan akan kasus kriminalisasi aktivis serta ulama yang dilaporkan ke Komnas HAM.
“Seakan ada perpecahan di ulama, apakah ini agenda asing ?,” celetuknya 
Jelang Pemilu, kemukanya  menjelaskan bukanlah soal kita berantem kelompok Jokowi – Prabowo.”Namun ada sesuatu yang lebih besar lagi,” ulasya. 
Semisalnya memberikan contoh seperti ada perjanjian kerja dengan pihak asing, bila tidak gunakan SDM mereka tidak mungkin karena disesuaikan isi perjanjian. Kondisinya, apakah tanah di daerah milik tanah warga ? lokasi di Morowali Utara, ada 3 kecamatan. tanahnya dikuasai luar.
“Yang jelas dengan sistem pemilu seperti ini menyebabkan forsir tenaga dan biaya besar,” pungkasnya.[Nicholas]

Comment

Rekomendasi Berita