by

Konsumerisme Dan Problem Kapitalistik Sampah

-Opini-41 views

 

 

Oleh. Dahlia, S.pd, Pemerhati Sosial Masyarakat

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan, selain mengantisipasi kepadatan dan kemacetan di hari raya, langkah antisipasi lonjakan volume sampah juga akan menjadi upaya yang diprioritaskan Jawa Barat.

Dia mengatakan, untuk menghalau terjadinya penumpukan sampah di hari lebaran dan pascalebaran, Pemerintah Jabar telah mengerahkan pasukan kebersihan dua kali lebih banyak.

“Pasukan telah kami lipat gandakan untuk mengantisipasi penumpukan sampah, dan memastikan hitungan minimal dua jam tempat-tempat yang terlihat tumpukan sampah bisa kita bersihkan, termasuk tempat pelaksanaan Shalat Id,” ujarnya saat dikutip republika.co.i usai pelaksanaan Sholat Idul Fitri, Senin (2/5/2022).

Masalah sampah adalah salah satu problema dalam sistem kapitalisme yang mendorong gaya hidup konsumtif.

Beragam cara mengatasi problem sampah hanya berputar diantisipasi dampak tanpa mengatasi akar masalah. Sehingga permasalahan sampah ini tak kunjung usai setiap tahunnya.

Konsumerisme

Menurut kamus sosiologi (haryanta, 2012) konsumerisme merupakan sifat menghambur hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu.

Seseorang yang memiliki sifat konsumerisme biasanya ditandai dengan perilaku yang boros dan lebih mementingkan keingingan sendiri dibanding dengan kebutuhan.

Di indonesia, Masih terdapat masyarakat memiliki perilaku konsumerisme. Hal ini dikarenakan banyaknya dibangun pusat perbelanjaan (mall) di setiap kota besar di Indonesia. Perilaku konsumtif dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni adanya kemajuan IPTEK, masuknya budaya asing, pengaruh globalisasi, dan pengaruh media elektronik maupun media massa.

Kurangnya manfaat sampah yang di daur ulang kembali mengakibatkan  sampah menutupi parit-parit hingga banyak yang menjadi buntu, dan selain itu di beberapa wilayah di negeri ini menjadi sering kebanjiran.

Problem Kapitalistik Sampah

Bagaimana permasalahan sampah ini bisa teratasi sedangkan tenaga kebersihan lingkungan jumlahnya minim sehingga tidak mampu mengatasi sampah-sampah setiap TPU yang menumpuk sampai ke pinggir jalan raya. Hal ini jelas sangat mengganggu indra penglihatan maupun penciuman.

Sebaiknya di setiap daerah difasilitasi mobil truk untuk menampung
sampah- sampah di setiap TPU yang sudah disediakan. Untuk semua masyarakat juga seharusnya mengusahakan agar tidak terus menerus menggunakan bahan-bahan yang sulit terurai. Seharusnya tindakan pemerintah harus membuat UUD tentang penanggulangan sampah dan membuat tempat penangkaran sampah yang terpenuhi falisitasnya.

Lalu bagaimana Islam memandang fenomena ini?

Islam mendorong produktifitas dan tidak melarang konsumsi, namun Islam mendorong manusia memiliki gaya hidup bersahaja, mengkonsumsi sesuai kebutuhan, dan melarang menumpuk barang tanpa pemanfaatan.

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S Al-A’raf ayat 56).

Sudah jelas Islam dapat menyelesaikan masalah umat apalagi tentang kebersihan yang menjadi bagian dari iman, karena Islam mengajarkan untuk menjaga kebersihan serta menjauhi hidup hedonisme serta konsumerisme yang akan merugikan diri sendiri.

Dari tataran individu yang sadar, serta masyarakat yang selalu beramar ma’ruf nahi munkar, ditambah dengan negara yang menjadi pengawas terhadap lingkungan dan menegakkan hukum atas pelanggara hal ini dapat membuat produk tersebut dapat didaur ulang secara cepat.

Namun semua itu mustahil ada di dunia ini dengan sistem kapitalisme yang tamak terhadap keuntungan tanpa memikirkan baik buruk terhadap lingkungan. Ini harus direvisi secara total dengan implementasi nilai-nilai  Islam secara menyeluruh. Wa llahu a’lam.[]

Comment