![]() |
| Krisdianti Nurayu Wulandari |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Islam adalah satu-satunya agama yang benar disisi Allah, serta hanya Islam lah yang Allah ridhoi sebagai agama. Islam diturunkan Allah SWT sudah secara lengkap syaamil wa kaamil. Dengan kitab sucinya yang bernama Al-Quran. Berisi tentang seluruh aturan hidup manusia. Pantas jika Al-Quran selama ini dianggap sebagai pedoman hidup manusia. Yang namanya pedoman hidup, pasti berkaitan erat dengan bagaimana teknis atau bagaimana cara untuk mengoperasionalkan suatu benda (ciptaan).
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah, yang diciptakan dari tanah. Karena manusia ini adalah ciptaan, maka tidak boleh tidak, harus ada aturan yang mengatur bagaimana manusia bisa menjalankan peraturan sesuai dengan keinginan penciptanya, yaitu Allah SWT. Sebagaimana bumi berputar pada porosnya, air jatuh dari tinggi ke rendah, serta HP, televisi, kipas, dsb dioperasikan sesuai dengan buku petunjuk yang mereka miliki.
Mustahil, apabila suatu ciptaan berjalan tanpa ada sebuah aturan yang mengaturnya. Secara garis besar, tidak ada ciptaan yang tidak memiliki aturan. Petunjuk atau aturan pasti disertakan pencipta untuk ciptaannya tersebut, supaya yang menggunakan tahu bagaimana mengoperasionalkan benda tersebut. Bayangkan saja, apabila seluruh ciptaan yang ada di alam semesta ini, berjalan tanpa ada aturan. Planet-planet akan bertabrakan, air akan selalu menerjang manusia karena menyembur dari bawah, alat elektronik akan rusak karena salah penggunaan dan lain sebagainya. Akibat dari ketiadaan aturan, akan menjadikan alam semesta hancur berkeping-keping.
Allah mensyariatkan segala aturan-Nya, hukum-Nya, bukan bermaksud untuk mengekang manusia. Justru Allah ingin memuliakan manusia dengan syariatnya. Semisal kewajiban berhijab bagi seorang Muslimah. Hal ini Allah syariatkan kepada seluruh Muslimah supaya Muslimah itu terjaga dari pandangan-pandangan yang haram untuk memandangnya. Sehingga, dengan ditaatinya kewajiban ini, Allah akan meninggikan serta memuliakan derajatnya, karena ia telah menataati perintah Allah. Bukankah tujuan kita hidup di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah semata?
Oleh karena itu, tidaklah pantas bagi kita untuk selalu mempertanyakan, meragukan, menolak, mengambil sebagian hukum, dan meninggalkannya. Misalkan ada hukum potong tangan bagi pencuri, hukuman dijilid dan dirajam bagi pezina atau lain sebagainya. Tanpa kita tahu secara detailnya, kita langsung menjustifikasi bahwa “Loh, kok Islam begitu ya…”, “Islam kok sadis banget sih, dikit-dikit potong tangan, dikit-dikit rajam.” dan seterusnya. Pemikiran atau pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang keliru.
Sesungguhnya hukuman-hukuman yang ada diatas, bisa menjadi penebus dan pencegah. Penebus bagi orang yang melanggar, kelak di akhirat tak akan lagi dibalas karena kesalahannya sudah ditebus di dunia, misal potong tangan. Sedangkan sebagai pencegah adalah mencegah untuk orang lain untuk tidak berbuat seperti orang yang melanggar aturan tersebut. Karena, hukuman seperti jilid, potong tangan, rajam dilakukan di publik, sehingga publik bisa melihatnya secara terang-terangan. Secara otomatis akan menimbulkan rasa ketakutan bagi orang-orang yang ingin berbuat maksiat.
Perlu kita ingat, bahwasannya Islam Rahmatan lil ‘Aalamiin tidak akan pernah terwujud apabila syariat Allah belum diterapkan secara kaffah atau totalitas. Oleh karena itu, kita tidak boleh lagi pilah-pilih hukum. Kita harus mengambil dan menerapkan syariat-Nya secara totalitas, supaya Islam Rahmatan lil ‘Aalamiin akan terwujud di muka bumi ini.
Di tengah arus kehidupan yang diselimuti hegemoni Kapitalisme-Sekulerisme ini, telah nyata dalam pandangan kita, bahwa Kapitalisme gagal membawa kehidupan yang lebih sejahtera. Selama Kapitalisme masih mengungkung dunia, maka yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Yang diuntungkan hanyalah pemilik modal. Kerusakan dan kemaksiatan pun makin merajalela tidak karuan, sehingga mengakibatkan Allah murka.
Sudah saatnya, bagi kita untuk kembali melanjutkan kehidupan Islam di muka bumi ini. Dengan menerapkan hukum Allah secara menyeluruh. Maukah kita terus-menerus terjerat dalam tipu muslihat Kapitalisme? Lihatlah bagaimana musuh-musuh Islam rela mengorbankan segalanya demi runtuhnya Islam, dan tumbangnya Islam untuk selama-lamanya, serta menghalangi tegaknya Islam di muka bumi ini! Mereka kerahkan segala apa yang mereka punya untuk menghancurkan Islam. Mereka punya semangat yang kuat demi meraih tujuan mereka. Padahal, mereka tahu bahwa kembalinya kejayaan Islam tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Sebagaimana tidak ada yang bisa menghalangi terbitnya matahari di pagi hari kecuali oleh Sang Maha Kuasa. Kembalinya kejayaan Islam ini adalah janji dari Allah serta merupakan bisyaroh dari Rasulullah SAW. Jadi, pasti akan ditepati.
Sudah seharusnya usaha dan semangat kita untuk mewujudkan janji ini harus lebih besar daripada musuh-musuh kita, yang jelas salah dalam hal yang diperjuangkannya. Harusnya kita lebih yakin akan janji yang indah ini. Inilah saatnya bagi kita untuk berkontribusi dalam penegakan Daulah Islam yang bermanhaj kenabian. Meskipun dengan atau tanpa kita, Khilafah itu akan tetap kembali. Akan tetapi, apakah kita tidak mau menjadi bagian dari jamaah yang memperjuangkannya? Bukankah ini adalah suatu hal yang mulia? Bukankah ini juga yang diperjuangkan Rasulullah serta para sahabatnya untuk menegakkan Daulah Islam yang bemanhaj kenabian? Sesungguhnya Islam itu mulia. Maka yang mengembannya pun akan menjadi mulia dihadapan Allah SWT. Wallahu A’lam.[]
Penulis adalah Mahasiswi IAIN Tulungagung Semester II










Comment