by

Lussy Deshanti Wulandari: Muhasabah atas Musibah

Lussy Deshanti Wulandari, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Gempa berkekuatan 6.4 SR mengguncang Lombok (Nusa Tenggara Barat). Getaran kuat itu terjadi pada hari Minggu, 29 juli 2018. Tak lama, gempa susulan kembali datang. BMKG memperkirakan terjadi 280 gempa susulan selama kurun waktu sekitar 26 jam. 

Dikabarkan, 19 jiwa meninggal tertimpa runtuhan. Lebih dari 160 orang terluka. Dan juga lebih dari 1000 bangunan porak poranda. Kerusakan yang diakibatkan dari rangkaian gempa ini sungguh mengkhawatirkan. 
Doa untuk Lombok. Daerah yang dikenal dengan keindahan alamnya, kini berduka. Tak hanya warga setempat, bahkan ada wisatawan yang menjadi korban bencana ini. 
Makna bencana
Menurut KBBI, bencana diartikan sebagai segala sesuatu yang menyebabkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan. Dengan kata lain bencana disebut juga sebagai kecelakaan atau bahaya. Menurut Undang-undang nomor 24 tahun 2007, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan/atau faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.
Jika melihat definisi, jelaslah bahwa yang dinamakan bencana memang tidak diinginkan manusia. Terlepas, apakah faktor manusia ataukah alam yang menjadi penyebab terjadinya. 
Seperti halnya gempa yang terjadi di Lombok. Tidak ada yang menyangka akan kejadiannya. Semua terjadi begitu saja. Begitulah qadha Sang Illahi. Jika Dia berkehendak, maka terjadilah.
Bencana, antara ujian dan peringatan
Sunatullah, Allah SWT menimpakan suatu bencana kepada manusia. Adakalanya menjadi ujian bagi hamba Nya yang beriman. Sebagai tanda cinta Allah padanya. Untuk meningkatkan derajatnya. Bencana menjadi penguat keimanan seorang hamba. Sehingga kelak pantas menerima balasan surga baginya. Sebagaimana dalam Alquran: ” Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3).
Namun, adakalanya bencana itu sebagai peringatan. Tatkala manusia jauh dari Allah. Melupakan aturan Allah dalam hidupnya. Jatuh dalam kemaksiatan. Maka, bencana itu kode agar manusia mendekat pada Nya. 
Bencana sebagai sarana introspeksi diri. Pengingat bagi diri agar kembali pada syariat Allah. Mengagungkan Allah. Menghamba kepada Nya. Menjalankan semua perintah Nya dan menjauhi segala larangan Nya.
Sebagaimana penuturan Khalifah Umar bin Khattab RA. Beliau mengingatkan bahwa gempa yang terjadi di Madinah saat itu merupakan peringatan dari Allah. Peringatan atas maksiat yang terjadi di wilayahnya. Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Sampai-sampai, ia mengancam akan meninggalkan umatnya jika terjadi gempa kembali.
Bencana yang terjadi di negeri ini, sepatutnya menjadi sarana kontemplasi atau muhasabah bersama. Baik bagi pemimpin negeri maupun penduduknya. Maraknya zina dan penyimpangan seksual. Penguasaan SDA oleh asing dan aseng. Kebijakan yang mendholimi rakyat. Aturan sekuler yang jauh dari syariat. Inilah musibah terbesar yang terjadi. Yaitu ketika aturan Allah dikebiri. Maka wajarlah negeri ini dirundung musibah yang silih berganti.
Saatnya memberikan hak mengatur hanya kepada Allah. Yaitu dengan menjalankan syariat Nya. Tak hanya dalam masalah ibadah. Namun, seluruh aspek kehidupan diatur oleh aturan Nya. Niscaya, Allah memberkahi negeri ini. Wallahu’alam.

Penulis adalah anggota Komunitas Revowriter, Bogor

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × two =

Rekomendasi Berita