by

Menghilangkan Kecanduan Gadget Lewat Seni Budaya

Ibrahim Al-Kholil, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kecanduan gadget adalah penyakit masyarakat milenial yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Teknologi yang seharusnya manjadi alat bantu dalam kehidupan sehari-hari seakan hanya kiasan di dalam buku-buku fiksi, sebab realita yang ada justru menunjukkan kalau masyarakat kita saat ini hidup dalam kungkungan teknologi yang dibalut dengan beragam ilusi.
Media sosial adalah bukti nyata dunia ilusi yang membuat manusia seperti memiliki dunianya sendiri. Saat ini media sosial mampu mempengaruhi kehidupan di dunia nyata. Berbagai pergerakan yang dirintis oleh masyarakat maya mampu memberikan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari kita.
Tapi semakin hari para generasi milenial ini makin bergantung pada mesin yang mereka ciptakan sendiri. Ilusi dunia maya seakan telah meracuni isi kepala para penikmatnya, membuat para penikmatnya seperti robot yang tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Mereka baru akan menyadari keadaan sekitarnya jika sudah ada postingan-postingan yang mulai viral didunia maya. Dan inilah ancaman yang sebenarnya, mereka merasa tak kehilangan apapun padahal mereka telah dijajah secara tidak langsung. Kehilangan sesuatu yang dianggap tidak penting karena tidak akan mengurangi sisa kouta mereka.
Keragaman kebudayaan adalah harta warisan yang tidak mampu dirampas oleh para penjajah yang datang ke nusantara pada saat masa kolonial. Kebudayaan adalah sebuah identitas yang telah diwarisi oleh para leluhur untuk kita anak cucu cicit mereka, namun teknologi seakan membutakan kita dari betapa berharganya warisan budaya dari para leluhur kita. Kita seakan lebih bangga memainkan gitar daripada angklung karena takut ditikam oleh ribuan hujatan yang mengatakan bahwa kamu manusia yang ketinggalan zaman.
Seni lenong dan gambang kromong adalah kesenian budaya betawi. Budaya betawi adalah budaya asli ibukota yang makin tergerus oleh kejamnya era yang serba canggih ini. Begitu juga dengan lenong yang ikut tergerus oleh perkembangan zaman. Banyak faktor yang membuat kesenian khas budaya betawi ini mati suri di kotanya sendiri.
Derasnya urbanisasi dan semakin berkembangnya teknologi memaksa budaya betawi seperti mati suri dikotanya sendiri. Masyarakat asli betawi yang mulai terusir dari kotanya sendiri juga merupakan faktor yang lain yang membuat budaya dan kesenian khas betawi terasingkan dari ibukota. Sehingga para generasi penerusnya lebih asik dengan gadget mereka daripada melesetarikan budaya betawi yang merupakan budayanya sendiri. 
Kampung rindu budaya adalah sebuah karya yang mendeskripsikan kekhawatiran para pemuda pondok pinang melihat kondisi sekitar mereka. Para pemuda ini coba menyadarkan masyarakat sekitar dari ilusi dunia maya lewat kesenian khas betawi yang hampir punah di kotanya sendiri. Bang hilal ketua pelaksana kampung rindu budaya mengatakan bahwa awalnya bermula dari obrolan di tongkrongan yang mulai resah melihat kondisi generasi menunduk, kemudian masuk agenda karang taruna. Dalam acara kampung rindu budaya beragam kesenian khas betawi ditampilkan disini, seperti lomba abang none, seni teater lenong, dan musik khas betawi gambang kromong.
Dalam pertunjukan lenong panitia mengundang legenda lenong betawi, yaitu Bolot,Malih tongtong,mpok Tonah. Dalam pertunjakan lenong itu mereka menyanyikan lagu khas betawi seperti jali-jali dan kicir-kicir. Tujuan panitia menjadikan acara kampung rindu budaya sebagai solusi dari kondisi generasi yang terlalu banyak menunduk karena asik dengan gadget mereka sendiri terlihat sukses, karena antusias warga sekitar yang sangat bersemangat menyaksikan acara seni teater lenong. Antusias warga terlihat dari ramainya penonton yang datang. Bolot, Malih tongtong, dan mpok Tonah menjadi daya tarik tersendiri dalam acara ini.
Hal ini patut dicontoh oleh para pemuda-pemuda di belahan nusantara manapun yang mulai resah dengan keadaan sekitarnya, karena tergerusnya kesenian budaya lokal oleh budaya-budaya lain yang masuk ke negeri ini. Solusi yang sangat tepat dan mampu menjadi inspirasi bagi para pemuda lainnya. Selain itu kegiatan seperti ini juga mampu melestarikan budaya yang kita miliki. Karena melastarikan budaya ukan hanya tugas seniman atau instansi-instansi terkait. Tapi menjaga salah satu kekayaan negeri ini adalah tugas kita semua.[]
Ibrahim Al kholil
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. DR.Hamka
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − seven =

Rekomendasi Berita