by

Dede Yulianti: Panggung Para Pesohor Di Dunia Politik

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tercatat sekira 54 artis akan berpartisipasi sebagai bakal calon legislatif pada Pemilu Legislatif 2019. Partai Nasdem menyumbang 27 orang artis, diikuti PDI Perjuangan sekira 13 orang, PKB sebanyak 7 orang, dan sisanya dari partai-partai lain. (Antara news 22/07/2018).  
Fenomena ‘hijrahnya’ kaum selebriti ke panggung perpolitikan sah-sah saja di alam demokrasi. Bagaimana tidak, yang utama dalam pesta demokrasi adalah memenangkan kompetisi demi menduduki kursi terhormat wakil rakyat. Popularitas mau tak mau menjadi faktor utama bagi partai politik menyodorkan calonnya.
Minimnya kader dari internal partai yang mumpuni dan namanya laku dijual ke masyarakat untuk pemilihan legislatif tahun depan, partai politik mencari jalan instan dengan menggandeng artis untuk mendulang suara. (Katadata.co.id 20/07/2018).  
Lantas bagaimana kaum selebriti memaknai dunia politik? Padahal politik bukan sekadar praktik mencari jalan menuju kekuasaan. Namun itulah realita politik dalam demokrasi. Hasrat meraih kekuasaan bermodalkan popularitas. Kepentingan rakyat hanyalah pemanis demi duduknya di bangku kekuasaan. Tak jadi soal karakter, visi misi dan pemahaman terhadap politik itu sendiri. Yang penting mendulang suara sebanyak-banyaknya.
Berbeda dengan Islam, makna politik dalam Islam adalah pengaturan dan pemeliharaan semua urusan umat. Maka seorang pemimpin haruslah memiliki pemahaman yang benar tentang politik. Serta kesadaran bahwa setiap langkah dan kebijakannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Seorang yang terjun ke dunia politik secara alamiah lahir atas dasar kecintaannya terhadap umat. Sehingga siap memberikan kontribusi terbaiknya. Mencurahkan segenap kemampuan dengan landasan dan sistem yang benar. 
Politik dalam Islampun memiliki kedudukan yang agung. Sebab dengan politiklah berbagai hukum-hukum syariat yang mengatur seluruh urusan umat bisa diterapkan. Kekuasaan hanyalah sarana untuk menjalankan perintah dan larangan Allah SWT. Pemahaman terhadap Islam syarat utama lahirnya pemimpin yang amanah. Memahami tanggungjawab dan caranya mengelola urusan umat. Serta siap menjalankan kepemimpinannya berdasarkan hukum-hukum Islam. Oleh karena itu politik bukanlah ajang coba-coba mencari peruntungan. Apalagi hanya sekedar meraih eksistensi diri.
Patutlah kita renungkan sabda Rasulullah Saw, “akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “orang bodoh yang bicara urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah).[]

Penulis adalah: Komunitas Ibu Peduli Umat

Comment

Rekomendasi Berita