by

Mulyaningsih, S.Pt:Gempa dan Kaum Muslim

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Gempa dengan magnitude 7 dan berpotensi tsunami mengguncang daerah Lombok Timur, Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya pada Minggu (5/8) malam. Masyarakat sekitar Lombok dan Bali tumpah ruah berhamburan ke luar rumah, karena memang dampak gempa sangat terasa. 
Pada pukul 18:46 WIB gempa terjadi dengan mangitudo 7, BMKG mendeteksi potensi tsunami di sejumlah titik pesisir Lombok Timur, NTB. Titik tsunami di Carik terdeteksi pada pukul 18:38 WIB, sedangkan di Badas pada pukul 18:54 WIB dengan gelombang tinggi bervariasi. Titik pusat gempa di 8.37 LS, 116.48 BT sekitar 27 km arah timur laut. Kedalaman gempa sekitar 15 kilometer. Getaran gempa terasa oleh warga Mataram (Nusa Tenggara Barat).
Tak hanya itu, gempa susulan kembali dirasakan pada pukul 19:49 WIB. Gempa susulan bermangitudo 5,6 dengan pusat gempa di darat -8.28 LS, 116.17 BT sekitar 15 kilometer Lombok Utara dengan kedalaman 10 kilometer. Kemudian pukul 20:07 WIB terjadi gempa susulan 5.0 skala Richter pada kedalaman 15 kilometer Barat laut Lombok utara 37 kilometer Timur laut -8.09 LS, 116.17 BT.
Fakta tersebut harusnya menjadi pelajaran yang amat berharga bagi manusia. Mungkin lewat gempa itu Allah isyaratkan tanda cintanya pada kita. Tanda bahwa manusia harus kembali pada jalanNya, kembali berhukum sesuai dengan al-Qur’an dan hadist Nabi SAW. Pelajaran yang amat sangat berharga. Sebagai mana kejadian di Madinah. 
Pada suatu waktu kota Madinah dilanda gempa bumi. Kemudian Rasulullah SAW meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, “Tenanglah…belum datang saatnya bagimu.” Lalu beliau menoleh ke arah para sahabat kemudian berkta, “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian…maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian).
Ketika Umar bin Khattab RA menjadi seorang khalifah, kota Madinah ernah dilanda gempa bumi. Kala itu Umar berkata kepada rakyatnya, “Wahai manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiyat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”
Ceritanya yang sama juga terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau tidak tinggal diam saat terjadi gempa. Beliau dengan cepatnya mengirimkan surat kepada seluruh wali (gubernur) negeri. Isi dari surat tersebut adalah, Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran dari Allah kepada hamba-hambanya dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaknya bersedekah dengannya.”
Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kahfy mengungkapkan bahwa, “Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsayat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Dikalangan salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian.”
Kemudian dalam firman Allah, ‘Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang.” (TQS al-A’laa: 14-15).
Subhanallah, betapa luar biasanya kedua Umar tersebut. Beliau mampu menafsirkan gempa sebagai salah satu teguran sayang Allah pada manusia. Tak sebatas pada fenomena alam belaka. Terbayang di mata kita apabila Allah sudah tidak peduli lagi, maka yang terjadi adalah kerusakan di semua lini kehidupan. 
Jika kedua Umar ada bersama kita saat ini, maka mereka akan marah dan menegur dengan keras. Karena memang negeri kita sering kali dilanda gempa. Selayaknya sebagai seorang muslim maka patutlah kita sadar diri, intropeksi diri kita apakah selama ini sudah menjalankan sesuai dengan perintah Allah ataukah malah menjalankan yang Allah larang? Maka dari itu segeralah bertaubat agar semakin berkah hidup ini. 
“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbutaan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (TQS. Asy-Syuura: 30).
Kemudian firman Allah yang lain: “Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri.” (TQS. An-Nisaa: 79). Selayaknya sebagai manusia yang mempunyai kelemahan, keterbatasan serta serba kurang dalam hal apapun maka segeralah bertaubat, kembali pada jalan yang Allah ridhoi. Jalan tersebut adalah Islam. Karena Islam tak hanya mengatur masalah ibadah ritual saja, namun mengatur semuanya. Sehingga haruslah kita menerapkan Islam dalam kehidupan kita secara kaffah (menyeluruh). Agar kesejahteraan itu akan di rasakan oleh manusia dan makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Tentulah keberkahan akan turun dari langit dan akan muncul dari bumi.
Sebelum Allah menegur kita lebih keras, maka saatnya menjawab teguran tersebut. Labbaika YA Allah, kami akan kembali kepadaMu. Dan bersama-sama saling mengingatkan dalam hal kebaikan agar jalan yang Allah tentukan dapat kita lewati bersama, tanpa ada yang tersesat lagi. Wallahu A’lam.
Penulis adalah anggota Akademi Menulis Kreatif Kalsel

Comment

Rekomendasi Berita