by

Octha Dhika Rizky: Sebut Masjid Sebar Radikalisme, Islamophobia-kah?

Octha Dhika Rizky,
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Jika kemarin kita dihebohkan dengan isu “kampus terpapar radikalisme”, maka hari ini kita kembali dibuat miris dengan isu “masjid sebar radikalisme”. Sebagaimana yang dilansir dari Liputan6.com (8/7/2018), sebanyak 41 masjid di kantor pemerintahan terindikasi sebagai tempat penyebaran paham radikal.

Data ini berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Rumah Kebangsaan dan Dewan Pengawas Perhimpunan  Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) sepanjang 29 September sampai 21 Oktober 2017. Survei dilakukan terhadap materi khutbah Jum’at yang direkam oleh relawan yang diutus ke masjid.

“Indikator konten radikal ini dilihat dari tema khutbah Jum’at yang disampaikan seperti ujaran kebencian, sikap negatif terhadap agama lain, sikap positif terhadap khilafah, dan sikap negatif terhadap pemimpin perempuan dan nonmuslim”. (Liputan6.com, 8/7/2018)

Identik dengan Islamophobia
Survei yang dilakukan oleh pihak P3M mengindikasikan adanya terselip virus islamophobia di tengah-tengah kaum Muslimin. Hal ini jelas terlihat dari kesengajaan untuk memata-matai khutbah Jum’at melalui kinerja para relawan. Masjid yang sejatinya adalah rumah ibadah dan tempat yang suci, kini justru dianggap sebagai tempat yang rawan dan perlu diawasi.

Konten yang menjadi standar dari paham radikal pun tampak tak valid. Pertama, ujaran kebencian. Istilah ini masih ambigu. Bahkan terkadang koreksi terhadap kesalahan penguasa tetap dianggap sebagai ujaran kebencian. Padahal koreksi sangat perlu bagi perbaikan kebijakan penguasa.

Kedua, sikap negatif terhadap agama lain. Ini juga masih tak jelas. Sebagai Muslim tentu kita meyakini bahwa tiada agama yang sempurna dan diridhai Allah, selain Islam. Namun, Islam juga mengajarkan kita untuk saling menghormati walaupun berbeda agama.

Ketiga, sikap positif terhadap khilafah. Nah, kenapa ini justru dipermasalahkan? Bukankah khilafah adalah ajaran Islam? Sudah seharusnya seorang Muslim bersikap positif terhadap ajaran agamanya, termasuk khilafah. Justru pihak anti-khilafah yang perlu dipertanyakan.

Keempat, sikap negatif terhadap pemimpin perempuan dan nonmuslim. Sikap negatif ini memang sangat harus dimiliki oleh Muslim, karena Islam mengharamkan mengangkat penguasa perempuan apalagi pemimpin kafir.

Berdasarkan uraian empat indikator di atas, terlihat ketidaktepatan standar dan hasil survei. Indikator tersebut seperti dipaksakan bahkan menunjukkan adanya ketakutan dan kebencian terhadap Islam (islamophobia). Upaya ini sengaja dilakukan pihak pembenci untuk membendung kesadaran umat terhadap Islam.

Islam Pemberi Solusi, Bukan Radikal
Islam adalah agama dan sistem kehidupan yang berasal dari Pencipta alam semesta, Allah SWT. Tentulah Islam telah pasti bisa memberikan solusi bagi umat manusia. Seharusnya Islam menjadi acuan umat dalam menyelesaikan setiap permasalahan hidupnya, bukan malah mencari solusi lain di luar Islam. Apalagi mengaitkan Islam dengan label “radikal” yang dikonotasikan negatif.

Sebaliknya, islamophobia yang tak seharusnya disebarkan, karena paham ini sangat berbahaya. Paham yang menebarkan rasa ketakutan dan kebencian terhadap Islam di tengah-tengah umat. Paham ini mencoba menghancurkan kesadaran umat terhadap Islam. Paham ini pula yang berupaya menggagalkan kebangkitan Islam.

Sayang, kebangkitan Islam takkan mampu dibendung oleh sesiapapun. Sebab Allah telah menakdirkan dengan izin-Nya bahwa kemenangan Islam adalah niscaya. Wallahua’lam bi ashshawab.

Penulis adalah anggota Aliansi Penulis Perempuan untuk Generasi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × five =

Rekomendasi Berita