Ramai Bendera One Piece, Pertanda Apa?

Opini1845 Views

 

Penulis: Nisrina Nitisastro, S.H |Konsultan Hukum

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Beberapa hari terakhir, jagat nyata dan maya di Indonesia diramaikan oleh simbol tak lazim: bendera bajak laut bertengkorak dengan topi jerami—ikon dari anime One Piece. Ia berkibar di balkon kos-kosan, di tiang bambu depan warung, di bagasi truk, bahkan bersanding dengan Sang Merah Putih.

Sekilas, ini mungkin hanya tren anak-anak wibu yang sedang gandrung budaya pop Jepang. Namun, bila ditelisik lebih jeli, simbol ini sedang berkata sesuatu. Bukan tentang Jepang, bukan tentang bajak laut, melainkan tentang rasa muak yang makin mengendap di hati publik.

Dalam semesta One Piece, Luffy dan kawan-kawannya bukan bajak laut dalam arti klasik. Mereka bukan penjarah, melainkan pemberontak terhadap sistem global yang korup dan menindas. Mereka melawan “World Government”—lembaga yang mengklaim menjaga ketertiban, namun sesungguhnya menyembunyikan kejahatan dan menindas kaum lemah.

Maka ketika anak muda di Indonesia mengibarkan bendera tengkorak itu, mungkin yang ingin mereka sampaikan bukan sekadar kecintaan pada tokoh fiksi, melainkan kegelisahan kolektif yang selama ini terpendam.

Fenomena ini dapat dibaca sebagai bentuk counter culture, budaya tandingan yang tumbuh dari kekecewaan pada sistem dominan. Sejarah mencatat, generasi muda selalu punya caranya sendiri untuk menyuarakan ketidakpuasan.

Dulu, musik rock menjadi lambang perlawanan atas perang dan represi. Kini, bentuknya berubah: meme, anime, unggahan TikTok. Namun esensinya sama—ada suara yang mendesak keluar dari ruang yang terasa kian sempit.

Sosiolog Stuart Hall menyebutnya resistance through signification—perlawanan lewat pemaknaan simbol. Sebuah simbol bisa berubah makna tergantung siapa yang memakainya dan dalam konteks apa. Dari yang semula sekadar elemen layar kaca, bendera bajak laut itu kini diisi ulang menjadi pesan sosial: bahwa dunia ini sedang tidak baik-baik saja, dan kami tak bisa terus diam.

Perlu dicatat, simbol tidak selalu dimaknai secara harfiah. Banyak dari mereka yang mengibarkannya mungkin tak berpikir soal politik. Justru di situlah kekuatan simbol: ia menyatukan keresahan tanpa perlu orasi, komando, atau manifesto. Dalam kajian sosiologi, ini disebut aktivisme tak terorganisir—gerakan cair dan spontan, namun berdaya sebar luas dan menggema kuat.

Sayangnya, sebagian elite merespons gejala semacam ini sebatas bentuk. Simbol dianggap ancaman. Narasi lama kembali muncul: “ada agenda asing”, “mengganggu stabilitas”. Suara berbeda selalu dicurigai. Seolah publik hanya boleh bicara dalam satu nada, satu wajah, satu rasa. Padahal, di balik simbol yang tampak sepele, tersimpan keresahan nyata: hidup makin mahal, kerja makin sulit, masa depan makin tak pasti.

Hal yang dibutuhkan hari ini bukan pelarangan simbol atau pencitraan semu, tapi keberanian untuk mendengar. Generasi muda tidak sedang membakar tiang negara. Mereka hanya ingin dilihat, dipahami, dan diperlakukan adil. Mereka ingin merasa memiliki tempat. Dan ketika tak ada lagi ruang bicara, simbol-simbol pop itulah yang berbicara.

Merespons simbol tandingan bukan dengan curiga atau membungkam. Menghentikan suara sumbang itu sederhana: hadirkan keadilan dan sejahterakan rakyat. Jika hidup terasa layak, keresahan pun perlahan reda. Tapi ketika kenyataan kian timpang, dan publik merasa terasing di negeri sendiri, jangan heran jika tengkorak bertopi jerami terasa lebih merepresentasikan mereka.

Bendera bajak laut itu bukan pesaing Merah Putih. Ia bukan simbol pengganti. Ia adalah cermin—cermin yang memantulkan kenyataan bahwa sebagian anak bangsa merasa lebih terwakili oleh dunia fiksi ketimbang wajah negara hari ini. Yang perlu dibenahi bukan cerminnya, tapi bayangan yang muncul di dalamnya.

Pemimpin sejati bukan yang membungkam suara sumbang, melainkan yang bersedia mendengar dan belajar darinya. Sebab di balik kritik—bahkan yang hadir lewat bendera anime—tersimpan harapan yang belum padam: harapan bahwa negeri ini masih mungkin diperbaiki.

Maka sebelum rakyat memilih diam dan tak lagi peduli, dengarkanlah. Sebab ketika suara berubah jadi senyap, itu bukan pertanda damai—melainkan luka yang terlalu dalam untuk diucapkan.[]

Comment