by

Rindyanti Septiana S.Hi: Manajemen Bencana Alam

Penulis, Pembina Forum Muslimah Cinta Islam Medan
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Gempa berkekuatan 7 SR yang mengguncang Lombok Utara, NTB adalah gempa dangkal. BMKG mengungkap pemicu gempa tersebut ialah akibat aktivitas patahan naik atau sesar naik Flores, kata Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam jumpa pers di Kantor BMKG, Jl Angkasa I, Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu, seperti yang dikutip dalam news.detic.com, (5/8/2018).
Keith Smith dan David N. Petley dalam buku “Environmental Hazards: Assessing risk and reducing disaster”. Mendefenisikan bencana alam merupakan fenomena sosial akibat peristiwa alam. Tidak semua peristiwa alam seperti gempa bumi atau tanah longsor dapat disebut bencana alam. Namun ketika bersentuhan dengan manusia dan menimbulkan kerugian harta dan jiwa maka itulah yang disebut bencana alam. 
Bencana lama yang menimpa manusia merupakan qadha’ dari Allah Swt. Namun , dibalik qadha’ tersebut ada fenomena alam yang bisa dicerna. Termasuk ikhtiar untuk menghindarinya sebelum bencana alam terjadi. 
Dalam suatu kejadian bencana alam ada domain yang berada dalam kuasa manusia dan yang berada di luar kuasa manusia. Segala upaya yang dapat meminimalisir bahkan dapat menghindarkan dari bahaya dan resiko bencana alam tidak dapat dicegah ataupun dihilangkan. Namun segala usaha menghindarkan interaksi antara peristiwa alam yang menimbulkan bencana alam dengan manusia, inilah yang termasuk ke dalam upaya manajemen bencana alam.
Secara teknis, upaya manajemen bencana alam dalam Islam tidaklah banyak berbeda dengan banyak metode yang telah diterapkan saat ini di seluruh dunia. Namun perbedaan dalam memandang sumber pencipta bencana alam, yaitu dengan adanya ketetapan Allah azza wa jalla, mengakibatkan ada sedikit perbedaan dalam langkah awal ketika terjadi suatu kejadian bencana alam, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan khalifah setelahnya, Umar bin Khattab ra. 
Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi, Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, “Tenanglah…belum datang saatnya bagimu.” Lalu, Nabi Saw menoleh kearah para sahabat dan berkata, “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian… maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)!”
Sepertinya, Umar bin Khattab ra mengingat kejadian itu. Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahnnya, ia berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku takkan bersama kalian lagi!”
Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hambanya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya.”
Sebagai langkah awal yang dilakukan ketika terjadi bencana alam ialah bertaubat sambil mengingat kemaksiatan apa yang dilakukan sehingga Allah menurunkan bencana alam tersebut pada suatu kaum. 
Hal ini juga menjadi penjaga kesadaran dan kondisi ruhiyah masyarakat, khususnya yang berada pada daerah rawan bencana alam untuk senantiasa menjaga ketaatan pada syariah dalam lingkup individu dan masyarakat, karena bencana alam dapat datang sewaktu-waktu dan memusnahkan setiap orang yang berada di daerah tersebut baik yang taat pada syariah maupun ahli maksiat. 
Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “ Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.” (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).
Tujuan Manajemen Bencana Alam dan Peran Islam 
Menurut The Global Development Research Center tujuan manajemen bencana ialah mengurangi atau menghindarkan dampak kerugian dari bahaya bencana alam. Memastikan sampainya bantuan dengan cepat pada korban. Dan mencapai pemulihan masyarakat yang cepat dan efektif. 
Ketika bencana alam terjadi , pihak yang terlibat dalam penanggulangan bencana alam memberikan respon cepat dan pemulihan jangka panjang. Dengan beberapa tahapan mulai dari kesiapan menghadapi bencana hingga penanggulangan , yaitu : pertama, meminimalisir dampak dari bencana alam. Contoh ; standar bangunan dan zonasi rawan bencana alam, analisis kerentanan , edukasi publik. 
Kedua, perencanaan menanggapi datangnya bencana alam. Contoh :rencana kesiapsiagaan, pelatihan kondisi darurat, prediksi dan sistem peringatan dini. Ketiga, upaya untuk meminimalkan bahaya yang diciptakan oleh bencana alam. Contoh : pencarian dan penyelamatan, bantuan darurat. Keempat, pemulihan dengan normalisasi kehidupan masyarakat. Contoh: perumahan sementara, hibah, dan perawatan medis. 
Kepala Negara dalam Islam (Khalifah) akan bertindak tegas dalam aspek pembangunan infrastruktur maupun bangunan privat serta pengaturan tata guna lahan dalam pemanfaatan lahan yang dapat dijadikan tempat bermukim atau tidak dibolehkan sama sekali. 
Penyediaan alokasi dana juga akan ditetapkan berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh ahli mengenai potensi bahaya yang ada pada daerah tertentu dan potensi kerugian yang mungkin diderita ketika terjadi bencana alam.
Dalam kondisi tanggap darurat ketika bencana alam terjadi kepala Negara dalam Islam juga mengambil porsi yang besar. Karena kewajiban tersebut ada padanya, juga mencegah kemungkinan-kemungkinan buruk yang masuk bersama dengan bantuan-bantuan dari pihak asing. 
Segala macam bantuan harus diserahkan kepada Kepala Negara sekaligus bertanggung jawab dalam menyalurkannya pada orang-orang yang membutuhkan bantuan beserta jenisnya dengan tepat. Jika di baitul mal tidak lagi tersedia dana untuk masa tanggap darurat, dapat menggunakan alokasi dana penanggulangan bencana dari bagian lain dari wilayah Negara Islam (Khilafah). 
Sebagaimana ketika Khilafah di bawah kepemimpinan Umar ra mengalami paceklik, yang diriwayatkan oelh Ibn Syabbah dalam Akhbarul-Madinah dari jalan Al-Haitsam bin Adi, juga dari jalan Al-Walid bin Muslim ra, dia berkata: 
“Aku telah diberitahukan oleh Abdurrahman bin Zaid Aslam ra dari ayahnya dari kakeknya bahwa Umar ra memerintahkan ‘Amr bin ‘Ash ra untuk mengirim makanan dari Mesir ke Madinah melalui laut Ailah pada tahun paceklik.”
Dalam Islam, Negara sudah selayaknya mengambil peran sentral dalam upaya menghindarkan masyarakat dari dampak bencana alam atau meminimalisirnya. Sejak sebelum terjadinya bencana alam, ketika masa tanggap darurat, hingga masa pemulihan dan kehidupan kembali normal.
Sebagaimana yang dicontohkan juga oleh Khalifah Umar bin Khattab ra pada daerah Hijaz yang benar-benar kering kerontang akibat musibah paceklik pada akir tahun ke 18 H, tepatnya pada bulan Dzulhijjah, dan berlangsung selama 9 bulan.
Manajemen penanganan bencana alam dalam Islam, disusun dan dijalankan dengan berpegang teguh pada prinsip “wajibnya seorang Khalifah (Kepala Negara) melakukan ri’ayah (pelayanan) terhadap urusan-urusan rakyatnya.”
Karena Kepala Negara ialah seorang pelayan rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas pelayanan yang ia lakukan. Jika ia lalai dan abai dalam melayani urusan rakyat, niscaya kekuasaan yang ada di tangannya akan menjadi sebab penyesalan dirinya di hari akhir kelak.[] 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × four =

Rekomendasi Berita