by

Rindyanti Septiana S.Hi: Politik Bukan Panggung Hiburan

Rindyanti Septiana S.Hi, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pendaftaraan bakal calon anggota legislatif untuk Pemilu 2019 banyak diramaikan dari kalangan artis. Mereka diusung oleh sejumlah partai politik. Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Wahyu Setiawan meyakini partai politik sudah mempertimbangkan matang-matang kemampuan dan rekam jejak artis tersebut. Kamis (19/7/2018, nasional.kompas.com) 
Menurut Databoks, Katadata Indonesia minimnya kader partai dari internal partai yang mumpuni dan namanya laku dijual ke masyarakat untuk pemilihan legislatif tahun depan, partai politik mencari jalan instan dengan menggandeng artis untuk mendulang suara. 
Fenomena Artis Masuk Politik Praktis 
Artis menjadi calon legislatif, hal ini bukan sesuatu yang baru dan kerap muncul menjelang pesta demokrasi lima tahunan. Bahkan menurut Pangi Syarwi Chaniago, pengamat politik, partai politik saat ini bergerak menjadi match all party atau mengambil figur dari seluruh kalangan. 
Hampir semua parpol mengalami masalah dalam internal partainya. Adapun masalah ini terkait dengan kaderisasi yang macet. Atas hal itu, maka partai mengambil jalan pintas dengan merekrut kaum populis. Memanfaatkan popularitas artis sebagai vote getter, dalam rangka mendulang elektoral sehingga parpol bisa selamat dari parlementary threshold dan jumlah kursi bisa mencapai target. 
Seharusnya partai bergerak pada catch all party atau merekrut caleg bertumpu pada paltform, program, ideologi, jam terbang, intergritas, kapabilitas,loyalitas, kridibilitas, bukan hanya merekrut sebatas popularitas dan logistik. 
Bahkan yang lebih parah lagi fenomena artis yang berbondong-bondong masuk politik praktis sebagai bentuk pengkerdilan makna politik. Sejatinya politik ialah pengaturan urusan umat, bergeser menjadi ajang lomba asal menang, ajang eksistensi diri dan hiburan semata. Padahal politik membutuhkan orang-orang dengan pemahaman yang benar, sadar akan pertanggungjawaban di akhirat dan siap untuk memberi yang terbaik untuk masyarakat dengan asas dan sistem yang benar . 
Kondisi tersebut sebenarnya hal yang niscaya terjadi di dalam sistem politik Demokrasi. Karena berasaskan sekular materalistik. Asas tersebut memisahkan agama dari kehidupan serta menjadikan materi (baca: keuntungan, uang) sebagai tujuan dari kehidupan. 
Disamping mendongkrak kepopularitasan partai juga dapat memberikan keuntungan yang besar bagi sang artis. Mengingat sudah ada beberapa artis yang sukses melenggang ke gedung DPR RI. Begitulah simbiosis mutualisme yang dibangun antara artis dan parpol. 
Dan menjadi pertanyaan, benarkah kepentingan untuk menyejahterakan rakyat menjadi tujuan mereka (baca:artis) ? Tentu diawal mereka mendaftarkan diri menjadi calon legislatif menyatakan akan menjadi perwakilan rakyat untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Namun realitanya setelah terpilih akan kembali fokus dengan kepentingan pribadi dan kepentingan parpolnya. Hal ini terus berulang. 
Politik dalam Islam 
Politik (siyasah) adalah pengaturan urusan umat di dalam dan di luar negeri. Politik dilaksanakan oleh Negara dan umat, karena negaralah yang secara langsung melakukan pengaturan ini secara praktis, sedangkan umat mengawasi Negara dalam pengaturan tersebut. Defenisi ini juga diambil dari hadits-hadits yang menunjukkan aktivitas penguasa, kewajiban mengoreksinya, serta pentingnya mengurus kepentingan kaum muslimi. Rasulullah saw bersabda. 
“Seseorang yang ditetapkan Allah (dalam kedudukan) mengurus kepentingan umat, dan dia tidak memberikan nasihat kepada mereka (umat), dia tidak akan mencium bau surga” (HR. Bukhari dari Ma’qil bin Yasar ra)
Dari Abu Hurairah dari Nabi saw,bersabda : 
“Dahulu, Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya (tasusuhum) oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan nabi sesudahkau. (Tetapi) nanti akan banyak khalifah.” (HR. Imam Muslim dari abi Hazim)
Maka politik adalah sesuatu yang agung karena merupakan bagian hukum syara yang menjadi induk pelaksanaan hukum-hukum syara lainnya. Orang yang terjun dalam politik praktis atau ranah kekuasaan dipastikan adalah orang yang paham Islam, paham bagaimana tanggungjawab dan cara meriayah umat serta siap menjalankan kepemimpinannya bersandarkan pada hukum-hukum syara. Jadi politik bukan ajang coba-coba apalagi sekadar untuk eksistensi diri. []
Penulis adalah  Pembina Forum Muslimah Cinta Islam

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × four =

Rekomendasi Berita