Soal Target Ekonomi 5,4%, Arief Poyuono Nilai Joko Widodo Tidak Percaya Diri

Berita2559 Views
Arief  Poyuono.[dok/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Seputar pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan Jokowi,  Arief Poyuono, Wakil Ketua Umum Gerindra mengemukakan pandangannya,”Loh Kok Joko Widodo kurang percaya diri sih hanya menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4% tahun 2018 ada apa ini?” kemukanya penuh tanda Tanya.
“Bila target 5,4% bisa jadi realisasinya hanya sampai di bawah 5 %. artinya lapangan kerja baru tidak akan tumbuh dan perekonomian nasional makin sulit.” ungkap Waketum Gerindra ini.
Selama tiga tahun terakhir saja, sambungnya, target pertumbuhan ekonomi yang dipatok itu cukup tinggi dan realisasinya meleset hingga 0,7 persen, realisasinya cuma tumbuh mendekati 5 persen.
“Bila lifting minyak bumi cuma 800.000 barel/day dan gas 1,2 juta barel setara minyak, maka impor minyak akan semakin meningkat,” urainya. 
Ini tambah Arief lagi, makin jauh dari harapan untuk menciptakan ketahanan energi dan bisa jadi tanda tanda Joko Widodo akan menaikan harga BBM, Elpiji serta tarif dasar listrik yang akan berdampak menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat.
“Bill harga minyak mentah dipatok 48 US dollar per barrel juga akan meleset, karena bisa jadi menurut Pengamat minyak dunia minyak mentah tahun 2018 akan berada dikisaran 55 US dollar/barrel, maka jika terjadi akan memberatkan fiskal anggaran tahun 2018,” paparnya.
Sedangkan terkait hutang luar negeri yang meningkat walaupun katanya digunakan untuk pembangunan infrastruktur multiyears, tambahnya, harus dikelola secara hati hati.
“Karena banyak proyek infrastruktur yang dibangun sebenarnya tidak banyak mendukung tumbuh nya perekonomian masyarakat, karena bahan baku dan alat alat untuk membangun semuanya berkonten import. Hanya semen, batu dan pasir aja asli produk Indonesia,” tukasnya.
Belanja negara dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018 mencapai Rp 2.204,3 triliun.”Dari total tersebut, pemerintah harus menyisikan untuk pembayaran bunga utang. Total bunga utang yang harus dibayar pada 2018 adalah Rp 247,6 triliun,” ungkapnya.
Ditambahkannya, ini juga yang harus menjadi perhatian Pemerintah Joko Widodo, karena sepertinya akan sulit juga membayar bunga hutang Pemerintah. Bisa jadi hutang dibayar dengan hutang karena infrastruktur yang dibangun belum bisa memberikan pendapatan bagi negara,” paparnya.
“Jika seperti ini prediksinya, prestasi Joko Widodo tahun anggaran 2018 di bidang Ekonomi tidak akan gemilang,” tutupnya.[Nicholas]

Comment