by

Sri Yuniar: Ada Apa Dengan Pernikahan Dini

Sri Yniar, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Jagat dunia maya dihebohkan dengan unggahan video pernikahan anak laki-laki berumur 14 tahun dan perempuan yang masih berumur 15 tahun.
Terungkap jika pernikahan dini tersebut terjadi di Desa Tungkap, Jalan Saka Permai, Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan pada Jumat (13/7/2018) lalu. Belakangan diketahui bahwa pernikahan dua sejoli ini akhirnya diputus tidak sah, Sabtu (14/7/2018) sore di Mapolsek Binuang.
Putusan tidak sah pernikahan itu dihadiri kedua mempelai, kedua keluarga mempelai, kepala desa, jajaran polsek Binuang, jajaran Polres Tapin, tokoh masyarakat dan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Binuang, Ahmad. Ahmad, mengatakan pernikahan dini itu tidak sah secara agama dan negara. Ia mengungkapkan bahwa keputusan itu diambil juga meminta keterangan penghulu kampung yang menikahkan kedua bocah itu.
Sainah, ibu dari mempelai pria pernikahan dini itu  mengatakan akan menempuh jalur pengadilan agama untuk mendapatkan status pernikahan dini yang diakui secara sah.
Kenyataan di lapangan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat. Dari 300,000 rumah tangga di seluruh provinsi di Indonesia, jumlah pernikahan dini di Indonesia pada 2015 mencapai angka 23%. Mari kita telaah, apakah tidak cukup usia menjadi salah satu penyebab tidak sahnya sebuah pernikahan??
Sebagai seorang Muslim, tentu kita harus menjadikan Islam sebagai timbangan dalam menilai suatu perbuatan. Apakah boleh atau tidak, baik atau buruk, halal atau haram. Tidak bisa berdasarkan atas fakta atau bahkan perasaan semata.
Pernikahan dalam Islam adalah Ibadah. Sebagaimana ibadah-ibadah yang lain, supaya bernilai pahala disisi Allah, tentu harus niatnya karena Allah dan caranya sesuai dengan yang disyariatkan. Yaitu harus terpenuhi padanya rukun-rukunnya serta adab-adabnya. Terpenuhinya rukun-rukun pernikahan kunci sahnya, sedangkan baiknya adab-adabnya akan menjadi sumber keberkahannya. 
Adapun rukun-rukun pernikahan
Agar pernikahan sah, harus terpenuhi empat rukunnya, ialah:
1. Adanya seorang wali yang sah yang menikahkan.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِىٍّ
“Pernikahan tidak sah tanpa wali (yang sah)” (HR. Khamsah selain an-Nasai, dishahihkan oleh Ahmad dan Ibnu Main, al-Irwa’ no: 1839)
2. Disaksikan minimal dua orang saksi.
Yaitu saat akad pernikahan dilangsungkan harus dihadiri minimalnya dua orang saksi  atau lebih dari kalangan laki-laki muslim yang adil pada dirinya dan orang lain. Yaitu bukan orang yang biasa melakukan dosa-dosa besar atau yang semisalnya. Berdasarkan firman Allah azza wajalla:
“dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. (QS ath-Thalaq: 2)
Meski ayat ini tentang thalaq dan ruju’, namun pernikahan dianalogikan kepada keduanya juga.
Selain itu juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِىٍّ وَشَاهِدَىْ عَدْلٍ
“Pernikahan tidak sah tanpa wali yang sah dan dua orang saksi yang adil”. (HR. al-Baihaqi, dishahihkan oleh Syeikh al-Albani dalam shahihul jami no: 7557)
3. Ungkapan akad pernikahan yang sah.
Yang dimaksud ialah shighotul aqdi. Yaitu yang dikenal dengan istilah ijab qobul. Ialah ucapan calon suami atau wakilnya ketika akad pernikahan, kepada wali calon istri, misalnya; “Nikahkan aku dengan putri bapak, atau saudri Bapak yang bernama Fulanah.” Kemudian wali atau wakilnya mengatakan, misalnya; “Aku nikahkan Anda dengan putriku atau dengan saudariku yang bernama Fulanah”. Kemudian si calon suami menjawab dengan megatakan, misalnya; “Aku terima pernikahannya dengan diriku”.
4. Adanya mahar.
Mahar atau mas kawin, atau ada yang menyebut sri kawin, yaitu sesuatu yang diberikan seorang suami kepada seorang istri agar halal bersenang-senang dengannya. Memberi mahar ini hukumnya wajib. Berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala:
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. (QS an-Nisa’: 4)
Apabila sebuah pernikahan telah terpenuhi keemapat rukun tersebut maka secara syari’at Islam pernikahan tersebut telah sah dan suami istri telah halal bersenang-senang dari dan dengan pasangannya.
Dalam kasus pembatalan pernikahan ini, sungguh sangat disayangkan jika pihak yang berwenang membatalkan pernikahan dini ini hanya karena usianya masih terlalu muda. Padahal syarat sah dan rukun pernikahan nya sudah terpenuhi.
Mudah-mudahan pihak pemerintah bisa lebih bijak lagi dalam memberikan keputusan. Sehingga tidak bertentangan dengan aturan Allah dan tidak ada pihak yang dirugikan. Wallahua’lam bish showab.[]

Comment

Rekomendasi Berita