by

Suhaeni, M.Si: Dibalik Kunjungan Menlu AS ke Indonesia

Suhaeni, M.Si
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, menjejakkan kaki di Indoneisa pada tanggal 4-5 Agustus 2018. Tiba di kantor Menlu sekitar 17.58 WIB. Didampingi beberapa delegasi langsung memasuki ke Gedung Pancasila seperti dilansir IDN Times (04/08/208).
Kedatangan Menlu AS dan delegasi bisnisnya tidak terlalu mendapat sorotan dari masyarakat Indonesia. Hal tersebut dikarenakan Indonesia sedang di tengah euforia bursa capres dan cawapres 2019. Semua mata tertuju pada isu tersebut. Terutama bakal cawapres yang berhasil menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. 
Juru bicara Kementrian Luar Negri Amerika Serikat, Heather Nauert, menyatakan bahwa Pompeo dalam lawatannya akan membahas tentang peningkatan keamanan, perdagangan bilateral dan investasi, serta menegaskan sentralis ASEAN. Namun, sebagai kaum muslimin seharusnya bisa berfikir mendalam ada apa di balik kunjungan pejabat AS tersebut. Apalagi lawatannya dilakukan menjelang tahun pemilu. Kegiatan ini seolah menjadi ritual wajib bagi pemerintahan AS. Jadi, siapapun rezim yang akan berkuasa harus mendapat restu dari tuannya (AS).
Indonesia adalah negeri dengan sumberdaya alam yang melimpah ruah. Negeri muslim terbesar di dunia yang memiliki posisi geopolitis yang sangat strategis. Sehingga Amerika Serikat harus memastikan bahwa rezim yang berkuasa nantinya haruslah yang mendukung kepentingannnya. Rezim yang mampu memperkuat cengkraman hegemoni ekonomi dan politiknya, khususnya di kawasan Indo-Pasifik.
Kepentingan Amerika Serikat di Kawasan Indo-Pasifik ( India dan Asia tenggara) merasa terusik dengan hadirnya China. China menjadikan kawasan ini sebgagai sasaran proyek ekonomi strategis raksasa one belt one rood alias jalur sutera maritimnya yang ekpansif dan visioner. Jelas ini telah mengganggu suksesnya proyek keamanan AS di kawasan ini. 
Apalagi jika kita lihat rezim yang berkuasa saat ini. Secara kasat mata lebih condong terhadap China dibandingkan Amerika Serikat. Banyak proyek-proyek investasi seperti pembangunan infrastruktur yang strategis dan sangat menguntungkan secara ekonomi dan politik di masa depan dikuasai oleh China. Ditambah lagi dengan gelombang impor WNA China yang membludak. Amerika Serikat pun sampai saat ini masih mencengkramkan kukunya di Indonesia, seperti pada proyek-proyek penguasaan sumberdaya alam berupa emas melalu PT Freeport dan migas oleh Chevron yang memang sudah jauh lebih dulu dikuasai AS melalui kedekatan hubungan dengan rezim-rezim terdahulu. Kondisi ini seolah menjadi pertanda berakhirnya hegemoni kapitalisme barat  (AS) dan pertanda awal bangkitnya hegemoni kapitalisme timur (China). 
Ancaman inilah yang memotivasi AS untuk mengevaluasi kembali hubungannya dengan Indonesia. Secara politis, pengaruh Amerika Serikat memang masih kuat di Indoensia. Salah satunya adalah dengan teknik mengunci dengan perjanjian internasional yang berada dibawah  pengaturannya. AS juga berusaha mengkondisikan agar Indonesia tetap mengadopsi nilai-nilai yang diusung Barat, seperti demokratisasi, liberalisasi, kapitalisme dan nilai-nilai pluralisme. Nilai-nilai inilah yang menjamin hegomoni AS di Indonesia.
Disebutkan dalam 2018 National Defense Strategi of USA bahwa keberadaan mitra dan sekutu (partners and alliance) AS adalah ikut bertanggungjawab untuk menyebarkan dan memprioritaskan nilai-nilai Amerika dan keyakinan dalam demokrasi (belive in democracy). Sementara dalam KTT Antar Agama di AS medio Juli 2018 lalu, Pompeo sempat menegaskan bahwa negara yang menjamin kebebasan beragama akan menarik investor lebih banyak.
Ketika Indonesia berhasil dikunci oleh utang dan perjanjian-perjanjian ekonomi serta dalam kehidupan sosial bermasyarakat berhasil diracuni oleh nilai-nilai Barat, maka AS akan tetap punya jaminan untuk tetap menancapkan kuku-kukunya di Indonesia. AS sangat menghawatirkan jika nilai-nilai ini luntur dan umat Islam mulai sadar akan bahayanya nilai-nilai tersbut. AS paham betul, jika umat Islam terpapar ideologi Islam, maka umat memiliki kekuatan besar untuk bangkit, sebagaimana pernah diterapkan selama 14 abad silam dalam sistem kekhilafahan.
Inilah yang nampak dalam agenda kunjungan Menlu AS dan delegasi bisnisnya ke Indonesia. Dalam pesan yang ditulis tangan langsung oleh Pompeo di buku tamu tertulis kalimat yang artinya kurang lebih: “Indonesia adalah mitra strategis yang hebat bagi Amerika Serikat. Kami menantikan perayaan 70 tahun hubungan diplomatik di tahun 2019“.  Pernyataan tersebut seakan menegaskan bahwa Indonesia selamanya harus berada bersama AS tapi bukan sebagai mitra apalagi sejajar dengan AS. Indonesia hanya menjadi negara pengekor yang wajib tunduk dan patuh terhadap aturan mainnya AS. 
Dengan demikian, inilah sejatinya tujuan sebenarnya kunjungan pejabat AS dan delegasinya. Ingin tetap melanggengkan hegemoninya di Indonesia. Dengan segala cara berusaha menjauhkan umat Islam dari ideologinya, yaitu Islam. Karena hanya dengan ideologi Islam yang dterapkan dalam negaralah yang mampu membumihanguskan hegemoni kapitalisme barat maupun timur di Indonesia.[]
Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan dosen Tetap di Universitas Singaperbangsa Karawang.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty + twenty =

Rekomendasi Berita