by

Susiyanti, S.E: UAS dan Larangan Ceramah “Pedas”

Susiyanti, S.E, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ulama menempati peran yang sangat penting dalam kehidupan kita, terutama dalam sejarah perubahan masyarakat. Tidak hanya itu ulama juga dijadikan sebagai tempat bertanya dalam berbagai masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 
Namun di era zaman now, ulama hanya dijadikan sebagai sarana untuk memberikan siraman rohani atau hanya berfokus pada agama saja, bukan yang lainnya. Mereka dilarang berceramah pedas (baca: politik), apalagi berpolitik praktis. 
Sebagaimana yang terjadi pada Ustaz Abdul Somad (UAS). Kepolisian Resor Tangerang Selatan lantas memberi catatan agar ceramah Ustadz Abdul Somad tidak mengandung unsur politik praktis dan hanya berfokus pada agama (Banjarmasinpost.co.id, 09/09/2018).
Bukan hanya itu, agenda ceramah UAS bahkan dikabarkan dibatalkan di beberapa daerah. Padahal, pelarangan terhadap ceramah ustaz Abdul Somad disebut bisa merugikan petahana Jokowi yang sedang bersiap bertarung di Pilpres 2019 (CNNIndonesia, 04/09/2018). Pemerintah dianggap membiarkan intimidasi dan ancaman bagi simbol moralis pada sosok Abdul Somad.
Pengamat politik asal Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedillah menyayangkan pelarangan ceramah yang dialami UAS. Padahal menurutnya, UAS hampir tidak memiliki cela dalam melakukan dakwah. 
Sebaliknya, Ubedillah memandang sikap pemerintah terkesan pasif dalam menindak kasus tersebut. Padahal, status UAS sebagai mubalig dan tokoh moralis yang mendapat ancaman seperti di kasus ini bisa melukai wibawa pemerintah.
Menyoal Peran ulama 
Ulama adalah pewaris para nabi. Atas dasar iman dan ilmunya, ulama akan senantiasa berjuang membimbing umat untuk senantiasa hanya menghamba kepada Allah SWT secara total. Karenanya, ulama harus menjadi penyambung lidah umat di hadapan para penguasa.
Pun, ulama juga harus menjadi pembimbing mereka menuju kepemimpinan yang mulia dengan Islam. 
Selain itu, dukungan ulama sejatinya hanya diberikan kepada mereka yang mau menegakkan akidah dan syariah Islam secara kâffah, bukan kepada mereka yang akan melanggengkan sekularisme (pemisahan agama dalam kehidupan) yang nyata-nyata selalu menjadi ancaman bagi keselamatan agama.
Di sisi lain, para pemimpin atau calon pemimpin harus dekat dengan ulama semata-mata demi meminta bimbingan menuju ridha Allah SWT, dan bukan demi ‘membeli’ ulama sekadar untuk meraih atau melanggengkan kekuasaan.
Ulama dan Ketidakberdayaan
Ada beberapa faktor dominan yang menyebabkan ketidakberdayaan ulama. Pertama, kurangnya kesadaran ideologis-politis. Kebanyakan ulama sekarang ini hanya fakih dalam masalah fikih, tafsir, ulumul Quran, hadis, dan ilmu-ilmu keIslaman yang lain; namun visi politis-ideologisnya amat lemah. Akibatnya, mereka sangat gampang dipolitisasi dan dimanfaatkan oleh politikus sekular.
Kedua, depolitisasi peran ulama. Dalam sistem pemerintahan demokratik-sekular, adanya depolitisasi ulama merupakan sebuah keniscayaan. Sebab, agama tidak boleh turut campur dalam urusan negara dan publik. Akibatnya, figur ulama tidak lagi memiliki peran politis di level masyarakat dan negara. 
Ketiga, ada upaya sengaja yang ditujukan untuk memarginalisasi peran ulama dari ranah politik dan negara. 
Keempat, kaum sekular juga berusaha keras memecah-belah kesatuan dan kesatuan para ulama, melalui isu khilafiyyah, perbedaan mazhab, Sunni-dan Syiah, dan lain sebagainya.
Sifat dan Karakter Ulama
Sifat dan karakter khas, antara lain, pertama, senantiasa berzikir kepada Allah dalam semua keadaan. Allah SWT berfirman, “Mereka adalah orang-orang yang selalu mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadan berbaring (TQS Ali Imran: 191).
Kedua, menjauhi penghambaan kepada thâghût. Allah SWT berfirman, “Mereka adalah orang-orang yang menjauhi thâghût, yaitu tidak menghambakan diri kepadanya” (TQS az-Zumar: 17).
Ketiga, senantiasa bertobat (kembali) kepada Allah, sebagaimana firman-Nya, “Mereka senantiasa kembali kepada Allah” (TQS az-Zumar: 17).
Keempat, selalu menghubungkan apa saja yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan seperti silaturahmi, loyal kepada sesama mukmin, mengimani semua nabi dan menjaga semua hak manusia. Allah SWT berfirman, “Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan untuk dihubungkan” (TQS ar-Ra’d: 21).
Kelima, seorang ulama pasti lebih suka berdekatan dengan seorang muslim yang taat daripada dengan mereka yang selalu memusuhi umat Islam. Ulama pun akan menjadi perekat umat, pionir ukhuwah islamiyah, dan tidak mungkin menjadi pemecah-belah umat.
Keenam, memiliki rasa takut kepada Allah dan keagungan-Nya, sebagaimana firman-Nya, “Mereka selalu takut kepada Tuhannya” (TQS ar-Ra’d: 21). Ulama hakiki akan memiliki rasa takut yang luar biasa kepada Allah. Dia akan lebih mudah menangis daripada tertawa terbahak-bahak. Tampak keanggunan dan kewibawaannya karena kekhusyukan yang memancar dalam dirinya.
Seperti itulah sosok ulama yang dibutuhkan umat. Yang bisa membimbing mereka untuk kembali pada Islam secara kâffah sambil terus-menerus memberikan dorongan dan dukungan terhadap perjuangan ke arah penegakkan syariat Islam. Umat membutuhkan ulama yang meneladani perjuangan Rasulullah SAW. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.[]

Penulis adalah anggota Muslimah Media Konawe

Comment

Rekomendasi Berita