by

Tawati: Lebih Banyak Mudhorat, Miras Harus Diberantas Tuntas

Tawati
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Miras masih beredar luas. Seperti dikutip Radarcirebon.com 3 hari yang lalu, polsek Pabuaran mengadakan operasi miras. Sepanjang bulan Februari hingga Maret mereka mengamankan sebanyak 10 jerigen penuh tuak dimana tiap jerigen berisi 25 liter. Total 250 liter tuak diamankan mereka (30/3/2019).
Sistem kapitalis menjadikan barang yang lebih banyak mudhorat dan diharamkan ini masih beredar luas di tengah masyarakat. Walau beberapa kali telah dilakukan operasi miras untuk menanganinya. Miras sulit diberantas. Inilah salah satu ciri khas sistem kapitalisme demokrasi. Kebijakan ditetapkan berdasar asas manfaat.
Manfaat yang dimaksud bukan hal yang membawa kebaikan bagi masyarakat, tapi hal yang bisa memberi keuntungan materi bagi orang tertentu meski pun bisa jadi membahayakan masyarakat luas. Miras yang sudah jelas menjadi biang kemaksiatan bukan diberantas sampai pabrik-pabriknya tapi malah diatur peredarannya. Karena masih adanya ‘manfaat’ pemasukan pajak dari miras ini.
Pelonggaran peredaran miras jelas menyalahi syariah. Islam tegas mengharamkan miras dan memerintahkan untuk dijauhi agar beruntung. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Karena itu jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan.” (TQS al-Maidah [5]: 90).
Rasul saw. menjelaskan bahwa semua minuman (cairan) yang memabukkan merupakan khamar dan haram, baik sedikit maupun banyak.
“Semua yang memabukkan adalah khamar dan semua khamar adalah haram” (HR Muslim). “Apa saja (minuman/cairan) yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya adalah haram” (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan).
Khamar harus diberantas tuntas dari masyarakat. Hal itu bisa dipahami dari laknat terhadap 10 pihak terkait khamar. Anas bin Malik ra. menuturkan bahwa Rasul saw. pernah bersabda, “Rasulullah saw. telah melaknat dalam hal khamar sepuluh pihak: yang memerasnya, yang minta diperaskan, yang meminumnya, yang membawanya, yang minta dibawakan, yang menuangkan, yang menjualnya, yang memakan harganya, yang membeli dan yang minta dibelikan” (HR at-Tirmidzi dan Ibn Majah).
Hadis ini sekaligus juga menunjukkan bahwa kesepuluh pihak itu berarti telah melakukan tindak kriminal dan layak dijatuhi sanksi sesuai dengan ketentuan syariah. Untuk orang yang minum khamar, sedikit atau banyak, jika terbukti di pengadilan, sanksinya adalah hukum cambuk sebanyak 40 atau 80 kali. Anas ra. menuturkan,  “Nabi Muhammad saw.pernah mencambuk orang yang minum khamar dengan pelepah kurma dan terompah sebanyak 40 kali.” (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan Abu Dawud).
Ali bin Abi Thalib ra menuturkan, “Rasulullah saw. pernah mencambuk (peminum khamar) 40 kali, Abu Bakar mencambuk 40 kali, Umar mencambuk 80 kali. Masing-masing adalah sunnah. Ini adalah yang lebih aku sukai.” (HR Muslim).
Untuk pihak selain yang meminum khamr, maka sanksinya berupa sanksi ta’zir. Bentuk dan kadar sanksi itu diserahkan kepada Khalifah atau qadhi, sesuai degan ketentuan syariah. Tentu sanksi itu harus memberikan efek jera. Produsen dan pengedar khamar selayaknya dijatuhi sanksi yang lebih keras dari orang yang meminum khamar sebab bahayanya lebih besar dan luas bagi masyarakat.
Dengan syariah seperti itu, masyarakat akan bisa diselamatkan dari ancaman yang timbul akibat khamar atau miras. Namun, semua itu hanya akan terwujud jika syariah diterapkan secara menyeluruh dalam sistem Khilafah Rasyidah sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi saw. dan dilanjutkan oleh para Sahabat dan generasi kaum Muslim dulu. Wallahu’alam[].

Penulis adalah Anggota komunitas Muslimah Revowriter, Majalengka

Comment

Rekomendasi Berita