by

Tri Wahyuningsih: Umar Bin Khattab RA, Sosok Pemimpin Tanpa Pencitraan

Tri Wahyuningsih, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dikutip dari halaman wikipedia.co, pemimpin adalah orang yang mengemban tugas dan tanggungjawab untuk memimpin dan bisa mempengaruhi orang yang dipimpinnya. Dengan menjadi seorang pemimpin berarti harus siap untuk pengayom rakyat. Artinya bukan hanya memimpin tetapi juga ikut ambil bagian dalam menyejahterakan rakyat. Seseorang yang telah dipilih rakyat untuk menjadi pemimpin baik dalam skala daerah maupun negara harusnya mampu mengemban tugas yang telah diamanahkan kepadanya dengan baik, benar dan bersungguh-sungguh mengurusi serta memberikan kehidupan yang sejahtera untuk setiap individu rakyat di wilayahnya. Bukan sebaliknya. 
Namun fakta dalam kehidupan saat ini berbicara sebaliknya, pemimpin yang diharapkan mampu mengurusi setiap kepentingan rakyat justru menjerumuskan rakyat dalam kehidupan sulit dan sengsara. Para pemimpin negeri hanya sibuk mengurusi kepentingan para kapital (pemilik modal), sedangkan rakyat dibiarkan mengurusi urusan hidupnya sendiri tanpa ada campur tangan negara kecuali hanya sebatas mengeluarkan kebijakan yang justru menambah penderitaan rakyat saja. 
Sebagai contoh, beberapa waktu lalu bahkan hingga saat ini masyarakat dihadapkan dengan harga telur dan daging ayam yang luar biasa mahal mencapai harga 32.000/kg telur dan 65.000/kg ayam. Gas elpiji yang dicabut subsidinya dan diganti dengan tabung gas yang baru dengan harga baru dan tentunya lebih mahal lagi. Dan sungguh masih banyak lagi permasalahan rakyat yang diabaikan oleh pemimpin negeri ini bahkan di anggap itu hanya masalah kecil yang akan selesai dengan jawaban lelucon ala mereka. “Harga telur naik karena Piala Dunia, Daging Ayam mahal karena Musim Haji”. Ironi.
Dan realita yang lebih mengerikan lagi adalah di saat rakyat berfikir ribuan kali hanya untuk sesuap nasi, pemimpin negeri sibuk melakukan pencitraan untuk membangun kembali imagenya dan meningkatkan elektabilitasnya di tengah-tengah masyarakat untuk pemilu mendatang. Pencitraan yang menghabiskan uang negara, di saat hutang kian berlimpah dan rakyat miskin satu persatu mati dalam keadaan kelaparan, uang negara dihambur-hamburkan untuk pencitraan semata demi sebuah kursi kekuasaan. 
Seperti kasus Freeport, dikutip dari halaman Detikfinance “Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier menyebut pengambilalihan 51% PT Freeport Indonesia (PTFI) hanya pencitraan. Sebab, pengambilalihan saham tersebut belum terjadi. “Kita sudah tahulah itu mengenai HoA (head of agreement), tadi yang baru baru deklarasi politik sebetulnya itu, tapi bukan ikatan hukum bisnis yang mengikat tapi slogan-slogannya luar biasa. Seperti baru pemerintahan Jokowi-lah, setelah 50 tahun ke Ibu Pertiwi, kita sekarang miliki 51 % dan semua gombal-gombal lain,” kata dia di DPR RI Jakarta, Kamis (26/7/2018). “Ini penyesatan pencitraan yang menurut saya agak keterlaluan,” sambungnya. “Mengambil kembali harta di rumah sendiri tapi dengan uang, bukankah itu hal yang menyedihkan sekaligus mengerikan. Menghabiskan uang untuk sebuah pencitraan yang sia-sia”. Miris.
Demokrasi Melahirkan Pemimpin Penuh Pencitraan 
Dalam pengertiaan demokrasi adalah sistem dengan slogan “dari rakyat, untuk rakyat dan kembali kepada rakyat”. Artinya pemimpin dipilih dari kalangan rakyat, memimpin untuk rakyat dan mengembalikan kebijakan kepada rakyat. Itu narasinya, realitanya adalah dari kapital untuk kapital kembali kepada kapital. Kapital atau pemilik modal adalah orang yang berperan penting dalam kebijakan-kebijakan yang ada saat ini, sebab Demokrasi sendiri ialah sistem politik yang lahir dari ideologi kapitalis sekuler. Demokrasi membentuk politikus menjadikan kekuasaan sebagai ajang eksistensi dan sumber materi. Seperti yang diungkapkan oleh Milton Friedmen dalam bukunya “Capitalism and Freedom” sistem ekonomi (kapitalis) merupakan buah dari kesepakatan politik. 
Maka sebuah kewajaran politikus harus piwai melakukan pencitraan bahkan saat berkuasapun mewujudkan janjinya juga “lips service”. Asal terealisasi, persoalan kualitas dan mampukah menyelesaikan persoalan rakyat, tunggu dulu, pilih lagi untuk periode berikutnya. Dan begitu terus untuk selanjutnya, jadi hanya berganti wajah pemimpin saja sementara kebijakan dan sikap kepemimpin sama saja. Pencitraan dan pencitraan semata, rakyat hanya bermanfaat ketika musim pemilu sudah dekat ya untuk sebuah suara yang akan menghantarkan mereka pada kursi kekuasaan. 
Demokrasi selalu dijadikan tempat berlindung bagi Kapitalisme dan Kapitalis butuh politikus yang bisa menjadi mesin pencetak keuntungan. Gelontoran dana selama pencalonan harus dikembalikan setelah politikus menjabat. Oleh sebab itu, politikus harus licin bak belut agar bisa bertahan dan eksis. Maka pencitraan adalah keniscayaan. Mengadaikan idealisme atau keyakinan, tidak lagi dipersoalkan. Yang wajib adalah menjabat, menjabat dan menjabat lagi. 
Islam Melahirkan Pemimpin Tanpa Pencitraan
Pemimpin Islam menjadikan kekuasaan sebagai ladang pahala. Melayani urusan hidup rakyat dengan sepenuh hati. Sampai dipastikan bahwa semua rakyat terpenuhi kebutuhannya dan hidup sejahtera. Rasulullah SAW bersabda yang artinya, Diriwayatkan Abdullah bin Maslamahdari Malik dari Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin umar r.a berkata : “Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan di minta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara akan dimintai pertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya ….”
Sebagaimana kisah masyhur yang dilakukan oleh Khalifah Umar Bin Khattab RA, memanggul bantuan sembako untuk janda dan anak-anaknya. Sekaligus, memasakkan dan menyuapi anak-anak janda tersebut sampai kenyang, wujud pertanggung jawabannya sebagai pemimpin. Bahkan, saat pelayan Sang Khalifah hendak membantu memanggul sejumlah bantuan yang akan diberikan kepada Ibu janda dan anak anaknya, jawaban tegasnya menyentak relung hati “….Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saja yang memikul karung itu….”
Dengan wajah merah padam, Umar menjawab, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”. Luar biasa. Hanyalah Allah yang membuat pemimpin Islam takut dan berharap hanya pada keridhoan Allah semata. Ideologi Islam sungguh telah tertancap kuat dan melebur dalam jiwanya, hingga menjadikan Umar ra sebagai pemimpin kaum muslimin yang luar biasa penuh kewibaan tanpa pencitraan.
Islam ideologi yang sempurna dan paripurna telah mangatur semua urusan hidup manusia pribadi, bagian dari masyrakat juga bernegara secara komprehensif dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Begitu juga terkait dengan sosok sosok pemimpin negara yang layak dipilih. Imam Al-Mawardi rahimahullah dalam kitab al-Ahkâm ash-Shulthaniyah menyebutkan syarat-syarat seorang pemimpin, di antaranya adalah Adil dengan ketentuan-ketentuannya, Ilmu yang bisa mengantar kepada ijtihad dalam menetapkan permasalahan kontemporer dan hukum-hukum, Sehat jasmani, berupa pendengaran, penglihatan dan lisan, agar ia dapat langsung menangani tugas kepemimpina, Normal (tidak cacat), yang tidak menghalanginya untuk bergerak dan bereaksi, Bijak, yang bisa digunakan untuk mengurus rakyat dan mengatur kepentingan negara., Keberanian, yang bisa digunakan untuk melindungi wilayah dan memerangi musuh. 
Dengan kriteria pemimpin tersebut, serta keimanan kepada Dzat Yang Maha Menghisab setiap perbuatan pemimpin muslim jauh dari pencitraan dan kerja sebatas lips service. Dan pemimpin selayaknya Umar bin khattab ra hanya akan lahir dari sistem Islam Kaffah yang menerapkan seluruh syariat Islam secara sempurna serta menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan manusia. [Wallahu’alam bis showab].[]

Penulis adalah Tenaga Pendidik Dan Anggota Komunitas Menulis Jambi

Comment

Rekomendasi Berita